Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Untuk apa aku hidup


__ADS_3

Jakarta Indonesia


Alex menatap layar ponselnya yang menampilkan photo pernikahan mantan istrinya dengan suami barunya dengan sendu. Hatinya terasa sangat sakit, dadanya serasa sesak, sepertinya ia harus benar-benar melupakan mantan istri tersayangnya itu.


"Aaargh.... "


Alex mengusap wajahnya kasar, ia melempar ponselnya begitu saja ke dasar lantai, membuat bu Widia yang baru saja masuk ke dalam rumanhnya sedikit terkejut.


Bu Widia segera menghampiri putra semata wayangnya itu, "Kamu kenapa Alex? Mengapa kamu melempar ponselmu?" Tanya bu Widia membuat Alex langsung menatapnya dengan sendu.


"Mama, ada apa mama kesini?" Alex berbalik nanya sambil menjatuhkan bokongnya di sofa.


"Tentu saja mama ingin melihatmu." Jawab bu Widia sembari duduk di samping putranya. "Kamu belum menjawab pertanyaan mama, Alex. Kenapa kamu melempar ponselmu tadi? Apakah kamu ada masalah?" Tanya bu widia kembali ke pertanyaan semula.

__ADS_1


Alex menghela nafas beratnya, ia mengambil sebotol air mineral yang berada di atas meja, kemudian ia meneguknya secara perlahan, lalu meletakkan kembali botol itu di atas meja.


"Dia sudah menikah mah." Ucapnya terdengar sendu.


"Siapa yang sudah menikah, Lex?" Tanya bu Widia sambil menatap putranya penasaran.


"Mentari, mah. Dia sudah menikah." Lirih Alex sambil mengusap wajahnya kasar. "Aku sama sekali tidak memiliki kesempatan lagi, mah. Dia sudah menjadi milik orang lain sekarang, apa yang harus aku lakukan, mah?" Serunya sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menutupi kesedihannya.


Bu Widia, mengusap pundak Alex dengan lembut, ia berusaha untuk menenangkan hati putranya itu. "Mama sudah bilang sama kamu, lupakan dia, jalani hidupmu sendiri. Di dunia ini perempuan bukan hanya ada dia saja, Alex. Masih banyak perempuan yang jauh lebih baik daripada dia." Ucap bu Widia di iringi dengan helaan nafasnya.


"Alex, jangan terlalu berlebihan dalam mencintai seseorang, karena itu akan membuatmu sakit hati sendiri." Ucap bu Widia sembari mengusap pundak putranya itu. "Jika kamu benar-benar mencintainya, biarkan dia bahagia dengan pasangannya. Lupakan dia, lupakan semua masa lalumu bersamanya. Mama tidak ingin kamu seperti ini terus, Alex. Mama ingin kamu kembali seperti dulu lagi, kamu yang selalu ceria, kamu yang selalu memperlihatkan senyumanmu ketika berbicara dengan mama."


"Mama rindu kamu yang dulu, Alex." Bu Widia terlihat menjatuhkan air matanya, sungguh ia tidak ingin melihat putranya seperti sekarang, ia ingin melihat putranya kembali lagi seperti dulu yang selalu tersenyum dan bahagia.

__ADS_1


Alex terdiam, ia sama sekali tidak menggubris ucapan mamanya. Ia masih tidak dapat menerima kenyataan bahwa wanita yang ia cintai sudah di miliki oleh laki-laki lain. Hati Alex terasa ngilu ketika dirinya membayangkan wanita yang di cintainya itu tidur bersama laki-laki lain, melakukan hal intim seperti saat bersamanya dulu.


"Aaarghhhh Tuhan tidak adil terhadapku, kenapa aku sama sekali tidak di beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Kenapa... Kenapaaaaa?" Alex berteriak sembari melempar botol air mineral tadi, membuat bu Widia terkejut dan berusaha untuk kembali menenangkan putranya itu.


"Alex, sadarlah. Jangan seperti ini." Seru bu Widia sembari memeluk putranya. "Mama tidak ingin kamu seperti ini, sadarlah." Lirih bu Widia di iringi dengan isak tangisnya.


"Mah, untuk apa aku hidup, jika perempuan yang aku cintai sudah bersama orang lain? Untuk apa mah? Lebih baik aku mati.... "


Bu Widia langsung melepaskan pelukannya, kemudian ia menampar wajah putranya dengan cukup keras.


"SADARLAH ALEX, SADAR. JANGAN MENJADI BODOH HANYA KARENA SEORANG PEREMPUAN. MAMA DAN PAPA MASIH MEMBUTUHKANMU, MAMA DAN PAPA SANGAT MENYAYANGIMU, ALEX." Ucap bu Widia dengan lantang. Ia benar-benar tidak habis pikir mengapa putranya itu bisa berbicara sampai seperti itu hanya karena seorang perempuan? Apakah akal sehatnya sudah hilang?


Alex terdiam dengan rasa sakit di sebelah pipi kanannya. Ia sama sekali tidak mengindahkan ucapan sang mama barusan, pikirannya saat ini melayang ntah kemana.

__ADS_1


Bu Widia kembali menatap putranya iba, ia tidak menyangka jika Mentari dapat mempengaruhi hidup putranya hingga seperti itu. Jika ia tahu putranya akan seperti ini, mungkin dulu ia akan bersujud dan memohon agar Mentari mau memaafkan dan berbaikan dengan putra kesayangannya. Namun sayangnya, semuanya itu sudah terlambat, Mentari sudah menikah dengan orang lain, Mentari juga sudah sangat membenci putranya.


Bersambung.


__ADS_2