Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Sudah membuatku


__ADS_3

Tante Monic mulai beranjak dari kursinya, ia berjalan menghampiri putrinya yang masih terisak menyesali perbuatannya. Tante Monic langsung memeluknya, tanpa terasa air matanya pun terjatuh begitu saja membasahi wajahnya.


Tante Monic mengusap punggung putrinya dengan lembut, "mama harap Mentari bisa memaafkanmu, Lisa. Mama minta maaf, karena mama sudah gagal menjadikanmu sebagai putri mama yang baik. Kali ini mama akan mendukungmu, Lisa. Apapun keputusan yang akan kamu ambil, mama akan mendukungmu di belakang. Mama tidak akan mencegahmu untuk menyerahkan diri kepada polisi, karena itu memang perbuatan yang harus kamu Pertanggung jawabkan."


Tante Monic terisak, ah kenapa kehidupannya begitu meyedihkan sekali? padahal baru saja ia merasakan kebahagiaan saat putrinya sudah mulai membaik dan bisa berkumpul lagi bersamanya, namun siapa sangka pernyataan sang putri melenyapkan kebahagiaannya yang hanya sementara itu? Apalagi saat sang putri mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penjahat yang berusaha untuk melenyapkan nyawa sahabatnya sendiri, sungguh membuat hati tante Monic terasa hancur berkeping-keping.


"Terima kasih mah, ini semua bukan salah mama, ini semua salahku karena memiliki hati yang jahat. Maafkan aku mah, karena aku tidak bisa memberikan mama sebuah kebahagiaan, maafkan aku karena aku sudah memberikan luka pada mama, maafkan aku, karena tidak bisa menjadi putri seperti yang mama inginkan. Maafkan aku, mah. Maaf." Lirih Lisa dalam pelukan hangat sang mama.


"Sudahlah, Lisa. Kamu tidak perlu minta maaf sama mama, sebaiknya kamu istirahat dulu sekarang, soal Mentari, biar mama saja yang menghubunginya." Ucap tante Monic setelah ia melepaskan pelukannya.


Lisa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, lalu ia pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia berjalan menuju kamarnya meninggalkan tante Monic yang kini sedang menatapnya sendu.

__ADS_1


Setelah kepergian Lisa, tante Monic pun berjalan menuju kamarnya, untuk mengambil ponselnya, lalu ia menghubungi Mentari, dan mengajak Mentari untuk bertemu di salah satu cafe yang berada di kota Jakarta.


***


Kediaman si raja bucin.


Mentari berjalan menghampiri suaminya yang saat ini sedang mengerjakan pekerjaannya di sofa yang berada di ruang keluarga. Ya, semenjak mengetahui bahwa istrinya sedang hamil muda, Jhon tidak pernah lagi lembur, ia selalu pulang lebih awal dari pada biasanya. Ia tidak ingin meninggalkan sang istri terlalu lama, karena ia tidak ingin istrinya itu kesepian dan ia juga merasa tidak tenang jika terlalu lama meninggalkan sang istri di rumah barunya.


Ya, meskipun ada pelayan, tetap saja Jhon merasa tidak tenang. Bahkan ia juga melarang Mentari pergi ke perusahaannya, ia menyuruh sang istri untuk istirahat, dan jika ada berkas-berkas yang harus Mentari periksa, maka Jhon akan meminta Rega untuk mengirimkan berkas-berkas itu ke rumahnya.


Jhon langsung mengalihkan pandangannya dari layar komputernya, ia menatap sang istri sembari memberikan senyuman manisnya. "Terima kasih sayang. Tapi kamu tidak perlu repot-repot membuatkan susu ini untukku. Aku tidak ingin kamu kecapean, sayang." Jawab Jhon sambil menerima susu cokelat panas itu dari istri tercintanya.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak capek, sayang. Lagian ini hanya sekedar membuat susu saja, kamu tidak perlu berlebihan." Ucap Mentari sembari mencubit gemas hidung mancung si raja bucin itu.


"Aku tidak berlebihan, sayang. Aku berkata seperti itu, karena aku terlalu mencintaimu, dan aku tidak ingin kamu kelelahan, dan akhirnya kamu jatuh sakit. Kalau kamu sakit, nanti dede bayi yang ada dalam kandunganmu pun ikut sakit, terus aku juga sakit, terus......." Ucapan Jhon tercekat di tenggorokkan saat sang istri medaratkan kecupan hangatnya di atas bibir miliknya.


"Kamu terlalu bawel sayang." Ucap Mentari sambil menjatuhkan bokongnya di samping suaminya.


Jhon terkekeh pelan, ia menaruh komputer itu di atas meja, lalu memeluk istrinya hangat. "Jangan menggodaku, sayang. Nanti aku akan tersiksa sendiri." Bisik Jhon terdengar mulai berat, pertanda bahwa hawa nafsunya mulai bangkit.


"Ish, apaan. Aku cuma mengecup kamu sebentar, tapi kamu sudah bergairah." Ucap Mentari sembari memberikan cubitan nakalnya di perut sang suami.


"Meskipun sebentar, tapi kamu sudah mampu membangkitkan gairahku, sayang." Jhon kembali berbisik, bisikkannya terdengar sangat menggoda di telinga Mentari. Ntah mengapa Mentari merasakan hawa panas dalam tubunya. Apalagi saat ini tangan Jhon mulai nakal masuk ke dalam pakaiannya.

__ADS_1



Bersambung.


__ADS_2