
Kediaman Permana
Alex nampak terdiam mendengarkan ocehan sang papa yang menusuk indera pendengarannya. Bahkan bu Widia pun tidak bisa menghentikan ocehan suaminya itu. Pak Permana terlihat sangat murka ketika mendengar pengakuan Alex yang sesungguhnya. Tangannya sudah terangkat membentuk kepalan ingin menghantam wajah tampan putra semata wayangnya itu, namun sayangnya bu Widia langsung berteriak histeris sambil menghalangi suaminya.
"Papa, jangan! Kalau papa ingin memukul anak kita, lebih baik papa pukul mama saja. Anak kita tidak sepenuhnya salah, pah. Dia hanya khilap dan dia juga sudah meminta maaf kepada Mentari, bahkan dia sudah bersujud di bawah kaki Mentari. Tapi Mentari sama sekali tidak bisa memaafkannya." Teriak bu Widia sambil menatap suaminya marah.
"Ini semua karena sifat keras kepalanya, Mentari, pah. Dia tidak bisa memaafkan anak kita hanya karena anak kita berselingkuh. Padahal itu hanya masalah sepele." Sambungnya membuat pak Permana menggelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin istrinya itu menyalahkan Mentari dan mengatakan bahwa perselingkuhan yang di lakukan oleh Alex hanyalah masalah sepele? Apakah dia masih pantas di sebut seorang wanita?
__ADS_1
"Papa heran sama mama, padahal mama seorang perempuan, tapi kenapa mama tidak berperasaan seperti itu? Mentari itu perempuan yang sangat baik, mah. Papa menyayangi dia seperti putri kita sendiri, papa tidak rela jika perempuan sebaik dia di sakiti oleh anak kita." Pak Permana menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan.
"Bagaimana kalau papa yang selingkuh dari mama? Apa mama akan memaafkan papa?" Tanyanya membuat bu Widia menggeram kesal. Pertanyaannya sama persis dengan menantunya itu.
"Oh, jadi papa ingin berselingkuh dari mama, begitu?" Sentak bu Widia sambil menatap suaminya dengan tajam, amarah dalam dirinya mulai memuncak, tangannya terkepal dengan begitu kuat.
"Mama pikirkan baik-baik ucapan papa agar hati dan pikiran mama terbuka dengan lebar. Dan mama tidak menyalahkan Mentari lagi. Dan untukmu, Alex. Biarkan Mentari bebas. Jangan pernah menghambat persidangannya nanti. Meskipun begitu, kamu tetap harus mendapatkan maaf darinya, jika tidak! Jangan datang kemari lagi." Tegas pak Permana membuat Alex seketika membuka suaranya.
__ADS_1
"Pah, aku tahu, aku salah sama Mentari. Tapi papa tidak perlu sampai seperti itu. Aku ini masih putramu, pah." Ucap Alex dengan raut wajah yang terlihat menyedihkan membuat bu Widia tidak tega.
"Alex benar, pah. Alex putra kita Satu-satunya, kenapa papa bisa tega seperti itu?" Bu Widia mendekati Alex, ia mengusap pundak putra kesayangannya itu dengan lembut. "Kalau papa tidak mengizinkan Alex menginjakkan kakinya di sini lagi, Itu sama artinya papa mengusir mama dari rumah ini." Imbuhnya membuat pak Permana menghela nafasnya dengan kasar.
Ibu dan anak itu benar-benar membuatnya frustasi. "Mama jangan berlebihan! Alex masih punya rumah sendiri, dia tidak akan jadi gelandangan. Papa hanya mau memberinya pelajaran agar putra kita itu tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Mendapatkan maaf dari orang yang sudah kita sakiti itu sangatlah susah, apalagi kesalahan yang sudah Alex perbuat itu sangatlah fatal." Pak Permana kembali menghela nafasnya dengan kasar, ia menatap Alex kemudian ia kembali berkata.
"Papa juga akan menurunkan jabatanmu menjadi karyawan biasa, dengan begitu kamu tidak akan lagi menpermainkan hati wanita. Karena papa sangat yakin, selama ini kamu selalu memberikan uang kepada selingkuhanmu itu, bahkan kamu mengajak wanita ular itu liburan ke luar negeri. Benar-benar membuat papa malu." Setelah mengatakan hal itu, pak Permana pun langsung bergegas pergi.
__ADS_1
Bersambung.