
Mentari yang mendengar suara keributan pun lantas menghampiri suaminya.
"Ada apa sayang, kenapa tadi aku mendengar suara keributan di sini?" Tanya Mentari sembari mengelua perut buncitnya itu.
Jhon langsung menatap tajam ke arah Ricard dan juga Robert, lalu ia menatap sang istri penuh kasih sayang. "Tidak apa-apa, sayang. Kenapa kamu kesini? Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap duduk?" Ucap Jhon sambil memberikan kecupan mesranya di kening sang istri.
"Karena aku mendengar suara keributan tadi, makannya aku datang kesini." Jawab Mentari lembut. "Oh iya kenapa kamu tidak menyuruh teman-temanmu masuk?"
"Ah ini mereka baru mau masuk, sayang." Jawab Jhon sambil merangkul sang istri mesra.
"Halo, Tari. Apa kabar? Apakah kita mengganggumu? Oh iya ini kita bawain oleh-oleh untukmu, semoga kamu suka ya. " Seru Ricard sembari memperlihatkan senyumannya yang manis dan menyerahkan barang bawaannya kepada istri sahabatnya itu.
Mentari tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya mengambil barang pemberian sahabat suaminya itu. "Halo, aku baik-baik saja. Dan kalian tidak menggangguku sama sekali. Terima kasih, kalian tidak perlu repot-repot membawakanku oleh-oleh seperti ini." Ucap Mentari merasa tidak enak mendapat beberapa oleh-oleh dari sahabat suaminya itu.
"Tidak sama sekali, Tari. Kita memang sengaja ingin membawakanmu oleh-oleh itu, semoga kamu suka dengan oleh-oleh yang kita bawa." Jawab Robert lembut.
__ADS_1
Jhon segera mengambil alih oleh-oleh yang di bawakan oleh kedua sahabatnya itu, "Biar aku yang bawain sayang." Ucapnya lembut.
Mentari hanya mengangguk pelan sambil memberikan oleh-oleh dari kedua sahabat suaminya itu.
"Kalian mau pulang, atau masuk." Seru Jhon sambil menatap dua sahabatnya dengan datar. Jhon berharap dua sahabatnya itu pulang saja, ia tidak ingin melihat sang istri bersikap lembut dan juga memperlihatkan senyuman manisnya kepada dua cecunguk itu.
"Tentu saja, masuk." Jawab kedua sahabatnya serempak membuat Jhon mendengus kesal.
"Hari ini gue banyak kerjaan, jadi gue tidak bisa menemani kalian mengobrol." Ucap Jhon mengusir secara halus.
"Tidak bisa, istri gue harus istirahat, dia tidak boleh banyak bicara... "
"Sayang, biarkan saja teman-temanmu masuk, bukankah kalian sudah lama tidak bertemu?" Sela Mentari Membuat Jhon langsung menghela nafasnya. Jika sang istri sudah berbicara seperti itu, maka mau tidak mau ia membiarkan dua cecunguk itu masuk.
"Baiklah sayang, aku akan mendengarkan ucapanmu." Jawab Jhon kembali ke nada suaranya yang lembut dan halus.
__ADS_1
"Masuklah." Ucap Jhon datar kepada dua sahabatnya itu.
Ricard dan juga Robert mengangguk senang, lalu setelah itu keduanya pun masuk mengekori Mentari dan juga sahabatnya dari belakang.
Jhon meletakan barang yang di berikan oleh dua sahabatnya itu di atas meja.
"Duduklah." Perintahnya masih dengan nada suaranya yang datar.
"Tentu saja kita akan duduk, walau pun tidak di suruh sama lo." Jawab Robert sembari mendudukkan bokongnya di atas sofa di susul oleh Ricard yang duduk di samping Robert.
"Sayang, aku buatkan mereka minuman dulu, ya." Pamit Mentari yang mendapat gelengan kepala dari Jhon.
"Tidak sayang, kamu tidak boleh membuatkan mereka minuman, nanti kamu kecapean. Biarkan si bibi saja yang buatkan mereka minuman ya, lebih baik kamu duduk di sampingku saja, mengerti." Ucap Jhon sambil membawa sang istri duduk di sofa berdampingan dengan dirinya.
Mentari hanya pasrah, ia tidak membantah ucapan suami bucinnya itu. Sementara Jhon, ia langsung memanggil si bibi dan meminta si bibi membuatkan minuman untuk sahabatnya itu.
__ADS_1
Bersambung.