
Amarah dalam diri Lisa semakin meluap, darah dalam dirinya semakin mendidih, kepalan tangannya semakin kuat, ia benar-benar tidak bisa terima jika laki-laki yang ia cintai menghinanya hanya Karena seorang perempuan yang sudah menikah. Meskipun pada kenyataannya ucapan yang di lontarkan oleh Jhon memanglah benar, tetap saja Lisa tidak dapat menerimanya. Bagi Lisa, dia adalah perempuan baik-baik, perempuan yang begitu mencintai Jhon, perempuan yang paling cocok untuk menjadi istri Jhon.
Melihat Lisa yang hanya terdiam sambil menatap dirinya, membuat Jhon kembali bersuara. "Pergi sekarang, dan jangan muncul lagi di hadapanku." Tegasnya membuat Lisa semakin marah.
"Baiklah aku akan pergi dari sini, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Jhon. Aku tidak akan pernah membiarkan pernikahan kita gagal, karena yang pantas menadi istrimu hanya aku, bukan Mentari." Ucap Lisa dengan rasa percaya dirinya yang tinggi membuat Jhon tertawa.
Jhon benar-benar merasa lucu dengan apa yang di ucapkan oleh Lisa barusan, ah sepertinya jajaran perempuan yang paling tidak tahu malu nomor satu di dunia di dapatkan oleh Lisa, sayang sekali jika Lisa tidak mendapatkan penghargaan itu. Jhon menghela nafasnya panjang, ia semakin muak saja melihat perempuan tidak tahu malu itu yang kini sedang menampilkan wajah memelasnya serta air mata buayanya masih mengalir indah di wajah cantiknya membuat orang-orang yang melihatnya merasa iba.
Jhon ingin mengeluarkan kata-kata mutiaranya untuk Liss, namun saat dirinya melihat wanita yang begitu di cintainya datang dan berjalan ke arahnya, Jhon pun membatalkan niatnya. Ia lebih memilih menatap wanita cantik itu yang tak lain adalah Mentari sambil memperlihatkan senyumannya yang tampan dan mempesona membuat Lisa yang melihatnya pun seketika mengerutkan keningnya bingung.
__ADS_1
Mentari berdiri di belakang kursi yang di duduki oleh Lisa, ia terlihat begitu cantik meskipun ia hanya mengenakan pakaian sederhana.
"Orang yang aku cintai sudah datang, sebaiknya kamu segera meninggalkan tempat ini." Perintah Jhon dengan begitu dingin dan juga tatapan matanya yang masih tajam.
Mendengar ucapan Jhon barusan membuat Lisa seketika menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Mentari sedang berdiri di belakangnya, "Mentari, lo ngapain di sini?" Tanya Lisa dengan tatapan mata penuh selidik.
"Kenapa? Memangnya ada masalah jika aku berada di sini?" Mentari berbalik nanya sambil menatap Lisa dengan dingin. "Dan lo sendiri ngapain di sini? Kenapa lo menangis?" Tanya Mentari membuat Lisa seketika menghapus air mata buayanya.
"Calon suamimu?" Mentari mengernyitkan keningnya tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, dia... " Ucapan Lisa tercekat di tenggorokkan ketika Jhon membuka mulutnya dan berkata.
"Pergi dari sini, SEKARANG." Jhon kembali menatap Lisa dengan dingin.
Lisa tidak menggubris ucapan Jhon, ia justru menatap Mentari dengan tatapan mengejek dan menghina seakan-akan Menrari adalah perempuan ****** yang sudah bersuami tetapi masih ingin merebut calon suaminya itu.
"Mentari, Mentari. Lo sudah bersuami tapi lo masih ketemuan sama laki-laki lain di luar?" Ucap Lisa sengaja mengeraskan suaranya agar semua orang yang ada di restauran itu mendengar ucapannya. Lisa kembali meneteskan air mata buayanya, lalu ia kembali berkata. "Bahkan laki-laki itu adalah calon suami gue, sahabat lo sendiri. Tapi, kenapa lo tega berbuat seperti ini sama gue, Mentari? Apa salah gue sama lo?"
Semua orang langsung berbisik-bisik, mereka tidak menyangka jika Mentari adalah perempuan yang sudah bersuami, namun masih ingin merebut calon suami sahabatnya sendiri.
__ADS_1
Bersambung.