
"Astaga... Sebahagia itukah mendengar perceraian orang lain? Ah tidak! Perempuan itu bukanlah orang lain, perempuan itu adalah cinta gilanya si bos. Aish ku pikir selama ini si bos sudah melupakan nona Mentari, ternyata aku yang salah paham." Batin Egi sambil nenatap Jhon yang masih saja tersenyum sendirian.
Tok...tok...tok...
Suara ketukkan pintu terdengar di indera pendengarannya, Egi. Egi seketika tersadar dari lamunannya, lalu ia pun membuka mulutnya. "Bos, sepertinya ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." Ucapnya kepada Jhon, namun Jhon sama sekali tidak mengindahkan ucapannya. Jhon masih setia dengan khayalannya yang indah bersama pujaan hatinya itu.
Egi mendesah pelan, ia pun kembali bersuara dengan nada yang sedikit mengeras berharap bosnya itu mendengar suaranya. "Bos, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda."
"...."
Masih tidak ada jawaban dari bosnya itu, hingga akhirnya Egi memutuskan untuk melangkahkan kedua kakinya menuju pintu ruangan sang bos. Egi langsung membuka pintu itu, dan mempersilahkan seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu ruangan bosnya tersebut. "Silahkan, masuk." Ucapnya yang mendapat anggukkan kepala dari si pengetuk pintu tadi yang tak lain adalah Robert salah satu sahabat Jhon yang di tinggalkan di luar negeri dua bulan yang lalu.
__ADS_1
Robert mengernyitkan keningnya ketika melihat sahabatnya itu asik dengan dunia halunya. Bahkan Jhon sama sekali tidak menyadari keberadaannya saat ini. Robert lantas menatap Egi, dan bertanya.
"Ada apa dengan bosmu?" Tanyanya penasaran.
Egi nampak mengedikkan kedua bahunya pertanda ia tidak mengetahuinya. Ah bukan tidak mengetahuinya, namun Egi sama sekali tidak ingin menjawab pertanyaan Robert itu. Karena dia sendiri bingung mau menjawab apa.
"Ckk... Kau itu asistennya." Robert berdecak kesal, bukankah biasanya setiap asisten itu tahu apa yang terjadi dengan bosnya? Lalu kenapa Egi tidak mengetahuinya? Sangat menyebalkan.
"Saya permisi dulu." Pamit Egi datar. Egi tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan itu, karena pekerjaannya pun masih menanti dirinya.
Robert menatap kesal kepergian asisten sahabatnya itu, baru kali ini ada seorang asisten yang tidak menghargainya, padahal ia adalah putra dari pemilik perusahaan Davidson Group, perusahaan yang saat ini bekerja sama dengan perusahaan J-A Group.
__ADS_1
Robert menghela nafasnya kasar, sepetinya kedatangannya sangat tidak tepat, tapi apa boleh buat, ia sudah terlanjur berada di dalam ruangan itu, ia tidak mungkin pergi lagi bukan? Lagian jarang-jarang ia melihat kegilaan sahabatnya itu, bukankah dia harus mengabadikannya, lalu memperlihatkannya kepada Eric.
Robert menyeringai, ia mulai mengeluarkan benda pipih miliknya dari saku jasnya, "Pasti si Eric bakalan ketawa ngakak liat dia seperti ini." Gumamnya di iringi dengan kekehannya. Baru saja Robert mulai menekan tombol video, Jhon sudah berbalik membelakanginya.
"Egi! Kau atur pertemuanku dengan pak Permana malam ini." Perintah Jhon tanpa melihat orang yang berada di belakangnya.
Robert mendengus kesal, baru saja ia ingin mengabadikan moment gila sahabatnya, tetapi sahabatnya malah sudah kembali ke alam sadarnya, alhasil, Robert pun harus menaruh kembali benda pipih itu ke dalam saku jasnya.
"Baik, bos." Robert menjawab layaknya seorang asisten.
Jhon terdiam sejenak, ah sepertinya itu bukan suara Egi si asisten datarnya itu. Lalu suara siapa itu? Perlahan Jhon membalikkan tubuhnya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Robert berdiri tepat di belakangnya sembari memperlihatkan senyuman yang menurutnya sangat menjengkelkan sekali.
__ADS_1
"Sialan. Sejak kapan Egi berubah jadi si bajingan playboy ini?" Gumam Jhon sembari menatap jengkel sahabatnya itu.
Bersambung