
Kediaman Alfarizzy.
Jhon sudah rapi dengan setelan tiga potongnya. Ia mulai berjalan menuruni anak tangganya satu persatu. Raut wajahnya terlihat begitu ceria, senyumannya mengembang dari sudut bibirnya, bahkan ia sesekali bersiul dan menggumamkan lagu jatuh cinta layaknya seorang anak baru gede alias ABG tua.
Jhon terus berjalan menuju ruang makan, di sana mama Celine dan juga pak Calvin sudah duduk manis sambil menatap putranya yang mulai kembali aneh seperti dulu saat Jhon berkirim pesan dengan Mentari.
Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak. Berdetak lebih cepat seperti genderang mau perang...
Jhon kembali tersenyum sendirian, ia menarik kursi, lalu ia duduk di kursinya, rasanya ia kembali seperti dulu lagi. Bahkan dunia ini terasa miliknya sendiri, mama dan papanya hanya ngontrak saja. Dasar durhaka.
"Pah, sepertinya anak kita sudah mulai stress lagi." Ucap mama Celine sembari menatap putranya yang asik dengan dunianya sendiri.
"Iya, mah. Sepertinya kita harus segera menemukan perempuan itu, sebelum dia benar-benar menggila. Itu akan sangat memalukan." Jawab pak Calvin sembari menatap istrinya sekilas kemudian ia kembali menatap putranya lagi.
"Sepertinya memang sudah keturunan, pah." Mama Celine meraih secangkir teh hangatnya, lalu menikmatinya secara perlahan.
__ADS_1
"Maksud mama?" Tanya pak Calvin sambil mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Bukankah papa juga dulu seperti itu kata mendiang orangtua papa. Bahkan papa lebih parah dari Jhon. Papa selalu joged dan bernyanyi lagu cinta layaknya seorang anak ABG, padahal dulu usia papa udah 35 tahun. Jadi pantas saja anaknya seperti itu." Jelas mama Celine membuat pak Calvin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ucapan istrinya itu memang benar, ketika ia jatuh cinta pada mama Celine kelakuannya tak beda jauh dari putranya itu. Tapi ia tidak menyangka jika mamanya sendiri menceritakan aibnya kepada sang istri. Benar-benar memalukan.
"Mama, kok jadi bahas masalalu papa, sih." Dengus pak Calvin sembari meraih secangkir kopinya dan meneguknya secara perlahan.
"Bukannya mama bahas masalalu papa, tapi putra kita itu mengingatkan mama sama ucapan mendiang orangtua papa dulu. Papa... " Ucapan mama Celine tercekat di tenggorokkan saat suaminya kembali mengeluarkan suaranya.
"Sudahlah, mah. Sebaiknya mama panggil roh putra mama itu, jangan sampai dia seperti itu terus. Gak lucu, mah."
Mama Celine mencubit gemas perut suaminya itu, bisa-bisanya suaminya menyuruh dirinya untuk memanggil roh putranya, padahal jelas-jelas roh putranya masih berada di dalam tubuhnya, hanya saja ia seperti itu karena sedang di landa asmara, sama seperti ayahnya dulu.
Jhon langsung menatap papanya, kemudian ia menjawab dengan nada sedikit malas. "Iya, pah."
"Kenapa kamu lemas seperti itu jawabnya? Apakah ada masalah?" Tanya pak Calvin sembari menatap putranya yang sudah kembali seperti sedia kala. Normal.
__ADS_1
Jhon menghela nafasnya kasar, ia meneguk air hangatnya, lalu menaruh gelas itu di atas meja. "Tidak ada, pah. Hanya saja aku malas berurusan sama perempuan genit itu." Jawabnya membuat pak Calvin mengerutkan keningnya bingung.
"Perempuan genit? Maksudmu?"
"Iya pemilik perusahaan itu menyuruh putrinya untuk mewakilinya, pah. Aku dengar dari Egi, perempuan itu sangat genit kalau lihat laki-laki tampan sepertiku." Jawab Jhon dengan tingkat rasa percaya dirinya yang tinggi membuat kedua orangtuanya menggelengkan kepalanya heran.
"Memangnya kamu itu tampan? Kamu itu hanya mewarisi setengah ketampanan papa saja, Jhon. Jangan terlalu percaya diri, belum tentu putri itu jatuh cinta sama kamu." Ucap pak Calvin membuat Jhon mendengus kesal. Sementara sang mama terkekeh dengan pelan.
"Malas aku bicara sama papa, lebih baik aku berangkat saja." Jhon berdiri kemudian ia berjalan dan mengecup pipi kanan sang mama. "Aku berangkat ya mah." Pamitnya dengan lembut.
Mama Celine menganggukkan kepalanya. "Hati-hati sayang. Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya, ya." Ucap mama Celine yang mendapat anggukkan kepala dari Jhon.
"Kamu tidak pamit sama papa?" Pak Calvin menatap kesal putranya itu, sementara yang di tatap justru malah pergi sambil melambaikan satu tangannya. "Dasar anak durhaka," Dengus pak Calvin membuat mama Celine tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ayah dan anak itu memang selalu seperti itu, namun percayalah, keduanya saling menyayangi satu sama lain. Hanya saja keduanya jarang sekali memperlihatkannya kepada orang lain.
__ADS_1
Kalau tidak suka, silahkan berimajinasi sendiri ya, ini hanya imajinasi author saja. Salam sayang buat kalian.
Bersambung.