Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Penuh perhatian


__ADS_3

Waktu berlalu dengan sangat cepat, tanpa terasa pernikahan Jhon dengan Mentari sudah menginjak tiga bulan. Pasangan itu selalu saja memperlihatkan keromantisannya di hadapan orang lain mau pun di hadapan orang terdekatnya. Contohnya sekarang, Mentari dan suaminya sedang makan malam bersama orangtua Jhon di kediaman Alfarizzy.


Jhon nampak sibuk mengupas udang untuk istrinya, ia sama sekali tidak membiarkan tangan sang istri menyentuh udang yang belum di bersihkan cangkangnya, dengan alasan, ia takut tangan sang istri terluka karena cangkang udang itu. Benar-benar sangat berlebihan.


Pak Calvin dan juga mama Celine hanya tersenyum melihat putranya yang terlalu bucin itu, mereka tidak menyangka jika putranya itu begitu mencintai istrinya. Bahkan kebucinan Jhon lebih parah dari papanya, pak Calvin.


"Makanlah sayang," ucap Jhon sembari menyodorkan udang yang sudah bersih itu kepada istri tercintanya.


"Terima kasih, sayang. Padahal kamu tidak perlu melakukan semua ini, tanganku masih normal, aku bisa melakukannya sendiri." Seru Mentari dengan nada suaranya yang lembut, tak lupa dengan senyumannya yang manis yang selalu menghiasi wajah cantiknya.


"Nanti tanganmu bisa terluka, sayang." Jawab Jhon selalu dengan nada suaranya yang lembut penuh perhatian.


"Kamu itu sangat berlebihan, aku bukan anak kecil lagi, sayang. Masa cuma mengupas udang saja, aku terluka." Seru Mentari sambil mencubit gemas hidung mancung suaminya.


"Tetap saja aku takut tanganmu itu terluka. Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?" Ucap Jhon sembari membersihkan tangannya yang kotor itu.


"Iya, tapi... " Ucapan Mentari tercekat di tenggorokkan.


"Sudahlah, sayang. Suamimu itu sama bucinnya kayak papanya. Keduanya sama-sama berlebihan, jadi kamu sebaiknya mengiyakan saja. Daripada kamu berdebat, nanti kamu capek sendiri." Ucap mama Celine menyela ucapan menantunya itu.

__ADS_1


"Mama kok papa di bawa-bawa, sih?" Timpal pak Calvin sambil menatap istrinya.


"Kan memang begitu pah. Sikap dan sifat kamu sama Jhon itu sebelas, dua belas. Memangnya ada yang salah dengan ucapan mama?"


"Tapikan itu dulu, mah. Sekarang papa sudah berubah." Jawab pak Calvin pelan.


"Oh sekarang udah berubah, nih? Syukurlah, mama jadi bisa berkumpul sama teman-teman seangkatan mama nanti. Kebetulan mereka mengajak mama untuk reonian di... " Ucapan mama Celine terhenti ketika suaminya menyela ucapannya.


"Mama mau bikin papa menghajar teman-teman mama itu lagi?" Seru pak Calvin sembari menatap istrinya kesal.


"Bukannya kata papa, papa sudah berubah sekarang?"


"Mama.... "


"JHOOON... " Teriak pak Calvin dan juga mama Celine secara bersamaan.


Jhon tidak menghiraukan seruan papa dan mamanya itu, ia lebih memilih menyantap makan malamnya dengan tenang.


"Sayang, kamu ngomongnya gak sopan banget, sih." Bisik Mentari sembari mencubit gemas perut sang suami.

__ADS_1


"Apanya yang gak sopan, sayang? Bukannya yang aku ucapkan benar?" Jawab Jhon sembari menyodorkan satu sendok makanan ke hadapan sang istri. "Buka mulutmu sayang. Malam ini kamu harus makan yang banyak, karena kita akan melakukan pertempuran lagi." Ucap Jhon membuat wajah Mentari memerah seperti tomat. Ingin sekali ia menceburkan suaminya itu ke dalam danau toba, namun sayangnya ia sama sekali tidak bisa melakukannya.


Pak Calvin dan juga mama Celine yang mendengar ucapan putranya pun langsung menggelengkan kepalanya sambil melempar pandangannya satu sama lain.


"Sangat memalukan. Kenapa suamiku tidak bisa mengerem ucapannya? Apakah dia tidak malu sama mama dan papa? Dasar mesum." Teriak Mentari dalam hatinya.


Mentari tidak lagi mengeluarkan suaranya, ia sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya dan sesekali menerima suapan dari si raja bucin itu.


"Mah, pah. Besok aku dan Mentari akan pulang dan pindah ke rumah baruku." Ucap Jhon setelah ia menyelesaikan makan malamnya. Ya, selama menikah, Jhon dan juga Mentari tinggal di kediaman orangtua Mentari. Sementara mama Natalia masih menemani suaminya berobat di Thaliand. Dan selama tiga bulan ini, keadaan pak Geri sudah mulai membaik, mungkin hanya membutuhkan beberapa bulan lagi, agar ia sembuh sepenuhnya.


"Baiklah, terserah kalian saja. Mama tidak akan melarangnya, yang penting kalian harus datang dan nengokkin mama sama papa di sini."


"Iya, mah. Mama jangan khawatir, aku dan Mentari pasti akan sering nengokkin kalian berdua." Jawab Jhon sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


"Yasudah kalau begitu kita istirahat dulu ya, mah, pah." Pamit Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari kedua orangtuanya.


Jhon dan juga Mentari langsung beranjak dari tempat duduknya, keduanya langsung melangkahkn kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Yang minta di ceburin ke danau toba

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2