
Jho menurunkan Mentari tepat di depan mobilnya, ia tersenyum, lalu membukakan pintu mobil untuk calon istrinya itu.
"Silahkan masuk, sayang." Ucapnya begitu lembut dan halus.
Mentari mengerutkan keningnya, ia menatap Jho bingung penuh tanda tanya.
"Bagaimana dengan mobilku?" Tanyanya bingung.
"Kan ada Rega, sayang. Ayo masuk." Ucap Jho sembari mengelus lembut pucuk kepala calon istrinya itu.
"Asistenmu, bagaimana?" Mentari kembali bertanya sebelum ia masuk ke dalam mobil calon suaminya.
"Dia akan menyetir untuk kita, sayang." Jawab Jho santai kayak di pantai. Ah sepertinya si asisten datar bin jomblo itu akan mengalami kesialan yang haqiqi. Bayangkan saja, dia akan berada di dalam satu mobil dengan si raja bucin itu, dan kalian pasti tahu, dengan sifat dan sikap si raja bucin itu, ia pasti tidak akan duduk diam seperti biasanya.
"Ayo kita masuk, sayang." Ajak Jho sembari memperlihatkan senyumannya yang manis se manis madu.
Mentari mengangguk, sebelum ia masuk, ia terlebih dahulu memanggil Rega. "Ga, kamu pulang sendiri, ya. Jho akan mengantarku pulang." Ucap Mentari dengan nada datar seperti biasanya. Namun ntah mengapa terdengar lembut di indera pendengaran si raja bucin itu, membuat hatinya panas.
__ADS_1
"Baik, kamu berhati-hatilah, jangan sampai di makan oleh singa jantan yang ada di sampingmu itu." Seru Rega sambil melirik sekilas ke arah Jho.
Mentari mengerutkan keningnya heran, perasaan di sampingnya tidak ada singa jantan, lalu mengapa asisten papanya itu mengatakan bahwa di sampingnya ada singa jantan? Apakah yang di maksud oleh Rega adalah calon suaminya? Ah tidak mungkin, Jho tidak mirip dengan singa jantan, tapi Jho lebih mirip dengan kucing kecil yang kehilangan induknya di mata Mentari saat ini.
"Kamu ini ada-ada saja, Ga. Mana ada singa jantan di sampingku. Sudahlah, aku pergi dulu, kamu hati-hati, bawa mobilnya jangan kebut-kebutan, mengerti." Ucap Mentari dengan tegas.
"Aku mengerti." Jawab Rega singkat.
Setelah itu Mentari langsung masuk ke dalam mobil calon suaminya, di dalam sana Jho sudah menunggu dengan raut wajah yang terlihat kesal membuat Mentari bingung.
Egi langsung melajukan kendaraannya, dalam hati ia berdoa agar mobilnya itu segera tiba di kediaman calon istri bosnya tersebut.
"Ada apa denganmu? Kenapa wajahmu di tekuk seperti itu?" Tanya Mentari penasaran.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Hanya saja aku merasa kesal saat mendengar kamu berbicara begitu lembut dan penuh perhatian sama asisten papamu itu." Jawab Jhon dengan jujur.
"Kamu cemburu lagi?" Mentari bertanya sembari menatap lekat wajah calon suaminya itu.
__ADS_1
"Apa salahnya kalau aku cemburu sama calon istriku?" Ucap Jhon sambil merangkul pinggang calon istrinya, membawanya ke dalam pelukannya.
"Pokoknya aku tidak mau kamu berbicara lembut dan penuh perhatian seperti tadi lagi, mengerti." Tegas Jhon sambil menatap dalam dua bola mata indah calon istrinya itu.
Mentari tertawa pelan, bisa-bisanya si raja bucin itu cemburu kepada Rega si asisten papanya itu, padahal menurut Mentari, cara bicara ia kepada Rega biasa saja, tidak lembut atau pun penuh perhatian. Lalu! Mengapa si raja bucin itu bisa menyimpulkan seperti itu? Apakah dia sudah di butakan oleh api cemburunya? Ataukah pendengarannya jadi terganggu? Ah ntahlah hanya Jhon dan author yang tahu.
"Sayang, kamu ini terlalu berlebihan, mana ada aku berbicara lembut dan penuh perhatian terhadap orang lain, selain kamu, calon suamiku sendiri? Ada-ada aja kamu ini." Seru Mentari sambil mencubit gemas hidung mancung calon suaminya itu.
Jho tertawa, ia pun menghentikan tangan calon istrinya, lalu berkata. "Tapi tetap saja, aku tidak suka dengan cara bicaramu tadi, sayang. Pokoknya kamu harus jaga jarak sama dia, mengerti." Ucap Jho dengan tegas namun nada suaranya tetap terdengar lembut.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan ikutin apa yang di ucapkan oleh si raja bucin ini." Jawab Mentari di iringi dengan tawanya yang membuat Jhon gemas dan seketika mendaratkan kecupan hangatnya di bibir calon istrinya yang selama ini selalu menggoda dirinya.
"Hukuman untukmu, sayang." Bisik Jho membuat wajah cantik Mentari memerah seperti tomat. Calon suaminya itu selalu saja mencuri ciumannya, tetapi bukan karena itu wajah Mentari memerah, karena di dalam mobil itu masih ada seseorang yang dapat di pastikan dia melihat apa yang di lakukan oleh calon suaminya barusan. Sangat memalukan. Pikir Mentari.
"Sialan! Kenapa juga gue harus nengok ke belakang, bikin mata suci gue ternodai saja." Batin seorang jomblo yang merasa matanya ternodai.
Bersambung.
__ADS_1