
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi. Mentari sudah duduk manis di kursi meja makannya, begitu juga dengan mam Natalia. Keduanya sedang menikmati sarapannya masing-masing sambari menyelipkan obrolan ringan seperti biasanya.
"Mah, berapa lama papa berada di Thailand?" Tanya Mentari dengan tiba-tiba membuat mama Natalia langsung menghentikan niatnya untuk meminum teh hangatnya.
Mama Natalia menatap putrinya, ia tersenyum kemudian berkata. "Mungkin sampai perusahaan itu membaik, sayang. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, mah. Aku hanya merasa khawatir saja sama papa." Ucap Mentari yang memiliki perasaan tidak enak saat mengingat papanya.
Mama Natalia mengusap pundak putrinya, ia tetap memperlihatkan senyumannya yang manis agar putrinya itu tenang dan tidak lagi mengkhawatirkan papanya. "Sayang, doain saja agar perusahaan papa yang ada di sana berjalan dengan lancar dan papa cepat pulang, ok." Imbuhnya sambil tetap memperlihatkan senyuman terbaiknya.
"Iya mah, tapi bagaimana kalau perusahaan papa..."
"Sudah-sudah, jangan mikirin perusahaan papa lagi, sebaiknya kamu cepat pergi ke kantor, ini sudah hampir jam setengah delapan, loh. Nanti kamu akan terlambat." Sela mama Natalia membuat Mentari langsung melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Astaga... Mama benar, aku harus segera berangkat sekarang, aku lupa kalau pagi ini ada meeting penting." Ucap Mentari sembari menepuk jidatnya karena ia melupakan meeting penting dengan kliennya.
__ADS_1
Mentari langsung beranjak dari kursinya, tak lupa ia juga meraih tas dan juga berkas penting yang ia bawa kemarin dari perusahaannya itu. "Aku berangkat dulu ya mom's." Pamit Mentari sembari memberikan kecupan hangat di pipi kanan sang mama.
"Iya sayang. Hati-hati ya, bilang pak supir jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Seru mama Natalia sedikit berteriak karena putrinya itu sudah berlari kecil menuju pintu utama.
Setelah kepergian Mentari, mama Natalia menghela bafas beratnya. Ia kembali meraih secangkir teh hangatnya, lalu meneguknya secara perlahan. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya, pah." Lirihnya sambil menaruh kembali cangkir yang sudah tak terisi itu.
***
Semenjak perpisahaannya dengan Mentari, Alex nampak seperti orang berbeda. Tidak ada lagi senyuman ramah yang seperti dulu lagi. Bahkan saat ia berbicara dengan sang mama pun, nadanya terkesan sangat dingin.
Alex tersenyum kecut ketika ia mengingat senyuman bahagia mantan istrinya saat ia membawanya ke tempat itu.
"Aku sangat menyukai tempat ini. Tempat ini sangat tenang dan nyaman, bahkan pemandangannya pun begitu indah."
"Terima kasih sayang, karena kamu sudah membawaku ke tempat ini. Mulai sekarang tempat ini adalah tempat favoritku."
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Alex. Janji jangan tinggalin aku dan jangan pernah mengkhianatiku. Ingat ucapanku ini! Kalau kamu mengkhianatiku, aku tidak akan pernah memaafkanmu, meskipun kamu bersujud di bawah kakiku pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
"Aku percaya kalau kamu tidak akan mengkhianatiku, dan aku berjanji, aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain kamu."
Ucapan demi ucapan manis mantan istrinya terus berputar di kepalanya, kristal bening mulai mengembang di ekor matanya.
"Kamu pikir aku bodoh hah! Aku sudah tahu semuanya, Alex. Kamu berselingkuh dengan Lisa, bahkan kamu sudah tidur dengannya, dan lebih parahnya lagi, kamu dan Lisa bermain di rumah ini. Apa kamu pikir selama ini aku diam saja karena aku tidak tahu pengkhianatan kalian hah?"
"Kamu bertanya kenapa? Aku diam bukan berarti hatiku tidak sakit, aku diam bukan berarti aku menerima pengkhianatan suamiku dan sahabatku sendiri, aku diam bukan berarti aku bodoh, tapi aku diam karena aku ingin lihat sampai mana kamu akan membohongiku, sampai mana kamu akan terus berakting mencintaiku, sampai mana kamu akan berpura-pura bahagia hidup bersamaku."
"Semudah itu kamu minta maaf padaku, Alex? Apakah dengan kamu meminta maaf dan bersujud di bawah kakiku, rasa sakitku akan menghilang begitu saja? Ingat ucapanku baik-baik, semua yang kamu lakukan kepadaku, aku pasti akan mengembalikannya kepadamu."
Alex kembali mengingat ucapan mantan istrinya, penyesalan dalam hidupnya semakin bertambah, hatinya sangat sakit, apalagi saat ini ia sudah resmi menjadi orang asing dalam kehidupan mantan istrinya itu.
"Aaaaargh...... Mentari!!! Aku sangat mencintaimu. Aku bersumpah aku akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali. Aku bersumpah, Mentari." Teriak Alex d iringi dengan kristal bening yang membasahi wajahnya yang suram itu.
__ADS_1
Bersambung.