
Alex menatap photo pernikahannya dengan Mentari yang berada di dalam kamarnya. Meskipun ia sudah bercerai dengan Mentari, tetapi ia tetap memajang photo pernikahannya itu.
Bayangan wajah cantik mantan istrinya terus saja berputar di kepalanya, senyumannya yang manis, ucapannya yang lembut, serta tingkah lakunya yang manja membuat Alex begitu merindukannya.
Penyesalan selalu saja menghantui dirinya, rasa sakit masih saja menyelimutinya ketika ia mengingat perbuatannya yang sudah sangat menyakiti perasaan mantan istri tetcintanya itu.
Alex sadar jika gelas yang sudah jatuh dan pecah ke lantai itu tidak dapat kembali seperti semula. Begitu pun juga dengan Mentari, jika hatinya sudah tersakiti, lukanya akan terus membekas selamanya.
Perlahan tangan Alex terulur mengelus photo mantan istrinya yang tersenyum bahagia itu, mengelusnya dengan lembut seolah-olah photo itu nyata berdiri dan tersenyum kepadanya.
"Aku tidak pernah berpikir jika pernikahan kita akan berakhir seperti ini. Kamu tahu, Mentari. Selama ini aku hidup dengan penyesalan yang mendalam, bahkan penyesalan ini mungkin akan ku bawa sampai mati."
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Mentari. Kenapa kamu siksa aku sampai seperti ini?" Lirih Alex sembari menatap sendu photo mantan istrinya itu.
"Apa kamu selamanya tidak akan pernah memaafkan kesalahanku?" Alex mulai mengusap wajahnya kasar, selama ini ia selalu berusaha untuk menemui mantan istrinya itu, namun sayangnya, ia tidak pernah berhasil.
Bahkan ia rela menunggu dua jam di depan perusahaan GN Group, hanya untuk bertemu dengan mantan istrinya itu, tetapi sayangnya, takdir seolah-olah tidak mengizinkannya untuk bertemu dengan mantan istrinya itu. Alhasil ia harus pulang dengan perasaan kecewa.
Alex perlahan berjalan menuju balkon kamarnya, ia duduk di kursi, lalu merogoh sebungkus rokok dari dalam saku celananya. Alex membuka sebungkus rokok itu, lalu ia mengambil sebatang rokok, menjepitnya di sela-sela jarinya. Alex kemudian mengambil pematik dan menyalakannya.
***
Perusahaan Permana Group.
__ADS_1
Pak Permana menghela nafas beratnya, ini adalah ke empat kalinya Alex tidak menginjakkan kakinya di perusahaan. Meskipun Alex pernah melakukan kesalahan yang menurutnya sangat fatal, tetapi sebagai seorang ayah, ia tentu saja merasa khawatir, apalagi ia mendapat kabar bahwa akhir-akhir ini kesehatan Alex mulai memburuk, namun putranya itu enggan untuk pergi ke rumah sakit.
Pak Permana terus memikirkan ucapan istrinya yang mengatakan jika putranya itu sudah tidak lagi memikirkan kesehatannya. Bahkan istrinya berkata, untuk makan pun Alex harus di paksa terlebih dahulu.
"Dasar bocah keras kepala." Gumam pak Permana sembari mengusap wajahnya kasar.
"Sudah kehilangan, baru kamu menyesal sampai-sampai kamu tidak memperdulikan kesehatanmu sendiri. Lalu? Kenapa kamu tidak pernah berpikir sebelum berbuat hal menjijikan itu, Alex? Ah sudahlah, bagaimana pun juga dia masih darah dagingku. Mungkin sudah saatnya aku memberikannya kesempatan lagi."
Pak Permana segera mengambil gagang telpon yang berada di atas meja kerjanya, kemudian ia segera menghubungi asistennya, lalu ia meminta sang asisten untuk datang ke ruangannya.
Pak Permana kembali menaruh gagang telpon itu ke tempatnya. "Sebaiknya aku pergi ke rumahnya nanti. Bocah keras kepala itu tidak akan mungkin menginjakkan kakinya ke rumah tanpa perintah dariku." Pak Permana kembali menghela nafas beratnya. Semenjak putranya itu resmi bercerai dengan Mentari, ia sudah tidak lagi bertemu dengan putranya tersebut. Bahkan ketika di perusahaan pun Alex selalu menghindarinya.
__ADS_1
Bersambung.