
Bu Widia menatap putranya, ia merasa sangat kasihan melihat putra satu-satunya itu harus di turunkan jabatannya oleh papanya sendiri. Padahal menurutnya kesalahan Alex tidak merugikan perusahaan suaminya, namun mengapa jabatan putranya harus di turunkan? Sungguh tidak masuk akal.
"Alex.... " Bu memanggil putranya dengan lembut.
"Aku tahu apa yang akan mama bicarakan sama aku, tapi, aku harus pergi sekarang. Mama jaga kesehatannya, ya. Aku pergi dulu." Ucap Alex di iringi dengan helaan nafas beratnya.
"Mama akan bicarakan lagi sama papa kamu, mama pasti akan membantumu agar papa.. " Ucapan bu Widia tercekat di tenggorokkannya.
"Tidak perlu, mah. Karena papa tidak akan pernah mengubah keputusannya." Ucap Alex menyela ucapan sang mama.
"Aku pergi dulu, mah." Pamitnya lagi. Setelah itu, Alex pun langsung melangkahkan kedua kakinya meninggalkan bu Widia yang terlihat akan membuka mulutnya.
"Tunggu, Alex.. Alex, mama belum selesai bicara." Seru bu Widia namun sama sekali tidak di hiraukan oleh putranya itu.
Alex terus berjalan keluar dari kediaman orangtuanya. Perasaannya begitu kacau, bukan hanya di ceraikan oleh istrinya saja, tetapi ia juga di turunkan jabatannya. "Sial, kenapa hidupku jadi seperti ini sekarang? Mentari tidak mau memaafkan kesalahanku, dan sekarang! Jabatanku di turunkan. Semua ini gara-gara, Lisa. Kalau dia tidak menggodaku, aku tidak mungkin kehilangan istriku. Brengsek!" Batin Alex sambil mengepalkan kedua tangannya dengn kuat menahan amarah yang mulai muncul dalam hatinya.
Alex menghentikan langkah kakinya saat ia tiba di depan pintu mobilnya, dengan tidak sabaran Alex pun langsung membuka pintu mobil itu, kemudian ia masuk dan menutup kembali pintu mobil itu dengan cukup keras membuat kedua satpam yang sedang menikmati kopinya berjingkat kaget.
__ADS_1
"Ya Allah untung jantung abdi teu copot. Aya naonnya sama mas Alex?" Ucap salah satu satpam itu sambil menatap ke arah mobil anak majikannya.
"Sigana ada masalah. Tidak biasanya mas Alex seperti itu." Jawab pak satpam satunya lagi.
"Masalah apa kitu sampai-sampai membuat mas Alex seperti itu?"
"Mana saya tahu, sudah, sudah jangan bergosip lagi, nanti kalau mas Alex dengar kita bisa celaka." Ucap si pak satpam memelankan volume suaranya.
"Gak mungkin denger atuh, jaraknya juga jauh dari sini ke... "
Setelah mobil Alex sedikit menjauh, pak satpam itupun kembali menutup gerbang tersebut, ia kembali melangkahkan kedua kakinya menuju tempatnya tadi.
***
Mentari menghela nafasnya panjang, ia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, tangannya merogoh ponsel yang berada di dalam tas kecil miliknya itu. Mentari tersenyum ketika ia melihat nama Jhon tengah mengiriminya sebuah pesan.
"Laki-laki ini benar-benar tidak sabaran." Gumamnya sambil membuka pesan yang di kirimkan oleh Jhon kepadanya barusan.
__ADS_1
*Apakah kamu sudah sampai?*
Itulah isi pesan singkat dari Jhon, si laki-laki yang kini sedang berjuang untuk mendapatkan perempuannya kembali.
*Sudah.*
Mentari membalasnya dengan singkat dan padat, Lalu setelah itu Mentari pun membuka beberapa pesan lainnya lagi.
*Mentari, aku sangat merindukanmu, aku masih berharap kamu mau memaafkanku.*
*Aku sangat menyesal, sayang. Aku mohon maafkanlah aku.*
*Andai waktu bisa ku putar kembali, aku pasti tidak akan mengkhianatimu. Tolong maafkan aku, Mentari.*
"Sangat lucu. Tapi sayangnya, waktu tidak akan pernah bisa di putar kembali, apa dia pikir, dia sedang berada dalam dunia komik? Menggelikan sekali." Ucap Mentari setelah ia membaca pesan yang di kirim oleh Alex tadi. Mentari langsung menghapus semua pesan yang di kirim oleh suaminya itu. Lalu setelahnya, ia pun memblokir nomor kontak Alex agar laki-laki brengsek itu tidak dapat menghubunginya lagi.
Bersambung.
__ADS_1