Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Posesif seperti dulu


__ADS_3

Rumah Sakit


Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mentari mulai membuka kedua matanya secara perlahan saat ia merasakan sentuhan lembut di wajahnya. Tatapan Mentari langsung tertuju pada laki-laki tampan yang kini sedang menyunggingkan senyumannya, siapa lagi kalau bukan Jhonatan, laki-laki yang begitu mencintai dirinya.


"Apa aku sudah mengganggu tidurmu?" Tanya Jhon dengan nada yang begitu lembut dan halus, membuat Mentari tersenyum indah.


"Hmmm... Kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah semalam kamu pergi? Lalu dimana mama?" Mentari bertanya sembari menatap Jhon dengan tatapan yang menurut Jhon sama seperti dulu lagi. Tentu saja itu membuat Jhon begitu bahagia.


"Setelah urusanku selesai, aku sengaja datang kesini untuk menemanimu. Aku menyuruh mamamu pulang untuk beristirahat. Kasihan jika mamamu harus tidur di sini." Ucap Jhon masih dengan nada yang begitu lembut dan halus.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Jangan berterima kasih, aku melakukan ini semua untuk dirimu." Jhon mengelus lembut wajah Mentari yang terlihat begitu natural tanpa hiasan di wajahnya itu, ia menyunggingkan senyumannya, lalu berkata kembali.


"Mentari aku sangat bahagia karena kamu sudah mengingat semuanya. Aku berharap, rasa cintamu terhadapku kembali seperti dulu lagi."


Mentari terdiam sejenak, ia menatap Jhon dengan tatapan mata yang sulit di artikan membuat Jhon bertanya-tanya.


"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah ada yang ingin kamu tanyakan sama aku?" Tanya Jhon sambil mengusap lembut pucuk kepala wanita yang sudah ia klaim sebagai miliknya itu.


"Berbaringlah, sayang. Jangan sampai kepalamu pusing." Ucap Jhon membuat Mentari terkekeh pelan. Sifat posesif Jhon itu kembali membuat Mentari teringat akan masa lalunya bersama Jhon.


"Hey! Kenapa kamu malah tertawa hmm." Jhon mencubit gemas hidung mancung Mentari, seolah-olah ia kembali ke masa mudanya dulu.

__ADS_1


"Kamu sama sekali tidak berubah, Jhon. Kamu selalu bersikap posesif seperti dulu saat kita masih bersama. Padahal aku sudah tidak apa-apa, tapi kamu malah bersikap sangat berlebihan. Sama seperti dulu ketika aku terjatuh dan terluka di lututku, kamu malah membawaku ke rumah sakit dan menyuruhku untuk menginap di rumah sakit." Ucap Mentari di iringi dengan kekehannya.


"Itu tidak berlebihan, sayang. Aku melakukan itu semua demi kebaikanmu. Dan itu artinya cintaku tidak pernah berubah meskipun sudah lima tahun lamanya." Jhon kembali mencubit gemas hidung mancung Mentari, Mentari kembali tertawa, hatinya merasa bahagia seolah-olah ia kembali ke masa lalu, masa dimana ia menjadi kekasih Jhon.


"Tapi aku mau duduk, Jhon. Aku sudah tidak apa-apa, jadi biarkan aku duduk ya. Lagian aku tidak nyaman kalau berbicara sambil tiduran seperti ini." Ucap Mentari sembari menampilkan wajah yang sangat menggemaskan di mata Jhonatan.


Jhon menarik nafasnya, lalu membuangnya secara perlahan. "Baiklah, mari aku bantu." Jawabnya sembari mengulurkan tangannya dan membantu Mentari untuk duduk. "Kalau ada yang kamu rasakan, kamu bilang, ya." Tuturnya dengan nada yang masih begitu lembut dan halus.


"Hmm, sejujurnya ada yang ingin aku tanyakan sama kamu, Jhon. Tapi sepertinya waktunya tidak tepat." Ucap Mentari membuat Jhon mengerutkan dahinya dan bertanya-tanya. "Aku lapar, Jhon. Kenapa tidak ada sarapan di sini?" Tutur Mentari seketika membat Jhon tersenyum kaku. Saking bahagianya, ia sampai melupakan isi perut pujaan hatinya itu.


__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2