Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Rencana jahat


__ADS_3

Mentari masih terus menggerutu, kakinya sudah pegal sedari tadi berdiri menunggu grabcar yang sudah ia pesan lima menit yang lalu. Sementara itu seseorang yang sedari tadi mengawasinya pun terlihat mulai jengah karena target masih berdiri di pinggir jalan seperti patung.


"Astaga... Kenapa lama sekali sih?" Oceh Mentari sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya.


"Sebaiknya gue jalan dulu deh, mungkin aja tuh mobil nongol dari ujung sono." Gumamnya sembari melangkahkan kedua kakinya. Seseorang menyeringai dari dalam mobil sana, ia mulai menghubungi seseorang dan memintanya untuk melakukan sesuatu sesuai dengan perintah bosnya.


"Lakukan sekarang, target sudah berjalan dan aku sangat yakin jika dia akan menolongmu." Perintah orang itu dengan nadanya yang dingin dan juga tatapan matanya yang begitu tajam menatap Mentari, seolah-olah Mentari sudah melakukan tindak kejahatan kepada bosnya itu.


Setelah memberi perintah, orang tersebut kembali menaruh ponselnya dan berkata. "Salahkan dirimu sendiri yang memiliki nasib buruk dan sudah menyinggung seorang perempuan iblis seperti Lisa."


Ya. Orang itu adalah Toni, laki-laki yang mendapat perintah dari Lisa untuk melenyapkan Mentari.


Baru beberapa detik Mentari melangkahkan kedua kakinya, ia melihat seorang perempuan tua dengan kaki yang pincang sedang berjalan menyeberangi jalanan itu. Meskipun jalanan itu nampak sepi, tetap saja itu sangat berbahaya. Mentari yang memiliki hati nurani pun langsung bergegas membantu si perempuan tua itu.

__ADS_1


"Biar saya bantu, bu." Ucap Mentari sembari memegang lengan perempuan tua itu.


"Terima kasih, nak." Jawab si perempuan tua itu sembari memperlihatkan senyuman palsunya.


Mentari hanya tersenyum sambil menggandeng tangan perempuan tua itu. Mentari sama sekali tidak mencurigainya, ia terus berjalan menyeberangi jalanan tersebut hingga akhirnya ia pun tiba di seberang jalan yang di tuju oleh ibu tua itu.


"Terima kasih ya, nak. Sudah mau bantu ibu menyeberang." Ibu tua itu kembali berterima kasih, wajahnya nampak sangat lemah dan kasihan.


Sebelum menyeberang, Mentari melirik kanan dan kiri terlebih dahulu, di sebelah kanan terdapat sebuah mobil yang di perkiraan hanya parkir saja. Sementara di sebelah kirinya ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang, namun sepertinya ia sangat mengenali mobil itu.


"Sepertinya aku pernah melihat mobil itu? Dimana, ya?" Ucap Mentari sembari menatap mobil yang sedang melaju itu.


Sementara itu di dalam mobil itu, ada dua laki-laki tampan yang sedang fokus dengan penglihatannya masing-masing. Dia adalah Egi si asisten yang kini sedang mengendarai mobil bosnya, dan satunya lagi adalah Jhon si laki-laki yang memiliki kepercayaan diri tingkat dewa itu.

__ADS_1


Mobil yang di kemudikan oleh Egi pun mulai melewati tempat dimana Mentari sedang berdiri saat ini. Egi yang melihat Mentari pun lantas membuka suaranya. "Bos, sepertinya barusan saya melihat nona Mentari." Ucapnya yang membuat Jhon langsung mengalihkan pandangannya.


"Mentari? Dimana dia?" Tanyanya sembari menatap ke luar jendela.


"Itu bos di pinggir jalan yang kita lewati barusan." Jawab Egi sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi? Cepat! Hentikan mobilnya." Perintah Jhon terdengar sangat kesal dan juga sorot matanya yang tajam. Egi langsung memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, sementara itu, Jhon langsung meraih pintu mobilnya, kemudian ia turun dan berjalan cepat menghampiri Mentari.


Namun sayangnya, Mentari sudah berjalan dan mulai menyeberangi jalan raya itu, sebuah mobil yang di perkiraan hanya sekedar berhenti saja, kini sudah melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Jhon yang melihat mobil itupun segera berlari berniat untuk menyelamatkan Mentari, sementara Mentari terlihat begitu terkejut dan seketika ia terdiam di tengah jalanan itu. Tiba-tiba saja kepalanya sakit, bayangan-bayangan masalalunya mulai mengelilingi isi kepalanya. Kecelakaan yang mengakibatkan dirinya amnesia, obrolannya dengan pengkihanat itu semuanya bergabung menjadi satu dalam pikirannya.


"Argh.... " Mentari berteriak sembari memegang kepalanya, sementara mobil itu semakin dekat ke arahnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2