Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Hanya itu


__ADS_3

"Apa kamu tidak ada kerjaan selain menggangguku?" Tanya Mentari membuat Jhon terkekeh di seberang telpon sana.


"Kenapa kamu galak sekali? Apakah aku sudah mengganggumu, baby?" Jhon berbalik nanya membuat Mentari mendengus kesal.


"Tentu saja. Aku mau tidur dan kamu terus menelponku, apa kamu pikir itu tidak mengganggu?"


"Maafkan aku, aku menelponmu karena aku ingin mengucapkan aku sangat merindukanmu." Ucap Jhon dengan nada yang begitu lembut dan halus. "Yasudah kalau begitu kamu istirahat, ya. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Good night baby, semoga mimpi indah." Sambungnya masih dengan nada suaranya yang halus dan lembut.


"Kamu menelponku malam-malam begini hanya untuk mengucapkan kamu merindukanku?"


"Tentu saja, baby." Jawab Jhon membuat Mentari semakin kesal.


Mentari mendesah pelan, ia tidak habis pikir mengapa ada laki-laki seperti Jhon di dunia ini? Mengganggunya malam-malam hanya untuk mengatakan bahwa dia merindukan dirinya. Sangat menyebalkan. Pikir Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya. Mentari langsung memutuskan sambungannya, ia pun langsung mengaktifkan mode silent karena tidak ingin di ganggu lagi oleh siapa pun. Mentari kembali menaruh ponsel itu di atas nakas, kemudian ia pun berbaring di atas tempat tidurnya.


"Dasar laki-laki aneh. Tuhan kenapa menciptakan laki-laki aneh seperti dia? Arghh sangat menyebalkan." Gumam Mentari sebelum ia menutup kedua bola matanya secara perlahan.


"Astaga.... Kenapa aku harus kepikiran laki-laki itu sih? Ada apa denganku? Sudahlah Mentari, lupakan dia. Jangan memikirkannya lagi, sebaiknya kamu tidur karena besok harus bangun pagi." Mentari kembali bergumam saat bayangan Jhon terus menghantui kepalanya. Ia terus menutup kedua bola matanya dengan rapat, hingga akhirnya ia pun tertidur dengan lelap.


***

__ADS_1


Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mentari sudah terbangun dari tidurnya, ia segera melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hanya membutuhkan waktu lima belas menit, Mentari pun sudah menyelesaikan ritual mandi paginya, ia pun segera keluar dari dalam kamar mandi itu, dan berjalan menuju lemari pakaiannya.


Mentari mengambil pakaian casualnya dan memakainya langsung. Setelah selesai berpakaian, Mentari pun berjalan menuju meja rias, dan duduk di kursi yang biasa ia pakai untuk mengeringkan rambutnya dan merias wajahnya. Mentari mulai mengeringkan rambutnya menggunakan Hair Dryer. Setelah rambutnya kering, Mentari pun mulai merias wajahnya.


Mentari tersenyum ketika melihat dirinya yang sudah cantik dengan riasan yang natural itu. Kemudian ia bangkit dari kursi itu, lalu berjalan menuju pintu kamarnya.


***


"Sayang, kamu mau kemana kok sudah rapi?" Tanya mama Natalia saat melihat Mentari sedang berjalan menuju ke arahnya.


"Aku mau keluar dulu, mah. Aku mau ketemu sama temen lamaku. Kemarin janjian jam sembilan pagi soalnya." Jawab Mentari sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi meja makan.


"Aku lupa ngasih tahu mama, beberapa hari yang lalu aku tidak sengaja bertemu sama Aurel. Dia mengatakan bahwa dia teman aku waktu di sma. Dan aku percaya karena aku melihat photo-photo kita saat duduk di bangku sekolah, mah." Ucap Mentari sambil mengambil selembar roti tawar dan mengolesnya pakai mentega.


"Syukurlah, mama senang mendengarnya. Oh iya sayang, dua hari lagi kita harus pergi ke persidangan. Mama juga sudah menyewa seorang pengacara hebat untukmu nanti."


"Terima kasih, mah. Mama emang terbaik."


"Tentu saja, sayang. Karena mama ingin yang terbaik untuk anak mama yang cantik ini." Ucap sang mama sambil mencubit gemas wajah putrinya itu.

__ADS_1


Mentari tersenyum, ia sangat beruntung memiliki orangtua yang begitu menyayanginya dan begitu peduli dengan dirinya. "Papa sudah berangkat, mah?" Tanya Mentari setelah ia menyelesaikan sarapannya.


"Sudah, sayang. Katanya ada rapat penting pagi ini, jadi dia berangkat pagi-pagi sekali." Jawab sang mama sambil mengaduk teh hangatnya.


"Oh begitu. Yasudah kalau begitu aku berangkat sekarang, mah." Pamit Mentari sambil bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, sayang. Kamu di antar sama pak supir kan? Mama tidak mau kalau kamu nyetir sendirian."


"Iya, mah. Aku di antar sama pak supir, kok. Yasudah aku berangkat ya, mam." Ucap Mentari sembari mencium pipi kanan sang mama.


"Hati-hati, sayang. Bilang sama pak supir jangan kebut-kebutan bawa mobilnya."


"Ok, mam." Jawab Mentari, sambil mengangkat tangannya membentuk hurup o. Mama Natalia tersenyum, setidaknya ia tidak melihat kesedihan putrinya karena pengkhianatan suaminya itu.




Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2