Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Rekomendasi novel menarik (Istri Tuan Amnesia) Author. Erna Surliandari


__ADS_3

**Selamat sore readersku tersayang. Kali ini aku mau promosikan novel menarik dan pastinya akan membuat kalian baper. Jangan lupa mampir ya.😘😘😘


Judul. Istri Tuan Amnesia


Author. Erna Surliandari**


Sinopsis Cerita.


Karena difitnah kumpul kebo dengan seorang pria yang Ia rawat. Nur Aida Rindayani 22 tahun, gadis yatim yang hanya tinggal bersama neneknya itu, harus menikmati hari-hari menjadi istri dadakan seorang pria amnesia.


Arrayan Bima Hartono , adalah seorang pewaris dari perusahaan besar di kotanya. Suatu hari, Ia diculik secara dramatis oleh beberapa musuhnya. Ia sempat kabur, namun justru terjatuh ke dalam jurang yang menghubungkannya dengan lautan yang dalam.


Aida menemukan pria itu tergeletak dengan begitu banyak luka dikepala dan tubuhnya. Ia pun merawatnya dengan baik, apalagi mereka bergelar sebagai suami istri. Hingga mempermudah Aida untuk merawatnya.


Apakah akan tumbuh cinta diantara mereka? Bagaimana, jika ketika itu Gibran ingat akan semua masa lalunya? Bagaimana, nasib Aida selanjutya?


Bab 1

__ADS_1


Di kegelapan malam yang mencekam. Seorang pria tengah berlari terengah-engah dengan luka penuh darah di bagian kepalanya. Dadanya sakit, dan kepalanya begitu pening menatap hamparan kegelapan yang ada di hadapannya.


"Aku... Aku harus kemana lagi?" fikirnya, sembari mengatur nafas dan irama jantungnya yang begitu cepat. "Bahkan, sekarang aku dimana pun, aku tak tahu." ucapnya, menatap hamparan pohon luas terbentang di hadapannya.


"Cepat, cari dia sampai dapat. Jangan biarkan Dia pergi. Jika tidak, semua rencana kita akan hancur. Aku sudah berusaha sejauh ini. Jangan sampai gagal hanya karena dia yang lolos dengan mudahnya." seseorang tampak memberi instruksi dengan orang-orangnya. Terdengar begitu serius, mencari pria incarannya yang harus mereka tangkap, baik hidup atau mati.


Kreeek! Ranting terinjak, dan semua orang lantas menyorot ke arah sumber suara, dengan senter yang mereka bawa. "Itu Dia!" pekik salah seorang dari mereka. Pria itu kembali berlari sekuat tenaganya, tanpa mampu memilih arah yang tepat untuk Ia tuju. Hingga sebuah jurang terjal, Ia temukan tepat di hadapannya.


"Astaga! Kenapa aku kemari? Ini jurang? Dibawah sana, pasti dalam sekali. Tapi, tak ada tempat ku untuk lari lagi."


Pria itu menatap kearah bawah, bergantian menoleh ke arah cahaya, dimana mereka semakin dekat ke arahnya.


"Rayan!" pekik seorang pria padanya. Ia bukan tersangka utama yang menculiknya. Ia hanya tangan kanan yang menutupi wajahnya dengan topeng pengecutnya.


Rayan berusaha mencari celah, agar dapat lari. Tapi gelapnya suasana disana, membuat pengelihatan Rayan benar-benar tak jelas. Ia terpeleset, dan akhirnya jatuh kedalam sana. Suara jeritannya terdengar begitu jelas ditelinga mereka semua. Hingga mereka berlari menuju ke sumber suara yang mereka dengar. Untung saja, mereka tahu itu jurang, hingga mereka dapat mengerem langkah kaki masing-masing.


"Astaga! Apa dia loncat ke dalam sana?"

__ADS_1


"Apakah dia mati? Itu dalam sekali. Belum lagi, jika terbentur dengan bebatuan yang ada."


"Kenapa begini, Rayan? Sesulit itukah, hanya untuk menjadi seorang penurut?" pria bertopeng itu, mengambil sebuah sepatu. Dan pastinya itu yang Rayan pakai sebelum terjatuh. Ia membawanya, sebagai bukti yang akan menyatakan, jika Rayan telah mati kecelakaan. Mobil Rayan pun akan dibuat, sedemikian rupa agar meyakinkan untuk segala keterangan yang dibutuhkan.


***


Byuuurrrrr! Tubuh Rayan tercebur di dalam air yang begitu dalam. Bahkan, tampak tanpa dasar yang akan menjadi tempatnya berpijak.


Ia tak bisa berenang. Sekarang, Ia harus apa sekarang? Haruskah, mengikuti aliran air yang membawanya terombang ambing entah kemana. Ia pun memilih diam, terapung mengikuti arusnya. Ia menghemat tenaga, agar tak semakin lemah atau bahkan kehabisan nafas dan mati sebelum waktunya.


"Aku... Aku tak boleh mati dalam keadaan seperti ini. Mereka, akan menang jika begini. Aku tak boleh, membiarkan itu terjadi."


Tubuhnya mulai menggigil kedinginan. Air membawanya semakin menengah, bukan semakin menepi. Ia bahkan tak tahu lagi, sudah berapa lama Ia terapung disana. Ia hanya melihat, matahari telah menyambut pagi yang begitu cerah. Ia hanya bisa terpejam, silau, dan lelah.


"Semoga aku akan tetap hidup setelah ini." harapnya.


Penasaran!!! Mampir langsung ke ceritanya ya.😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2