Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Si raja bucin yang berlebihan


__ADS_3

Restaurant


Rey berjalan dengan langkah kaki yang cepat keluar dari restauran itu, matanya fokus menatap layar ponsel yang ia genggam di tangannya, bahkan ia tidak menyadari jika di depannya ada seorang gadis yang sedang berjalan menuju pintu masuk restauran tersebut, alhasil, tabrakan itu pun terjadi, dan gadis itu terjatuh dengan bokong mendarat sempurna di atas lantai.


"Aaaw." Pekik gadis itu sambil mengusap pan tat nya yang terasa sakit.


Rey langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel itu, ia menatap gadis yang sedang duduk di atas lantai dengan kesal.


"Kalau jalan itu hati-hati," seru Rey dengan suara yang dingin membuat gadis itu mendongak dan menatap tajam ke arah Rey.


"Harusnya kamu yang hati-hati, kamu tidak lihat aku jatuh seperti ini gara-gara kamu heh!" Sentak gadis itu tak kalah kesalnya.


"Dasar brengsek. Bukannya minta maaf, malah nyalahin orang."Gerutu gadis itu sambil bangkit dari atas lantai itu.


"Kamu bilang apa tadi? Aku brengsek?" Rey semakin menatap kesal gadis cantik yang ada di hadapannya itu, kini ponselnya ia taruh ke dalam saku celananya.


"Iya, Breng sek! Kenapa! Tidak suka aku panggil kamu brengsek hah?" Seru gadis itu dengan lantang.


"Jaga mulutmu, atau aku akan memotong lidahmu itu." Ucap Rey dengan kesal.

__ADS_1


"Ck... Kamu pikir aku takut sama kamu hah! Tidak sama sekali. Dari pada aku meladeni laki-laki breng sek sepertimu, lebih baik aku pergi."


Setelah mengatakan hal itu, gadis cantik itu pun pergi meninggalkan Rey yang nampak semakin kesal. Baru kali ini ada gadis yang menyebutnya brengsek. Benar-benar meski di kasih pelajaran.


Rey menatap kepergian gadis itu dengan seringai menyeramkan, sepertinya ia memiliki rencana untuk membalas gadis songong tersebut.


"Lihat saja, aku pasti akan membuat mulut pedasmu itu memohon maaf kepadaku. Tunggu saja nanti," batin Rey sambil melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan restaurant tersebut.


Setelah kejadian tabrakan itu, keduanya pun sering sekali bertemu tanpa sengaja, terkadang mereka bertemu tanpa sengaja di cafe, mall, restaurant, ataupun tempat lainnya, seolah-olah takdir sudah menggariskan keduanya untuk berjodoh.


Rey yang awalnya merasa kesal dan marah pada gadis itu, lama kelamaan berubah menjadi rasa tertarik dan ingin mendapatkan gadis yang memiliki sifat dingin itu, bahkan Rey sampai menyewa seseorang untuk menyelidiki data gadis itu. Apapun caranya Rey harus mendapatkan gadis tersebut.


***


Waktu berjalan dengan sangat cepat, tanpa terasa usia kehamilan Mentari kini sudah menginjak 9 bulan kurang 1 minggu, dan itu artinya sebentar lagi, Mentari akan segera melahirkan.


Saat ini Jhon sedang mengelus-elus perut buncit sang istri, rasanya ia sudah tidak sabar menantikan kehadiran bayi mungil yang di perkiraan kembar itu, begitupun juga dengan Mentari, ia sudah tidak sabar menantikan kehadiran dua bayi mungil yang akan melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.


"Sayang, ayo makan dulu." Ajak mama Natalia yang memang sedang berkunjung ke kediaman putrinya itu. Mentari hanya menganggukkan kepalanya sambil memperlihatkan senyumannya.

__ADS_1


"Jhon kamu juga makan dulu, sedari tadi kamu ini tidak jauh dari istrimu, nempel terus udah kayak prangko." Kini mama Celine berkata sambil menggelengkan kepalanya melihat kebucinan putra semata wayangnya itu.


"Iya, mah. Wajar dong, kan aku suami siaga, mah. Jadi kalau nanti Mentari merasa mulas aku bisa langsung membawanya ke rumah sakit." Jawab Jhon sambil merangkul sang istri dari samping.


"Ish kamu ini, terlalu berlebihan. Mentari juga mau gerak, Jhon. Kalau kamu nempel terus begitu, bagaimana istrimu bisa bergerak. Kemana-mana kamu selalu ngikut, kandungan Mentari itu sudah memasuki 9 bulan, Jhon. Jadi dia harus banyak gerak, biar persalinannya lancar. Kamu mengerti kan?" Seru mama Celine yang mendapat helaan nafas dari si raja bucin itu.


"Bener kata mamamu, Jhon. Mentari itu harus banyak gerak, biar persalinannya lancar." Mama Natalia membenarkan ucapan besannya, lagi-lagi membuat Jhon menghela nafasnya, dia sama sekali tidak ingin berpisah dengan istri tercintanya, ia ingin di saat sang istri merasa mulas, ia menjadi yang pertama, bukan orang lain.


"Mama ini berlebihan, bukankah setiap pagi aku selalu membiarkan Mentari bergerak sendirian? Bukankah mama, dan mama Nat selalu menjauhkanku dari Mentari dengan alesan Mentari harus banyak bergerak? Aku baru saja duduk dekat dengan istriku sekarang, kalian sudah mau memisahkan kita. Benar-benar keterlaluan." Seru Jhon sambil menyenderkan kepalanya kepada sang istri, tingkahnya benar-benar membuat orang gemas, gemas ingin menceburkannya ke rawa-rawa.


"Astaga, Jhon. Kamu bilang baru saja duduk dekat dengan Mentari? Lalu yang nempel sedari tadi itu siapa, Jhonatan?" mama Celine menggelengkan kepalanya, kelakuan putranya itu sudah mengundang jari-jari manisnya untuk menjewer telinga putranya itu, namun sayangnya ia tidak bisa melakukannya sekarang.


"Tuh kan lihat menantumu, Nat. Kebucinannya sudah mendarah daging dari papanya." Seru mama Celine yang mendapat kekehan pelab dari mama Natalia.


"Kenapa papa di bawa-bawa, mah? Jhon itu tingkat bucinnya melebihi menara Eifel. Beda sama papa." Pak Calvin yang mendengar ucapan istrinya pun tidak terima, ia merasa tingkat bucin putranya itu melebihi dirinya.


"Kalian sama saja, sama-sama bucin." Finish mama Celine sambil menatap pak Calvin dan juga putranya bergantian. Lalu setelah itu mama Celine pun menggandeng tangan mama Natalia dan berjalan menuju ruang makan.


Nih si raja bucin yang sangat menggemaskan, pasti kalian juga ingin menceburkannya ke rawa-rawa ya.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2