
Setelah pulang dari Coffe Aya, Mentari langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, pikirannya masih terbayang dengan kejadian tadi, ketika Jhon berteriak dan mengucapkan kata yang membuat wajah Mentari terlihat memerah.
Mentari menggelengkan kepalanya berusaha untuk menghilangkan bayangan Jhon dari kepalanya, namun bukannya menghilang, bayangan Jhon justru semakin jelas di kepalanya. "Lupakan Mentari, jangan memikirkannya lagi. Dia tidak mungkin serius dengan kata-katanya itu. Dia seharusnya masih punya otak bukan?" Mentari berucap sendiri, ia tidak percaya jika Jhon benar-benar akan mengejarnya meskipun Jhon sudah mengetahui pernikahannya dengan Alex.
"Alex. Ah aku sampai lupa mengenai pengkhianat itu." Mentari bangkit dari tempat tidurnya, kemudian ia merogoh ponsel yang berada di tas kecil miliknya. Baru saja Mentari ingin membuka video yang di kirimkan oleh orang suruhannya kemarin, tiba-tiba saja, Alex menghubunginya.
"Baru saja aku omongin, dia langsung menelponku. Baiklah mari kita angkat telponnya dulu." Ucapnya sambil menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya.
"Sayang. Kamu kemana saja? Kenapa pesanku tidak kamu balas?" Tanya Alex terdengar begitu lembut dan halus membuat merasa muak.
__ADS_1
"Ada apa? Bukankah kamu sendiri yang bilang, kalau kamu itu akan sibuk dan tidak bisa di hubungi? Lalu kenapa sekarang kamu menelponku?" Mentari berbalik nanya dengan nada yang terkesan dingin.
"Ah kerjaanku sudah selesai, sayang. Dan aku menghubungimu karena aku terlalu merindukanmu. Besok aku akan pulang. Kamu mau aku bawakan oleh-oleh apa?"
"Tidak perlu. Aku tidak menginginkan apa pun. Jadi kamu tidak perlu repot-repot, mas." Ucap Mentari masih dengan nada yang dingin. "Kalau tidak ada lagi yang ingin kamu sampaikan, aku tutup telponnya sekarang." Tegas Mentari membuat Alex menghela nafasnya di seberang telpon sana.
Mentari langsung memutuskan sambungannya ketika Alex hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Mentari menghela nafasnya panjang, moodnya kembali buruk setelah mendengar suara si pengkhianat itu.
"Bukankah sebentar lagi Lisa akan menikah? Ah sepertinya ini akan menjadi kado terindah untuknya. Aku penasaran bagaimana reaksi orang-orang di pesta pernikahannya. Pasti akan sangat seru." Gumam Mentari dengan seringai yang terlihat menakutkan. Mentari sudah bertekad untuk mengungkap kebusukkan dua mahluk pengkhianat itu tepat di hari pernikahan Lisa. Setelah itu, ia akan menggugat cerai suaminya dan membuat suaminya kehilangan semuanya. Mentari akan membuat Alex di benci dan di usir oleh orangtuanya sendiri.
__ADS_1
***
Setelah mendengar Mentari sudah memiliki suami, Jhon langsung meminta Egi untuk mencari tahu kebenarannya. Dengan sigap, Egi pun langsung menghubungi sessorang dan menyuruhnya untuk mencari tahu tentang perempuan yang sudah membuat bosnya tergila-gila itu.
Setelah mendapatkan data tentang Mentari, dan juga pernikahannya dengan Alex, Egi pun segera melaporkannya kepada Jhon. Egi melaporkannya dengan sangat detail, bahkan perselingkuhan Alex dengan Lisa pun tidak terlewatkan membuat Jhon seketika mengepalkan kedua tangannya menahan amarah dalam dirinya.
"Brengsek. Bagaimana bisa Mentari menikahi seorang laki-laki bajingan seperti Alex? Apalagi dia berselingkuh dengan Lisa, sahabat istrinya sendiri? Argh sialan. Aku harus memberitahu Mentari secepatnya. Dengan begitu Mentari akan langsung menceraikan laki-laki sialan itu dan kembali lagi sama gue." Gumam Jhon dengan tangan yang masih terkepal dengan kuat.
Jhon berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju jendela kamarnya, menatap langit yang gelap. Jhon menghela nafasnya kasar, jika bukan karena kecelakaan yang menimpa kekasihnya lima tahun yang lalu, mungkin yang menjadi suami Mentari saat ini adalah dirinya. Dan mungkin Mentari tidak akan pernah merasakan sakit hati karena pengkhianatan yang di lakukan oleh Alex dan sahabatnya Lisa.
__ADS_1
Bersambung.