Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Laki-laki asing


__ADS_3

Bu Widia menghela nafas beratnya, kemudian ia menatap putra semata wayangnya dan berkata. "Jangan dengarkan ucapan papamu, Alex. Mama akan selalu ada di sampingmu meskipun kamu membuat kesalahan, jadi mama harap kamu akan memberitahu mama yang sesungguhnya. Mama berjanji, mama akan membantumu agar kamu tidak bercerai dengan istrimu."


Alex mengusap wajahnya kasar, saat ini bu Widia lah Satu-satunya orang yang berada di pihaknya sekaligus orang yang akan membantu dirinya untuk mempertahankan istrinya. "Maaf, mah. Aku benar-benar khilaf. Aku memang memiliki hubungan dengan Lisa. Tapi, aku sudah memutuskan hubunganku dengannya. Aku sadar sekarang perempuan yang benar-benar aku cintai hanyalah Mentari." Alex kembali mengusap wajahnya kasar, ia juga menghela nafas beratnya kemudian berkata lagi.


"Mah, aku mohon bantu aku untuk membuat Mentari tetap tinggal bersamaku, bantu aku untuk membuat Mentari mau memaafkan kesalahanku, aku benar-benar menyesal, mah. Aku sungguh sangat menyesal." Alex menggenggam erat telapak tangan sang mama, nada suaranya terdengar begitu menyedihkan seolah-olah ia sedang menderita karena sang istri kini sedang menggugat cerai dirinya.


Bu Widia mengusap lembut kepala putra semata wayangnya itu, sejujurnya ia merasa terkejut dengan pengakuan Alex barusan, namun bagi bu Widia setiap manusia pasti memiliki kesalahan, apalagi Alex yang notebanenya seorang laki-laki normal, sangat wajar jika dia tergoda oleh seorang wanita cantik seperti Lisa mantan putranya itu.


"Mama akan berbicara dengan Mentari nanti, jadi kamu jangan bersedih lagi, setiap manusia pasti memiliki kesalahan, dan setiap manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu. Mama sangat yakin, Mentari pasti akan memaafkanmu, Alex." Ucap sang mama membuat Alex tersenyum semakin menambah kepercayaan dirinya bahwa Mentari akan memaafkan kesalahannya itu.

__ADS_1


"Terima kasih, mah. Kalau begitu aku pergi dulu, mah." Alex mencium pipi sang mama, hatinya mulai tenang karena ucapan sang mama barusan.


"Iya, sayang. Memangnya kamu mau pergi kemana?" Tanya sang mama sambil mengerutkan keningnya penasaran.


"Aku ingin menemui Mentari, mah." Jawab Alex sambil bangkit dari tempat duduknya. "Aku berangkat dulu, mah." Pamitnya yang mendapat anggukkan kepala dari sang mama. Setelah itu, Alex pun mulai melangkahkan kedua kakinya meninggalkan kediaman orangtuanya.


***


Mentari duduk di atas rerumputan hijau sambil menatap indahnya pemandangan yang ada di hadapannya. Ia tersenyum, lalu memejamkan kedua bola matanya menikmati hembusan angin yang begitu menyejukkan.

__ADS_1


Seorang laki-laki tampan tersenyum sambil melangkahkan kedua kakinya mendekati Mentari. Laki-laki itu duduk di hadapan Mentari yang kini masih memejamkan kedua bola matanya dengan tenang dan damai.


"Cantik sekali." Ucap laki-laki itu membuat Mentari seketika membuka kedua bola matanya. Mentari menatap kesal laki-laki tampan itu, kemudian ia berkata.


"Apa menurutmu sangat sopan duduk di depan perempuan yang tidak kamu kenal hah!" Cetus Mentari dengan tatapan matanya yang tajam.


Laki-laki tampan itu terkekeh dengan pelan, baru kali ini ia menemukan perempuan yang begitu galak seperti Mentari. "Bagaimana kalau kita kenalan sekarang." Laki-laki itu menyodorkan tangan kanannya kepada Mentari, namun Mentari sama sekali tidak menggubrisnya, Mentari justru bangkit dari atas rumput hijau itu dan berjalan melangkahkan kedua kakinya membuat si laki-laki tampan itu kembali bersuara.


"Kenalkan, namaku Rey Alexander. Kamu bisa memanggilku Rey. Nama kamu siapa?" Ya laki-laki itu adalah Rey Alexander, sepupu Jhonatan yang baru kembali dari luar negeri.

__ADS_1


"Gak nanya!" Ucap Mentari sembari mempercepat langkah kakinya meninggalkan Rey yang terlihat sedang menyunggingkan senyumannya.


Bersambung.


__ADS_2