Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Sidang pertama


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana Mentari dan Alex akan memulai sidang pertamanya. Mentari sudah duduk di kursi bersama sang pengacara dan juga sang mama yang selalu menemaninya, sementara itu Alex baru saja memasuki ruangan persidangan itu.


Wajah Alex nampak kusut, sejujurnya ia tidak ingin pergi ke persidangan itu, akan tetapi ini adalah kesempatan bagi dirinya untuk bertemu dengan Mentari. Alex datang di temani oleh mamanya bu Widia, wajah bu Widia nampak marah ketika melihat Mentari duduk dengan raut wajah yang tenang seperti biasanya.


Sambil berjalan, Alex terus menatap istrinya, hatinya begitu sakit, ingin rasanya ia memeluk istrinya saat itu juga, namun sayangnya ia tidak bisa melakukannya. "Mentari, aku sangat merindukanmu." Batin Alex frustasi.


"Duduk, Alex. Jangan menatapnya terus." Perintah bu Widia dengan kesal karena putranya itu masih berdiri sambil menatap menantunya yang menurutnya sangat kurang ajar itu.


Alex tersadar, kemudian ia pun segera duduk di kursi khusus untuk dirinya. "Aku tidak akan pernah menyetujui perceraian ini, aku tidak ingin berpisah dengan istriku." Ucap Alex dalam hati.


"Berhenti menatapnya, Alex. Sidangnya akan segera di mulai." Bisik bu Widia kepada putranya itu. Alex menghela nafas beratnya, dengan terpaksa ia pun mulai mengalihkan pandangannya ke arah depan dimana pak hakim duduk di kursinya. Sidang pertama pun segera di mulai.


Sementara itu di tempat lain terlihat seorang laki-laki tampan yang tak lain adalah Jhon, tengah mondar mandir tidak jelas, wajahnya terlihat gelisah, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya. Sementara sang asisten masih setia berdiri di dekat meja kerja sambil menatap tingkah aneh bosnya tersebut.

__ADS_1


"Bagaimana persidangannya? Apakah berjalan dengan lancar?" Jhon bergumam sembari melangkahkan kakinya kesana kemari. "Bagaimana ini, kenapa aku jadi deg-degan begini, sih?" Jhon kembali bergumam, ia benar-benar merasa tidak tenang sekaligus takut jika proses persidangan sang pujaan hantinya itu tidak berjalan dengan lancar.


"Bos...." Panggil Egi yang mulai jenuh melihat tingkah bosnya itu.


Jhon sama sekali tidak menanggapi panggilan Asistennya, ia terus melangkahkan kedua kakinya kesana dan kemari, membuat Egi yang saat ini sedang membawa beberapa berkas di tangannya kembali bersuara.


"Bos! Ada beberapa berkas yang harus anda tanda tangani sekarang."


Egi mulai mendengus kesal, namun ia masih tetap setia berdiri dan kembali mengeluarkan suaranya. "BOS! ADA BEBERAPA BERKAS YANG HARUS ANDA TANDA TANGANI SEKARANG JUGA." suara Egi begitu lantang dan suksea membuat Jhon berhenti dan langsung menatap asistennya.


"Apa kau pikir aku ini budeg sampai-sampai kau berteriak hah!" Seru Jhon dengan tatapan matanya yang tajam.


"Maaf, bos. Kalau saya tidak berteriak, anda pasti masih mondar mandir tidak jelas, sedangkan berkas-berkas ini harus anda tanda tangani sekarang juga." Jawab Egi sambil meletakkan berkas-berkas tersebut di atas meja kerja bosnya.

__ADS_1


Jhon tidak menjawab, ia segera melangkahkan kedua kakinya menuju kursi kebesarannya dan langsung mendaratkan bokongnya, ia segera meraih berkas-berkas itu dan mulai menanda tanganinya.


"Siang ini ada pertemuan dengan pemilik perusahaan William's, tempatnya sudah saya atur, dan.... " Ucapan Egi tercekat di tenggorokkannya.


"Apa tidak bisa di undur?" Tanya Jhon menyela ucapan sang asisten.


"Sepertinya tidak bisa, bos. Pertemuan kali ini sangatlah penting, bos. Jadi.... " Lagi, ucapan Egi tercekat di tenggorokkannya.


"Baiklah, kau boleh keluar, sekarang." Ucap Jhon sambil menyerahkan berkas-berkas yang sudah selesai ia tanda tangani.


Egi mengangguk sembari mengambil berkas-berkas tersebut, lalu ia pun berpamitan dan pergi membawa kedua kakinya keluar dari ruangan sang bos.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2