Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Apa anda lupa


__ADS_3

Mentari langsung menghentikan aktifitasnya, ia menatap Rega penuh tanda tanya.


"Memangnya, siapa klien kita kali ini? Bukankah tidak apa-apa jika mereka bertemu denganmu saja. Lagian, mereka pasti tahu kamu siapa kan?" Ucap Mentari merasa aneh. Karena biasanya tidak ada masalah jika klien perusahaan papanya bertemu hanya dengam Rega saja. Tetapi, mengapa klien satu ini ingin bertemu langsung dengan dirinya?


"Dia putra dari pemimpin Perusahaan Alexander Group. Mungkin saja sebentar lagi dia akan menjabat sebagai pemimpin perusahaan menggantikan tuan Xander." Jelas Rega sembari mengambil berkas yang sudah di tanda tangani oleh Mentari.


"Oh, aku tidak kenal." Sahut Mentari tidak peduli.


"Meskipun tidak mengenalnya, kamu tetap harus menemuinya, Tari. Bagaimana pun juga, dia salah satu klien penting kita." Ucap Rega tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik putri bosnya itu.


"Ok, baiklah. Kamu atur saja semuanya." Jawab Mentari sembari memberikan berkas yang sudah ia periksa dan tanda tangani.


"Baiklah, sore ini pukul 15.30 di restaurant, Seribu Rasa." Ucap Rega sambil menerima berkas yang di berikan oleh Mentari.


"Hmm, ok." Jawab Mentari singkat dan padat.


"Kalau begitu aku keluar dulu. Ingat! Jika ada yang masih tidak kamu pahami, kamu panggil saja aku." Ucap Rega sebelum ia berlalu dan pergi dari ruangan putri bosnya itu. Mentari hanya menganggukkan kepalanya, tanpa menatap asisten kepercayaan papanya itu.

__ADS_1


***


Perusahaan J-A Group.


Egi memasuki ruangan bosnya, kemudian ia berjalan dan berdiri di hadapan sang bos yang terlihat masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas meja kerjanya.


"Bos, sudah waktunya kita berangkat sekarang." Ucap Egi membuat Jhon seketika mengerutkan keningnya bingung.


"Berangkat kemana, Eg?" Tanya Jhon bingung.


"Apa anda lupa, kalau hari ini kita ada pertemuan penting dengan pemilik perusahaan Jeco-Group di restaurant Seribu Rasa."


"Saya sudah memberitahu anda, bos. Mungkin anda saja yang lupa. Bahkan semalam saya sudah mengingatkan anda melalui pesan singkat." Seru Egi sedikit kesal.


"Maksudmu, kamu memberitahuku lewat mimpi, begitu?" Ucap Jhon tak kalah kesalnya. Ia sama sekali tidak ingat bahwa Egi sudah memberitahu dirinya jika hari ini akan ada pertemuan dengan klien pentingnya.


"Bos, anda bisa cek ponsel anda, kalau anda tidak percaya." Usul Egi tetap memperlihatkan tampangnya yang datar meskipun dirinya sangat kesal.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kalau tidak ada, gajimu akan aku potong." Ucap Jhon sembari meraih ponselnya yang berada di atas meja kerjanya. Jhon mulai memeriksa ponselnya, wajahnya nampak semakin kesal karena yang di ucapkan oleh Egi memanglah benar.


*Bos, jangan lupa, besok kita ada pertemuan penting dengan klien kita di restaurant Seribu Rasa.*


Setelah membaca pesan itu, Jhon menaruh ponselnya ke dalam saku celananya, kemudian ia mengambil jas yang ia letakkan di bagian belakang kursi kebesarannya.


"Mari kita pergi." Ajaknya setelah ia selesai memakai jasnya.


"Bagaimana dengan gaji saya, bos? Apakah anda masih ingin memotongnya?" Tanya Egi yang mendapat tatapan tajam dari bosnya itu.


"Apa kau sangat menginginkan aku memotong gajimu?" Jho berbalik nanya sembari bersidekap menatap asistennya itu.


"Tentu tidak, bos. Tapi.... "


"Kalau tidak mau, sebaiknya kau tidak usah banyak bicara lagi, mengerti." Sela Jhon dengan kesal. Egi langsung menutup mulutnya rapat, ia tidak ingin gajinya di potong hanya karena masalah yang menurutnya sangat sepele itu.


"Ayo kita pergi." Ajak Jhon kembali sembari berjalan melewati asisten datarnya itu. Egi hanya mengangguk, kemudian ia pun bergegas melangkahkan kedua kakinya mengekori bos dingin bin ngeselin itu.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2