
Waktu berlalu begitu cepat, semenjak pertemuan terakhirnya dengan Mentari, Jhon nampak seperti orang yang berbeda. Dia tidak lagi tersenyum sendirian, dia tidak lagi menabrak tembok yang ada di rumahnya, bahkan wajahnya terlihat sangat dingin melebihi gunung es yang berada di sisi barat Beting Es Ronne Antartika. Berlebihan sekali.
Egi sebagai asistennya pun merasa sangat heran, mengapa bosnya itu bisa berubah drastis? Setan apakah yang sedang merasuki dirinya? Ah dengan memikirkannya saja membuat Egi pusing sendiri, sifat dinginnya Jhon jauh lebih menakutkan jika di bandingkan dengan sifat gilanya Jhon yang selalu tersenyum sendirian sambil menggumamkan nama seorang perempuan. Aish kenapa juga Egi harus pusing, toh itu bukan urusan dirinya juga. Bukankah seharusnya Egi senang? Ah ntahlah.
"Bos, hari ini ada pertemuan penting dengan klien kita." Ucap Egi selalu sopan dan ramah.
"Hmm." Jawab Jhon sambil tetap fokus dengan pekerjaan yang ada di depannya.
__ADS_1
"Pukul tiga sore di Blue Sky Hotel Kemayoran, bos." Egi kembali berkata lagi meskipun Jhon tidak bertanya dan hanya bergumam hmm seperti Limbad.
"Hmm."
Egi menghela nafas beratnya, rasanya ia seperti berbicara dengan master Limbad. Sangat menyebalkan. "Kalau begitu saya permisi dulu, bos." Egi memutuskan untuk pergi dari ruangan bosnya itu ah sejujurnya ada satu hal yang sangat penting yang ingin ia sampaikan kepada bos hmmnya itu, namun ia mengurungkan niatnya, karena ia tidak ingin mendengar hmm, hmmm lagi dari mulut bosnya.
"Bagaimana sidang perceraian Mentari? Apakah semuanya berjalan dengan lancar? Bajingan itu sudah menyetujuinya kan? Hari ini mereka resmi berpisah kan?" Tanya Jhon sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menyanggah dagunya menatap tajam asistennya.
__ADS_1
Egi nampak tersenyum, ia berpikir jika Jhon sudah melupakan perempuan itu karena beberapa minggu ini Jhon sama sekali tidak membahas atau menggumamkan nama perempuan itu, namun nyatanya ia salah besar. Jhon masih perduli dengan perempuan itu, bahkan Jhon masih ingat jika hari ini adalah hari sidang perceraian perempuan itu dengan suaminya yang brengsek.
"Anda tenang saja, bos. Semuanya berjalan dengan sangat lancar. Karena hari ini pak Permana pun hadir di acara persidangan itu. Anda tahu jika Alex tidak akan bisa melawan papanya, apalagi bukti-bukti yang di miliki oleh nona Mentari sangatlah kuat. Jadi Alex tidak bisa lagi mengelak, dan ia terpaksa harus menerima keputusan hakim hari ini." Jelas Egi membuat Jhon tersenyum penuh kemenangan.
Jhon spontan berdiri dan berteriak yes layaknya seorang anak kecil yang mendapatkan lotre. Egi yang melihatnya pun langsung melongo, apakah benar itu adalah bosnya yang beberapa minggu ini selalu bersikap dingin?
"Akhirnya penantianku selama ini tidak sia-sia. Aku harus berterima kasih sama pak Permana." Gumam Jhon di iringi dengan senyumannya yang manis seperti dulu lagi. "Mentari, akhirnya aku bisa bebas menemuimu kapan pun yang aku mau, akhirnya aku bebas dari penderitaanku yang selalu merindukanmu namun tidak bisa menemuimu. Bahkan untuk menghubungimu pun aku harus berpikir keras, karena jika aku selalu menghubungimu, aku pasti tidak akan bisa mengontrol perasaanku sendiri. Bisa-bisa aku menggila." Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.