
Setelah tiba di dalam kamar, keduanya duduk di sisi ranjang saling berhadapan. Tangan kanan Jhon mulai menelusuri seluruh bagian wajah sang istri, senyumannya terus tersungging dari sudut bibirnya.
"Sayang, kenapa kamu terus menatapku seperti itu?" Mentari mencubit gemas hidung mancung suaminya. Nada suaranya terdengar begitu merdu dan menggoda di telinga si raja bucin itu.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." Bisik Jhon membuat Mentari mengerutkan keningnya bingung. Padahal jelas-jelas setiap hari mereka selalu bertemu.
"Bukankah setiap hari kita selalu bertemu?" Ucap Mentari sembari menatap suaminya dalam.
"Maksudku merindukan kehangatan tubuhmu, sayang." Bisik Jhon di iringi dengan hembusan nafas beratnya membuat bulu kuduk Mentari meremang seketika.
"Dasar mesum, bukankah dua hari yang lalu kamu sudah merasakan kehangatan tubuhku?" Mentari berbisik, ia pun sengaja menghembuskan nafasnya membuat benda pusaka suaminya langsung berdiri dengan tegak.
__ADS_1
"Sayang, kamu sengaja menggodaku hmm." Jhon langsung membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur, lalu mengukungnya dengan satu kali gerakkan.
"Bukan aku yang menggodamu, tetapi kamu yang menggodaku, Jhon." Ucap Mentari sembari memainkan tangannya di dada bidang milik suaminya.
"Kamu mulai nakal, ya." Jhon kembali berbisik, bisikkannya terdengar berat menandakan bahwa dirinya sudah di selimuti oleh hasratnya.
Mentari tersenyum, ia mulai mengalungkan tangannya di leher sang suami. "Bukankah memang itu yang kamu inginkan, Jhon!" Bisik Mentari membuat Jhon semakin bergairah.
Jhon langsung menyambar bibir manis milik sang istri, ********** dengan lembut, lidahnya mulai menerobos masuk dan bermain di dalam rongga mulut sang istri.
Setelah dirasa oksigennya sudah terkumpul penuh, Jhon pun kembali menyatukan bibirnya dengan bibir sang istri, keduanya kembali melakukan ciuman panasnya, lidah mereka saling membelit satu sama lain memberikan sensasi yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Jhon kembali melepaskan pagutannya, kini ia beralih pada leher putih sang istri, dan memberikan beberapa stempel kepemilikan di area sana. De sa han demi de sa han keluar dari bibir manis istrinya, membuat Jhon tersenyum dan semakin bersemangat dalam membuat stempel kepemilikan di leher jenjang istrinya.
Jhon kembali memberikan stempel kepemilikan di bagian leher istrinya, tangannya mulai beraksi menyentuh dua gundukkan indah yang sudah menjadi candunya. Memainkannya dengan lembut, membuat Mentari kembali men de sah kenikmatan.
Setelah puas memberikan stempel dan memainkan benda ke nyal itu, Jhon pun mulai melepaskan pakaian yang di kenakan oleh istrinya, lalu membuangnya dengan asal menyisakan kacamata berwarna merah, dan juga kain kecil berwarna merah yang berbentuk segitiga tipis yang menghalangi jalan menuju surga dunia nya.
Jhon kembali melepaskan kacamata dan juga kain segitiga itu, lalu melempar dua benda itu dengan asal tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh sang istri yang kini benar-benar sudah polos seperti bayi baru lahir.
Setelah puas menatap keindahan tubuh sang istri, Jhon pun mulai melepaskan seluruh pakaian yang ada di tubuhnya, lalu membuangnya secara asal. Keduanya kini sudah sama-sama polos tanpa sehelai benang yang menghalangi tubuh mereka.
Pasangan suami istri itu kembali melakukan penyatuannya seperti malam-malam sebelumnya. De sa han demi de sa han keluar dari mulut keduanya.
__ADS_1
Jhon berharap, benih yang ia tanamkan malam ini akan membuahkan hasil yang sempurna. Ia benar-benar tidak sabar menantikan kehadiran si kecil yang akan menjadi pelengkap kebahagaiaan dalam runah tangganya.
Bersambung.