Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Hamil tujuh bulan


__ADS_3

Waktu cepat berlalu, tanpa terasa kehamilan Mentari kini sudah menginjak usia tujuh bulan saja. Selama masa kehamilannya, Jhon selalu menjadi suami siap siaga, bahkan terkadang ia bekerja di rumahnya demi menjaga istri tercinta dan juga bayi dalam kandungannya. Jhon tidak ingin jika sesuatu terjadi pada istrinya, sementara itu dia tidak ada di dekat sang istri, maka dari itu ia memutuskan untuk bekerja di rumahnya saja.


Meskipun ada pelayan yang selalu menemani dan melayani Mentari, tetap saja Jhon merasa cemas, dan tidak tenang meninggalkan sang istri yng kini sedang hamil tujuh bulan.


Selama tujuh bulan kesehatan pak Geri pun semakin membaik, bahkan kini ia sudah kembali ke tempat kelahirannya, yaitu Indonesia. Bahkan dia sudah mulai bekerja meskipun di rumah. Mentari pun sudah mulai memfokuskan dirinya pada kehamilannya, ia tidak lagi memimpin perusahaan sang papa, karena permintaan suami bucinnya itu. Kini perusahaan itu kembali lagi ke tangan pak Geri. Mungkin suatu saat nanti perusahaan itu akan kembali lagi ke tangan Mentari, jika bayi dalam kandungannya sudah lahir dan tentunya sudah besar.


Jhon nampak sedang serius menatap layar komputer yang ada di atas pangkuannya, smentara itu, sang istri sedang duduk manis di sampingnya sambil menikmati rujak asam.


Suara bel pintu membuat Jhon dan juga Mentari langsung melempar pandangannya satu sama lain, ntah siapa yang bertamu di siang bolong seperti ini, membuat pasangan itu penasaran.


"Biar aku bukakan pintunya dulu." Ucap Mentari sambil meletakkan rujak itu di atas meja dan berniat untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Jangan, sayang. Biar si Ina atau si bibi saja yang membukakan pintunya." Seru Jhon sembari menarik tangan sang istri pelan.

__ADS_1


"Kamu lupa ya, si Ina sama Ani kan sedang pergi untuk belanja bulanan, sayang. Sedangkan si bibi lagi masak di dapur. Jangan mengganggu pekerjaannya, kasian dia." Ucap Mentari sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya.


"Kalau begitu biar aku saja yang membukakan pintunya, ya. Kamu duduk saja di sini, dan jangan kemana, mengerti." Perintah Jhon dengan nada suaranya yang selalu lembut. Tak lupa ia juga memberikan kecupan hangatnya di kening sang istri.


Mentari hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, sementara Jhon langsung meletakan komputernya di atas meja, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu utama.


Setelah tiba di depan pintu, Jhon pun langsung membuka pintu tersebut, dan ternyata yang bertamu di siang bolong itu adalah Robert dan juga Ricard sahabat Jhon.


"Hay! Bro. Sudah lama kita tidak bertemu." Seru Robert sembari memeluk Jhon dan menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


"Hmmm. Ngapain lo berdua datang kemari? Apa kalian tidak ada kerjaan?" Ucap Jhon sembari melepaskan pelukan Robert sahabatnya itu.


"Gue ambil cuti, jadi gue tidak ada kerjaan." Jawab Robert sambil mengedikkan bahunya.

__ADS_1


"Dan gue lagi kabur dari kencan buta yang di buat sama bokap nyokap gue. Makannya gue datang kesini nengokkin calon ponakan gue." Ucap Ricard sembari memperlihatkan barang bawaannya.


"Siapa lo panggil anak gue calon ponakan lo, heh! Lo kawin dulu sama sodara gue, baru lo panggil anak gue nanti ponakan lo." Seru Jhon yang mendapat dengusan kesal dari Ricard.


"Dengerin tuh kata si raja bucin. Makannya lo itu kalau di cariin jodoh jangan nolak, cepetan nikah terus punya bayi lucu dan imut seperti gue." Timpal Robert yang mendapat toyoran dari Ricard.


"Eh, Bambang! Apa lo lupa, kalau lo itu jomblo dan belum menikah sama kayak gue hah! Bisa-bisanya lo nyuruh gue nikah, sementara lo sendiri masih jomblo. Ngaca woy ngaca." Ucap Ricard gemas.


"Kalian mau berantem? Jangan di sini. Pergi sono jangan ganggu ketenangan istri gue, ngerti." Seru Jhon sambil berkacak pinggang menatap dua mahluk menyebalkan itu.


Ricard dan Robert pun langsung menutup mulutnya rapat-rapat, ia tidak sadar jika saat ini ia sedang berada di kediaman si raja bucin itu. Mereka harus menjaga mulut agar tidak berisik, atau mereka akan di tendang pantatnya oleh si raja bucin itu.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2