
Lisa menarik kursi yang ada di hadapan Jhon, ia tidak memperdulikan raut laki-laki itu yang terlihat tidak suka atas kehadirannya yang seperti jelangkung. Lisa tetap memperlihatkan senyumannya yang manis, bahkan gula kalah manis dengan senyumannya itu. "Sayang. Aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu tidak pernah menjawab telponku? Kenapa kamu tidak pernah membalas pesanku? Apa kamu tidak merindukanku?" Lisa kembali bersuara dengan manja. Tangannya terulur berniat untuk menggenggam tangan Jhon yang berada di atas meja.
"Kamu pasti tahu alasannya bukan?" Jhon menarik tangannya ke bawah hingga membuat Lisa gagal menggenggam tangannya itu. "Lisa, berhenti berbicara dengan nada menjijikan seperti itu, aku sangat benci mendengarnya." Jhon kembali berucap dengan dingin, tatapan matanya mulai menajam ketika Lisa sengaja memperlihatkan belahan dadanya di hadapan Jhon. "Dasar perempuan murahan." Desis Jhon sontak membuat Lisa seketika terdiam dengan amarah yang mulai muncul dalam dirinya.
"Apa maksudmu, Jhon? Kenapa kamu berkata seperti itu kepadaku? Aku ini tunanganmu, kenapa kamu tega sekali mengatakan kalau aku perempuan murahan." Lisa mulai berakting sedih, air matanya mengalir sesuai dengan kehendaknya membuat Jhon semakin muak melihatnya. "Aku tahu kalau kamu membenciku, Jhon. Tapi bukan berarti kamu bisa menghinaku seperti itu. Setidaknya kamu bisa menjaga perasaanku." Sambung Lisa masih di iringi dengan air mata buayanya.
"Berhenti berakting, Lisa. Harusnya kamu sadar diri. Lihat penampilanmu sekarang, bukankah sama persis dengan perempuan murahan yang ada di jalanan?" Jhon menatap Lisa semakin tajam, ucapannya semakin dingin membuat Lisa semakin mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. "Dan satu lagi, mulai saat ini kamu bukan lagi tunanganku, mengerti!" Tegas Jhon membuat Lisa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Jhon barusan.
__ADS_1
"Tidak, Jhon. Sampai kapan pun kamu tetap tunanganku. Apalagi sebentar lagi kita akan menikah. Kamu tidak bisa memutuskan aku begitu saja." Ucap Lisa tetap berusah untuk mempertahankan image perempuan yang lemah lembut.
"Pernikahan kita di batalkan. Dan kamu harus tahu, Lisa. Pertunangan ini bukan keinginanku, jadi aku berhak memutuskannya kapan pun aku mau. Jadi, berhenti menggangguku." Tegas Jhon semakin membuat darah yang ada dalam diri Lisa mendidih.
"Pokoknya aku tidak akan menyetujuinya, Jhon. Kamu harus menjadi milikku, pernikahan ini tetap akan di laksanakan." Teriak Lisa membuat para pengunjung langsung menatap ke arahnya.
"Terserah. Yang jelas aku tidak sudi menikah denganmu dan aku akan tetap membatalkan pernikahan ini, dan satu lagi, kamu tidak pantas menjadi istirku." Ucap Jhon dengan nada yang semakin dingin.
__ADS_1
"Ya. Kamu benar, hanya Mentari yang pantas menjadi istriku, dan kamu sama sekali tidak pantas." Tegas Jhon sambil bersidekap menatap tajam Lisa.
"Mentari, Mentari, Mentari dan Mentari. Apakah hatimu sudah di butakan olehnya, Jhon? Sudah lima tahun dia menghilang dan kamu masih mengharapkannya? Biar ku kasih tahu sama kamu, Mentari pergi dengan laki-laki lain, sekarang dia sudah menikah dan hidup bahagia, jadi untuk apa kamu memikirkannya? Dia sudah mengkhianatimu, Jhon. Bukalah mata hatimu." Ucap Lisa kembali memperlihatkan aktingnya yang luar biasa.
"Aku tidak perduli dengan ucapanmu Lisa. Yang jelas, Satu-satunya perempuan yang aku cintai dan perempuan yang pantas menjadi istriku hanyalah MENTARI." Tegas Jhon sambil menegaskan kalimat di belakangnya.
"Tapi dia sudah mengkhianatimu, Jhon. Dia sudah menikah dengan laki-laki lain dia bukan perempuan baik-baik. Hanya aku yang pantas untukmu, Jhon. Bukan Mentari."
__ADS_1
"Sebaiknya kamu pulang dan bercermin di rumahmu, kamu lihat baik-baik dirimu sendiri, ucapan yang kamu lontarkan barusan, sangat cocok untuk dirimu, bukan Mentari." Ucap Jhon membuat Lisa merasa terhina dan tidak terima.
Bersambung.