Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Bos sama sama asisten sama saja


__ADS_3

"Gue masih bisa mendengar, Bambang! Lagian gue udah tobat jadi bajingan." Seru Robert sambil menatap kesal sahabatnya itu.


Jhon mendengus kesal, kemudian ia berjalan menuju kursi kebesarannya, lalu menjatuhkan bokongnya. "Makannya kalau datang jangan kayak jelangkung. Lo gak bisa ketuk pintu dulu hah? Lo kira ruangan gue itu tempat umum, asal masuk aja." Gerutu Jhon sembari bersidekap masih menatap kesal sahabatnya itu.


"Idih si kutukupret, lo nya aja yang keasikan menggila, sampai-sampai gue ketuk pintu pun gak lo denger. Bahkan asisten datar lo pergi aja, lo kagak nyadar." Ucap Robert sembari menjatuhkan tubuhnya di atas kursi yang berada di depan meja kerja Jhon.


"Lupakan! Ada urusan apa lo datang ke perusahaan gue?" Tanya Jhon mengalihkan pembicaraannya.


"Gue cuma pengen lihat muka lo aja. Apakah masih sama seperti dulu yang selalu kaku kayak kanebo kering. Ah ternyata lo sudah berubah Jho." Ucap Robert dengan kedua tangan menyanggah dagunya menatap lurus sahabatnya itu. "Tapi kenapa lo berubah jadi gila, Jho? Setan mana yang ngerasukin manusia dingin kayak, lo. Gue pengen ajak kenalan." Imbuhnya yang mendapat sentilan menyakitkan dari Jhonatan di keningnya.


"Aaau... Sakit anjir." Dengus Robert sambil mengelus kening bekas sentilan sahabatnya.


"Cemen! Makannya kalau ngomong di saring, Bambang! Lo kira ada setan yang berani masuk ke dalam diri gue hah!" Sentak Jhon sembari mengangkat satu tangannya kembali dan bersiap untuk mendaratkannya di kening mulus sahabatnya itu.

__ADS_1


"Mau apa lagi, lo? Mau sentil jidat gue lagi hah! Oh tidak semudah itu, Udin." Seru Robert sembari menepis tangan Jhon yang sedikit lagi akan menempel di jidatnya.


"Ckk... Lo kalau tidak ada urusan lebih baik lo balik ke habitat, lo. Jangan ganggu gue." Ucap Jhon sembari meraih telpon yang berada di atas meja kerjanya, lalu menghubungi asistennya.


"Sialan. Dasar sahabat gak punya hati, dulu lo ninggalin gue sama Eric di Amerika. Sekarang lo malah ngusir gue. Dasar kanebo kering." Dengus Robert sambil menatap kesal ke arah Jhon.


"Egi, datang ke ruanganku SEKARANG." Perintah Jhon tanpa memperdulikan ucapan sahabatnya barusan. Setelah memberi perintah, Jhon pun menaruh kembali telpon itu di atas meja kerjanya.


"Woy!!! Gue lagi ngomong sama lo, ya. Malah di kacangin." Seru Robert sembari menggebrak meja kerja Jhon pelan.


"Ckk... Ngeselin, lo." Dengus Robert sembari bangkit dari kursinya. "Dahlah gue balik dulu, nyesel gue datang kemari." Ucapnya sambil merapikan kemeja hitamnya. "Bye, bye jomblo." Robert kembali berucap sambil melambaikan satu tangannya, kemudian ia pun segera pergi melangkahkan kakinya meninggalkan Jhon yang nampak kesal saat mendengar kata jomblo yang keluar dari mulut sahabatnya itu.


"Dasar sahabat gak tahu diri, ngatain gue jomblo, lo sendiri jomblo." Teriak Jhon dengan kesal membuat Robert seketika menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap dirinya.

__ADS_1


"Gue baru jomblo satu bulan, bro. Lah elu udah berapa tahun menjomblo? Apa gak karatan tuh si otong." Ucap Robert semakin membuat Jhon bertambah kesal. Jhon mengambil pulpen yang ada di atas mejanya, lalu melemparkannya ke arah si jomblo itu, namun sayangnya lemparannya meleset, karena si jombli itu sudah berlari menuju pintu ruangannya. "Eits. Gak kena."


"Sialan! Awas saja kalau lo berani nampakkin wajah lo yang jelek itu, gue semen tempelin batu bata sekalian."


"Jangan marah-marah, bro. Nanti cepet tua jadi susah cari jodoh. Sudahlah gue mau pergi dulu, besok gue datang lagi. Bye." Seru Robert sebelum ia menutup pintu ruangan itu dengan lumayan kencang membuat Egi yang baru saja tiba di depan pintu ruangan itu berjingkat kaget.


"Apa anda tidak bisa menutup pintunya dengan pelan? Bagaimana kalau pintu ini rusak? Apa anda mau menggantinya?" Ucap Egi membuat Robert terkejut.


"Terlalu berlebihan sekali." Dengus Robert sambil menatap kesal asisten sahabatnya itu. "Apa kau tidak tahu siapa aku?" Tanya Robert sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak penting bagi saya, tuan."


"Kau.... "Robert menunjuk Egi kesal, sementara yang di tunjuk hanya diam seperti patung pancoran. "Aish kenapa asisten dan bos sama-sama menyebalkan?" Gerutu Robert sambil berlalu dari hadapan asisten datar itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2