
Jhon melepas satu kancing kemejanya, lalu ia berjalan lagi menuju kursi kebesarannya. Jhon meraih botol air mineral yang ada di atas meja kerjanya, lalu meneguknya hingga tandas. Setelah itu, ia kembari menaruh botol yang sudah kosong itu di atas meja.
"Sial. Kenapa otakku mulai konslet? Sadarlah, Jhon. Jangan sampai membuat Mentari ilfil dan benci sama kamu.Tunggu sampai kamu benar-benar memilikinya, baru kamu boleh memakan dia sepuasnya." Batin Jhon berusaha untuk menenangkan pusaka saktinya yang sudah lama terkurung di dalam sana.
"Jhon, aku ingin bertanya sama kamu." Ucap Mentari membuat Jhon kembali ke alam sadarnya.
"Tanya apa, sayang?" Tanya Jhon dengan nada suara yang terdengar berat di telinga Mentari, namun Mentari sama sekali tidak memperdulikan hal itu.
"Kamu selalu panggil aku sayang, padahal aku bukan kekasihmu hmm." Ptrotes Mentari, namun terdengar manja.
"Kamu itu kekasihku sekaligus calon istriku. Mengerti." Ucap Jhon dengan tegas.
"Kamu tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihmu, jadi itu artinya aku bukan kekasihmu. Lagian, aku bukan Mentari yang seperti dulu lagi, Jhon. Statusku sudah berbeda. Aku hanya seorang janda sekarang, sepertinya aku tidak pantas untuk laki-laki sepertimu." Ujar Mentari terdengar serius.
"Bagiku, kamu tetap Mentari yang dulu, Mentari yang paling aku cintai dan Mentari yang selalu aku rindukan. Aku tidak perduli dengan statusmu Mentari. Karena bagiku, hanya kamulah yang pantas untuk menjadi istriku. Hanya kamu yang aku inginkan Mentari. Dan satu hal yang harus kamu tahu Mentari. Cintaku tidak akan pernah berubah meskipun statusmu sudah berbeda." Jelas Jhon begitu serius.
__ADS_1
"Mentari hanya kamu yang ada di dalam hatiku. Kamu tidak tahu seberapa gilanya aku ketika aku kehilanganmu dulu, kamu tidak tahu seberapa menderitanya aku selama ini hidup tanpa dirimu, Mentari. Aku harap kamu tidak mendorongku pergi dari kehidupanmu, karena itu akan sangat menyakitkan bagiku Mentari." Ucapnya kembali terdengar begitu tulus.
Mentari menarik nafasnya dari seberang telpon sana, kemudian ia berkata dengan sendu. "Tapi, bagaimana dengan kedua orangtuamu, Jhon? Mereka tidak mungkin menerimaku sebagai menantu mereka. Mereka pasti menginginkan calon menantu dengan status yang layak untukmu."
Jhon nampak menghela nafas beratnya, ia sangat mengerti dengan ketakutan Mentari tentang restu dari orangtuanya, namun ia juga sangat tahu sifat kedua orangtuanya, mereka pasti akan merestui pilihannya, yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan dirinya.
"Sayang dengarkan aku. Orangtuaku pasti akan merestui hubungan kita berdua. Mereka bukanlah orang yang seperti kamu pikirkan, sayang. Mereka orangtua yang akan mementingkan kebahagiaan putranya sendiri. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, ok." Terang Jhon dengan nada suara yang sudah kembali seperti semula, halus dan lembut.
"Benarkah?"
"Tapi kamu laki-laki yang memiliki semuanya, kamu pasti bisa dapatin yang jauh lebih baik daripada aku yang hanya seorang JANDA."
"Tapi yang aku inginkan hanya kamu, sayang. Bukan perempuan lain, mengerti." Tegas Jhon sembari mengusap wajahnya kasar.
Sedetik kemudian Jhon nampak terdiam, ia mengingat kembali satu persatu ucapan yang sudah Mentari lontarkan kepada dirinya tadi, lalu ia menyunggingkan senyumannya yang lebar, kemudian ia berkata kembali. "Sayang itu artinya kamu sudah menerimaku sebagai calon suamimu sekarang."
__ADS_1
"Aku,,, aku hanya bertanya saja, kalau seandainya."
"Ok mulai sekarang kamu resmi menjadi calon istriku, bulan depan aku akan datang bersama kedua orangtuaku untuk melamarmu. Kamu bersiap-siaplah, sayang." Sela Jhon membuat Mentari seketika membolakan kedua matanya di seberang telpon sana.
"Hey! Aku belum menyetujuinya. Kenapa kamu buru-buru sekali." Protes Mentari.
"Bukan buru-buru sayang, tapi lebih cepat lebih baik, dan kamu harus menerimanya tanpa penolakkan."
"Itu namanya pemaksaan, Jhon."
"Tidak apa-apa yang penting kamu bisa menjadi milikku sepenuhnya." Ucap Jhon dengan rasa percaya dirinya yang tinggi. Sepertinya si raja bucin itu mulai berimajinasi yang berlebihan, bahkan suara ketukkan pintu pun tak ia hiraukan.
Ini si raja bucin yang menggemaskan.
__ADS_1
Bersambung.