Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Takdir yang menyedihkan


__ADS_3

"Dia rekan bisnisku, Jhon." Jawab Mentari pelan. "Kamu mengenalnya?" Tanya Mentari yang mendapat anggukkan kepala dari calon suaminya itu.


"Dia sepupuku, sayang." Jawab Jhon membuat Mentari sedikit terkejut.


"Sepupumu? Sungguh sangat kebetulan sekali." Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafasnya.


"Ada apa sayang? Apakah ada yang salah kalau dia sepupuku hmm." Tanya Jhon masih dengan nada suaranya yang begitu lembut dan halus.


"Tidak ada, sayang. Hanya sedikit terkejut saja." Jawab Mentari sambil memperlihatkan senyumannya.


Jhon tersenyum, kemudian ia kembali mengecup kening calon istrinya itu. "Ayo aku antar pulang." Ucapnya sembari melepaskan pinggang ramping Mentari dan beralih menggenggam hangat tangan calon istrinya itu.


"Hey! Jangan cium-cium aku di tempat umum seperti ini. Sangat memalukan." Bisik Mentari membuat Jhon terkekeh dengan pelan.


"Sayang, kamu itu kan calon istriku, jadi untuk apa kamu malu." Ucap Jhon sembari mencubit gemas hidung mancung calon istrinya itu.


"STOP!!! Apa lo tidak melihat jika di sini masih ada gue, hah!" Seru Rey yang sedari tadi menyaksikan kemesraan pasangan kekasih itu.


"Jhonatan! Apa maksudnya ini? Kenapa lo panggil Mentari calon istri lo? Lo pasti lagi prank gue kan?" Tanya Rey masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar tadi dan apa yang ia lihat barusan.

__ADS_1


"Oh bukankah sudah jelas kalau Mentari itu calon istri gue." Seru Jhon sembari memeluk pinggang ramping Mentari dengan posesif. "Gue harap, lo jangan pernah deketin calon istri gue lagi, mengerti." Tegas Jhon sambil menatap tajam sepupunya itu.


Rey tertawa pelan, ia menolak percaya jika yang di katakkan oleh Jhon adalah sebuah kenyataan. "Jangan becanda, Tan. Ini sama sekali tidak lucu." Ucap Rey membuat Jhon mendengus kesal, se kesal-kesalnya.


"Si brengsek ini, bikin gue darah tinggi aja. Untung lo sepupu gue, kalau bukan sepupu gue udah gue cincang lo jadi perkedel." Batin Jhon sembari menatap kesal ke arah sepupunya itu.


"Siapa yang sedang becanda, heh!" Seru Jhon dengan nada suara yang semakin meninggi.


"Rey, yang di ucapkan oleh Jhon memang benar." Timpal Mentari melenyapkan harapan dalam hati Rey saat ini. "Aku memang calon istrinya." Sambung Mentari terlihat sangat serius.


Rey terdiam sejenak, ia menatap kedua mata Mentari untuk mencari tahu apakah yang di ucapkannya sebuah kebenaran atau hanyalah sebuah kebohongan. Namun sayangnya, ia sama sekali tidak melihat kebohongan dari sorot mata wanita yang sudah menyentuh hatinya itu.


Ingin bersaing? Rey tidak mungkin menang, karena bagaimana pun juga, sosok Jhonatan jauh lebih baik daripada dirinya. Mungkin jika laki-laki lain yang menjadi calon suami Mentari, Rey pasti tidak akan mundur. Sungguh takdir yang menyedihkan.


"Ternyata dia bukan jodohku. Takdir macam apa ini? Kenapa dia harus menjadi calon istri si Jhonatan? Seharusnya gue tahu dari awal, jadi hati gue tidak sakit seperti ini. Ah sungguh sangat menyedihkan." Batin Rey sembari melangkahkan kedua kakinya meninggalkan pasangan kekasih itu.


"Sayang, lain kali kamu jangan bertemu lagi dengan dia, ya." Ucap Jhon setelah kepergian sepupunya itu.


"Tapi dia kan rekan bisnisku, Jhon."

__ADS_1


"Aku tidak perduli, sayang. Pokoknya aku tidak ingin kamu ketemu lagi sama dia. Lagian, ada Rega yang akan menggantikanmu untuk menemuinya, bukan?" Ucap Jhon tanpa mengybah nada suaranya yang lembut.


"Sayang, apa kamu cemburu sama dia?" Tanya Mentari sambil menatap lekat wajah calon suaminya itu.


"Tentu saja aku cemburu, kamu itu calon istriku, kamu wanita yang paling aku cintai, aku pasti akan sangat cemburu jika aku melihatmu dekat dengan laki-laki lain seperti tadi." Jawab Jhon sembari mendekatkan wajahnya dengan wajah cantik calon istrinya itu.


"Jadi, jangan dekat-dekat lagi dengan dia, atau pun laki-laki lain, mengerti." Bisiknya penuh penekanan.


"Iya aku mengerti. Yasudah ayo kita pergi, kakiku pegal sedari tadi berdiri terus di sini." Ucap Mentari pelan.


"Mau aku gendong, sayang?" Tawar Jhon sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


"Tidak mau, aku masih bisa jalan sendiri." Tolak Mentari sembari menatap calon suaminya itu.


"Oh, tapi aku mau gendong kamu." Bisik Jhon membuat Mentari terkejut.


"Aku bisa jalan ... Hey, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku, Jhon. Aku sangat malu." Seru Mentari ketika tubuhnya sudah di angkat oleh calon suaminya itu.


"Iya, nanti aku turunkan sayang." Jawab Jhon sambil melangkahkan kedua kakinya meninggalkan restaurant itu. Untung saja saat ini pengunjung restaurant itu tidak terlalu ramai, dan mereka pun sibuk dengan makanannya masing-masing.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2