
Air mata Mentari kembali jatuh membasahi wajah cantiknya, hatinya terasa sangat sakit saat ia mengetahui bahwa sang papa mengidap penyakit mematikan yaitu penyakit kanker yang sudah mencapai stadium akhir.
"A,,, apa penyakit papa bisa di sembuhkan, mah?" Tanya Mentari terdengar sendu.
"Kita berdoa saja, sayang. Semoga Tuhan memberikan sebuah keajaiban untuk papamu." Jawab mama Natalia di iringi dengan helaan nafas beratnya.
Mentari hanya terdiam dengan isak tangisnya, ia sangat tahu betul tentang penyakit kanker itu, hanya sebagian orang yang berhasil untuk bertahan hidup.
Mama Natalia memeluk tubuh putrinya, mengusap punggungnya dengan lembut. "Kita harus kuat, sayang. Apapun yang terjadi kita harus siap untuk menerimanya." Ucapnya di iringi dengan kristal bening yang kembali menetes membasahi wajahnya cantiknya.
Mentari tetap terdiam, ia masih tidak dapat menerima kenyataan tentang penyakit yang di derita oleh papanya itu.
Mama Natalia mulai melepaskan pelukannya, ia menatap putrinya dengan sendu, tangannya terulur menghapus kristal bening yang masih saja terjatuh dan membasahi wajah cantik putrinya. "Besok mama harus pergi kesana untuk melihat kondisi papamu, sayang."
"Aku ikut, mah. Aku juga ingin melihat kondisi papa." Pinta Mentari sembari menatap mamanya dengan sendu.
"Sayang, kamu harus tetap di sini. Perusahaan butuh kamu, nak. Jika kamu ikut mama, bagaimana dengan perusahaan? Bukankah papamu mempercayakan perusahaannya sama kamu?" Ucap mama Natalia sambil mengusap lembut wajah putrinya itu.
"Tapi, mah. Aku tidak akan merasa tenang sebelum aku melihat kondisi papa di sana."
"Sayang, kamu jangan khawatir, setiap saat mama pasti akan memberitahu kamu kondisi papa di sana. Kamu cukup mendoakan papamu agar papamu dapat sembuh dari penyakitnya itu." Ucap sang mama sambil mengusap lembut pucuk kepala putrinya itu.
__ADS_1
"Sekarang kamu sudah menjadi pemimpin perusahaan, tanggung jawabmu sangat besar, apalagi papa sudah mempercayakan semuanya sama kamu, sayang."
Mentari menghela nafas beratnya, ia benar-benar ingin melihat kondisi papanya di sana, namun tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin perusahaan yang baru membuat dirinya harus menahan diri agar tidak pergi ke sana.
"Baiklah, aku akan menuruti mama." Jawab Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya. Mama Natalia tersenyum, keduanya kembali berpelukan saling menguatkan satu sama lain.
***
Kediaman Alfarizzy.
Saat ini Jhon sedang duduk di kursi yang berada di balkon kamarnya sambil menikmati secangkir kopi hitam yang masih terasa panas di lidahnya.
Jhon menghela nafas beratnya, matanya menatap langit yang terlihat begitu indah di hiasi oleh ribuan bintang dan sinar rembulan. Jhon terus memikirkan ucapan pak Geri kepada dirinya dua minggu yamg lalu.
*Om berharap, om dapat melihat kalian berdua menikah sebelum om meninggal.*
Ucapan itu terus terngiang-ngiang di telinganya, ia sangat ingin mewujudkan keingan calon mertuanya itu, namun ia juga tidak ingin memaksakan kehendaknya karena ia sudah berjanji akan menunggu Mentari selama batas waktu yang di tentukan oleh calon istrinya itu.
"Apa aku harus memberitahu Mentari tentang penyakit om Geri? Tapi, aku sudah berjanji untuk tidak memberitahu Mentari tentang penyakitnya itu. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" Ucap Jhon sembari mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar merasa dilema sekarang. Antara memberitahu atau tidak sama sekali.
Drrrttt.... Drrrt...
__ADS_1
Tiba-tiba saja ponselnya bergetar menandakan adanya panggilan masuk dari seseorang, Jhon segera meraih ponsel itu, lalu menggeser tombol berwarna hijau.
"Bagaimana, Eg. Apa kau sudah menemukannya?" Tanyanya langsung.
"Saya sudah menemukan dokter kanker terbaik yang ada di Thailand. Dia adalah dokter Pairoj Sinlarat. Seorang ahli Onkologi medis. Bekerja di rumah sakit Thonburi, Bangkok."
"Kerja bagus, Eg. Segera hubungi pihak rumah sakit tempat dimana om Geri di rawat. Pindahkan om Geri ke rumah sakit Thonburi, dan minta secara khusus dokter itu untuk menangani penyakitnya." Perintah Jhon dengan tegas.
"Baik, bos. Tapi bagaimana dengan bu Natalia?"
"Biar aku yang menghubungi mama Natalia. Aku sangat yakin, mama Natalia pasti akan menyetujuinya." Jawab Jhon dengan keyakinannya yang kuat.
"Baik, bos. Saya akan segera melaksanakan perintah anda."
"Baiklah, aku harap semuanya berjalan dengan sangat lancar."
Setelah mengatakan hal itu, Jhon pun langsung menggeser tonbol berwarna merah, ia kembali meletakkan Ponselnh di atas meja.
"Aku berharap om Geri dapat sembuh dari penyakitnya. Aku tidak ingin melihat calon istriku menangis dan tersiksa karena kepergiannya." Lirih Jhon sembari menatap kembali langit yang mulai di tinggalkan oleh ribuan bintang serta cahaya bulan.
Jhon meraih kembali benda pipih itu, lalu menyalakan layarnya dan menatap walpaper photo wanita yang di cintainya itu. "Sayang, aku pasti akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, semoga papamu segera sembuh dan menyaksikan pernikahan kita nanti." Ucapnya sembari mengelus photo calon istrinya yang terpampang di layar ponselnya.
__ADS_1
Bersambung.