Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Rencana kedua


__ADS_3

Rumah Sakit


Jhon nampak gelisah menunggu pemeriksaan yang di lakukan oleh dokter terhadap kekasih hatinya itu. Hatinya sungguh tidak tenang. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu yang serius terhadap Mentari. Bahkan ia tidak memperdulikan luka di tangannya sendiri.


"Mentari, kamu harus baik-baik saja. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan dirku sendiri jika sesuatu terjadi kepadamu." Gumam Jhon sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Bos, sebaiknya anda mengobati luka anda terlebih dahulu." Usul Egi ketika melihat bosnya hanya duduk dan mengkhawatirkan sang pujaan hatinya itu.


"Biarkan saja. Aku tidak perduli." Seru Jhon membuat Egi harus menghela nafasnya panjang.


"Jika nona Mentari melihat tangan anda seperti ini. Dia pasti akan merasa bersalah."


Jhon nampak terdiam beberapa saat, apa yang di ucapkan oleh asistennya itu memang benar, Mentari pasti akan merasa bersalah karena dirinya sudah membuat orang lain terluka. Akhirnya Jhon pun memutuskan untuk mengobati lukanya.


"Pergilah. Lakukan tugasmu dengan baik. Aku ingin malam ini kamu sudah mendapatkan informasi tentang orang yang ingin mencelakai calin istriku." Perintah Jhon terkesan sangat dingin. Bahkan auranya sangat menakutkan, aura yang baru pertama kali Egi rasakan. Egi mengangguk, ia pun segera melangkahkan kedua kakinya pergi meninggalkan Jhon yang saat ini sedang di selimuti oleh kabut amarah.

__ADS_1


Sebelum pergi, Egi memanggil perawat terlebih dahulu dan meminta perawat itu untuk mengobati luka di tangan sang bos.


***


Apartemen Lisa.


Semenjak mama Monic mengetahui perselingkuhan Lisa dengan suami sahabat Lisa sendiri, mama Monic langsung mengusir Lisa dari kediamannya. Bukan karena mama Monic tidak menyayangi putri satu-satunya itu, namun mama Monic ingin memberi Lisa sedikit pelajaran hidup, hingga Lisa benar-benar berubah dan meminta maaf kepada sahabatnya Mentari. Dan pintu rumah mama Monic pun terbuka lebar untuk putrinya itu.


Namun sepertinya mama Monic salah, bukan hanya Lisa tidak berubah, tetapi Lisa justru semakin menjadi, bahkan Lisa semakin membenci Mentari, karena Mentari dirinya di usir oleh orangtua kandungnya sendiri. Karena Mentari rencananya gagal total.


"Aaaaargh sialan! Kenapa semua yang gue rencanakan menjadi berantakkan seperti ini?" Teriak Lisa penuh amarah.


"Mentari, lo beruntung kali ini. Tapi tenang saja, masih banyak waktu bagi gue untuk melenyapkan lo, Mentari. Lo tidak pantas hidup di muka bumi ini, lo sudah menghancurkan kehidupan gue, lo sudah membuat gue di usir dari rumah gue sendiri. Lo harus mati Mentari. Lo harus mati." Lisa kembali berteriak seperti orang gila. Tatapan matanya begitu menakutkan, seolah-olah ia sedang di rasuki oleh setan, penuh dengan dendam.


Lisa berjalan menuju sofa, ia mengambil ponselnya yang berada di atas meja, lalu ia segera menghubungi Toni, berniat untuk memberikan perintahnya kembali.

__ADS_1


"Toni, gue punya rencana baru, gue yakin kali ini lo pasti bisa melenyapkan Mentari." Ucap Lisa setelah seseorang di seberang telpon sana mengangkat panggilan darinya.


Orang itu hanya terdiam, ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya membuat Lisa kembali bersuara.


"Lo datang ke apartemen gue sekarang juga." Perintah Lisa dengan dingin.


"Baa,,, baik. Ki,,, kirimkan a,,, alamat lo sa,,, sama gue sekarang." Jawab Toni terdengar aneh.


"Ada apa sama lo? Kenapa suara lo aneh begitu? Sialan, lo lagi maen sama ****** mana hah?"


"Ki,,, kirimkan sa,,, saja alamatnya Lisaa." Setelah mengatakan hal itu, Toni pun langsung memutuskan sambungannya secara sepihak membuat Lisa menggeram kesal.


"Dasar bajingan! Beraninya dia memutuskan panggilan gue. Awas saja, gue pasti akan buat dia lemah tak berdaya." Gerutu Lisa sambil menyeringai. Lisa langsung mengirimkan alamat apartemennya kepada Toni, tanpa merasa curiga sedikitpun.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2