
Seorang perempuan cantik memakai pakaian sexy, sedang duduk di salah satu cafe yang berada di Jakarta. Dia terlihat sedang menunggu seseorang, karena sedari tadi ia terus menatap pintu cafe tersebut.
Beberapa menit kemudian, seorang laki-laki dengan pakaian serba hitam memasuki cafe itu. Laki-laki itu berjalan menghampiri perempuan cantik itu membuat sudut bibir perempuan itu seketika mengembang.
"Sudah lama tidak bertemu." Ucap si laki-laki itu sembari duduk di kursi yang ada di hadapan perempuan cantik itu.
"Hmm, kamu pasti tahu bukan alasanku mengapa aku memanggilmu kemari." Tanya si perempuan itu dengan sudut bibir yang masih mengembang.
Laki-laki itu terkekeh pelan, ia tentu saja tahu mengapa perempuan itu tiba-tiba saja memanggilnya, tanpa ada angin dan hujan.
"Aku tebak, kamu pasti memiliki seorang musuh, dan kamu ingin aku membunuhnya, bukan." Ucap si laki-laki itu tepat sasaran.
Perempuan cantik itu tertawa, ia memberikan segelas minuman yang sudah ia pesan kepada si laki-laki itu.
__ADS_1
"Seratus, buat kamu. Aku memang ingin kamu melenyapkan seseorang yang sudah membuatku hancur dan menggagalkan rencanaku selama ini." Perempuan itu meraih gelas minumannya, kemudian meneguknya secara perlahan. "Aku ingin kamu membunuhnya, terserah dengan cara apa kamu membunuhnya, yang jelas aku ingin dia lenyap dari muka bumi ini." Ucapnya penuh kebencian.
"Jadi siapa yang ingin kamu lenyapkan itu, apakah dia seorang perempuan? Atau dia seorang laki-laki?" Tanya laki-laki sambil menatap perempuan yang ada di hadapannya.
"Masih perempuan yang sama, dia adalah Mentari. Aku ingin kamu benar-benar menghilangkan perempuan sialan itu. Karena jika dia masih hidup, aku tidak akan pernah bisa bahagia." Ucap perempuan itu yang tak lain adalah Lisa.
"Jadi dia masih hidup? Bukankah kecelakaan itu... " Laki-laki itu terdiam saat jari telunjuk Lisa menempel di bibirnya.
"Jangan bahas masalah itu lagi."
"Tenang saja, aku pasti akan melakukannya dengan baik, asalkan... "Laki-laki itu menatap Lisa bak singa kelaparan, dan Lisa sangat tahu hal itu, toh dulu juga mereka sering melakukannya.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan. Dan aku pasti akan memberimu sesuatu yang kamu inginkan itu." Ucap Lisa dengan kedipan mata yang menggoda.
__ADS_1
"Tapi! Aku mau kamu menyelesaikan tugasmu terlebih dahulu. Mengerti."
"Mengerti, jadi kita deal." Laki-laki itu mengulurkan tangan kanannya kepada Lisa, dan Lisa pun menyambutnya dengan senang hati.
"Mentari, tunggu saja kematianmu." Batin Lisa sembari tersenyum menyeramkan.
Sementara itu di tempat lain, Mentari tertegun ketika melihat laki-laki tampan yang begitu di kenalinya sedang mengobrol dengan sang mama. Keduanya terlihat begitu akrab seperti kenalan lama saja.
"Kenapa dia bisa ada di sini? Apa yang ingin dia lakukan?" Batin Mentari sembari menatap laki-laki itu yang tak lain adalah Jhon, laki-laki yang kadang muncul di mimpi dan juga otak kecilnya. Laki-laki yang sudah dua bulan lebih tidak pernah lagi ia lihat.
"Non Mentari sudah pulang." Sapa si bibi membuat mama Natalia dan juga Jhonatan langsung menatap ke arahnya.
Seketika detak jantung Jhon berdegup dengan sangat cepat, perempuan yang selalu ia rindukan kini sedang berdiri sambil menatap dirinya. Jika mama Natalia tidak ada, mungkin saja Jhon sudah memeluknya dengan erat, menciumnya melepaskan rasa rindu yang selama ini selalu menyelimuti dirinya.
__ADS_1
Bersambung.