Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Kamu membuat anak orang hamil?


__ADS_3

Kediaman Alfarizzy.


Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Jhon sudah rapi dengan setelan tiga potongnya, wangi parfum yang maskulin sudah menyebar di seluruh tubuhnya membuat siapapun pasti betah berada di sisinya, termasuk auhtornya sendiri. Jangan ngarep, thor.


Jhon perlahan melangkahkan kedua kakinya keluar, dan menuruni anak tangganya satu persatu menuju ruang makan.


Di ruang makan, mama Celine dan pak Calvin sudah duduk manis menunggu putra satu-satunya itu untuk sarapan bersama.


Jhon menarik kursi yang ada di hadapan mamanya, raut wajahnya terlihat begitu cerah, secerah sinar mentari pagi.


"Sepertinya kamu sedang dalam mood yang bagus Jhon." Ucap pak Calvin sambil menatap putra semata wayangnya itu.


"Setiap hari aku selalu memiliki mood yang bagus kok, pah." Jawab Jhon sembari membalas tatapan yang di berikan oleh papanya itu.

__ADS_1


"Tapi, sepertinya mood kamu pagi ini lebih bagus dari kemarin-kemarin, Jhon. Katakan! Apa yang membuatmu seperti ini?" Tanya pak Calvin mulai kepo seperti anak muda.


"Ekhmm." Jhon berdehem pelan, lalu ia meraih secangkir kopi hitam yang sudah di siapkan oleh si bibi.


"Papa sedang bertanya, Jho! Papa butuh jawaban kamu bukan deheman kamu." Seru pak Calvin sembari menatap putranya sedikit kesal, sementara mama Celine hanya dapat menggelengkan kepalanya pelan, melihat ke kepoan suaminya itu.


Jhon nampak mengacuhkan pertanyaan papanya itu, ia lebih memilih untuk menikmati secangkir kopi hitam itu dengan tenang, membuat pak Calvin semakin kesal saja.


"Jhonatan Alfarizzy! Kamu mengabaikan pertanyaan papa! Apa kamu tidak takut di kutuk sama papa menjadi batu?" Seru pak Calvin yang mendapat gelak tawa dari putranya dan juga istri tercintanya.


Jhon menaruh kembali secangkir kopi itu di atas meja, ia menatap papanya dengan tawa yang masih saja tersungging dari sudut bibirnya.


"Papa tuh ada-ada aja. Gak ada sejarahnya seorang ayah mengutuk anaknya menjadi batu pah. Lagian aku anak yang baik dan penurut, sekalipun papa mengutukku, aku tidak mungkin berubah menjadi batu." Ucap Jhon masih dengan tawa renyahnya.

__ADS_1


"Betul yang di ucapkan oleh Jhon, pah. Masa papa mau ngutuk mama juga, aneh-aneh aja papa ini." Timpal mama Celine sambil menggelengkan kepalanya menatap sang suami yang terlihat kesal.


"Tapi, Jhon! Mama juga sangat penasaran, ada apa sama kamu hari ini? Kenapa wajahmu sangat bahagia seperti itu? Apakah ini ada hubungannya dengan calon mantu mama, Mentari?" Tanya mama Celine sambil menatap penasaran ke arah putranya itu.


Jhon nampak menghela nafasnya, ia menatap sang dan juga papanya secara bergantian.


"Mah, aku mau menikah dengan Mentari secepatnya." Ucapnya membuat kedua orangtua sedikit terkejut dan saling melempar pandangannya satu sama lain.


"Jangan becanda, Jhonatan! Bagaimana mungkin kalian menikah secepatnya? Memangnya pernikahan itu hanya sekedar main-main saja?" Seru pak Calvin sembari menatap putranya itu.


"Benar kata papa, Jhon. Bukankah kamu bilang sama mama kalau Mentari meminta waktu dua bulan? Lalu kenapa sekarang kamu malah ingin secepatnya menikahi dia? Apakah dia sudah setuju? Atau kamu memaksakan kehendakmu? Atau jangan-jangan, kamu sudah membuat anak orang hamil?" Tebak mama Celine membuat Jhon tersedak kopi hitamnya.


Bagaimana mungkin mamanya itu bisa berpikiran hingga sejauh itu terhadap putra kandungnya sendiri? Jangankan membuatnya hamil, hanya sekedar mencium saja, Jhon harus mencuri waktu yang tepat dulu, baru ia bisa mendapatkan ciuman itu.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2