
Jhon menatap jam mewah yang melingkar di tangan kirinya, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Mentari belum sampai juga di restaurant itu. Setengah jam lebih ia menunggu dengan perasaan gelisah, akhirnya pujaan hatinya itu muncul juga.
Jhon seketika melebarkan senyumannya, matanya seakan-akan terhipnotis oleh kecantikan Mentari yang menurutnya sangatlah sempurna, apalagi saat ini tampilan Mentari sedikit berbeda dari sebelumnya.
Jhon beranjak dari kursinya, ia berjalan dua langkah menuju kursi satunya lagi. Jhon menarik kursi itu, dan mempersilahkan Mentari untuk duduk. "Duduklah." Perintahnya terdengar sangat lembut. Mentari hanya menganggukkan kepalanya pelan, lalu setelah itu, ia pun mulai duduk di kursinya. Jhon kembali melangkah menuju kursinya, kemudian ia duduk.
"Ekhmm..." Mentari berdehem pelan, ketika Jhon hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Apa ada yang aneh dengan wajahku?" Tanya Mentari sambil menatap Jhon datar.
"Ya. Wajahmu terlalu cantik membuatku tidak dapat mengalihkan pandanganku walau sejenak." Jawab Jhon di iringi dengan senyumannya yang manis membuat Mentari sedikit salah tingkah.
__ADS_1
"Terima kasih atas pujiannya." Ucap Mentari sembari meletakkan tasnya di atas meja. "Aku tidak ingin basa-basi lagi, aku kesini karena aku ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Baiklah, tapi sepertinya kita harus memesan makanannya terlebih dahulu." Ucap Jhon sambil mengangkat tangannya memanggil pelayan restauran itu yang sedari tadi sudah berdiri di dekat pintu. "Kamu ingin makan apa, baby?" Tanya Jhon dengan tatapan matanya yang masih sama juga nada suaranya yang tidak pernah berubah halus dan lembut.
"Aku ingin mencoba menu special di restaurant ini, dan juga minumannya aku ingin lemon tea." Jawab Mentari sambil menyerahkan buku menu kepada si pelayan restauran itu.
"Baiklah, aku pun sama." Ucap Jhon yang selalu saja ingin menikmati makanan yang di cicipi oleh Mentari.
"Baby, apa kamu mau pesan yang lainnya?" Tanya Jhon yang mendapat gelengan kepala dari Mentari. "Itu saja." Ucapnya kepada si pelayan itu dengan nada suaranya yang berbeda.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu, mohon tunggu sebentar ya, tuan, nona." Kata si pelayan itu yang mendapat anggukkan dari keduanya.
"Aku harap ini adalah terakhir kalinya kita bertemu." Ucap Mentari setelah kepergian pelayan itu.
Senyuman di wajah Jhon seketika menghilang, tatapan matanya pun mulai berubah. "Kenapa? Apakah aku sudah melakukan kesalahan terhadapmu, Mentari?" Tanya Jhon sambil menatap pujaan hatinya itu.
"Tidak! Hanya saja sepertinya kurang baik jika kita selalu bertemu dengan statusku yang masih istri orang. Aku tidak ingin orang lain salah paham dan menuduhku sebagai penyebab kehancuran rumah tanggaku dengan Alex. Meskipun aku memiliki bukti perselingkuhan Alex dengan Lisa, dan meskipun aku berkata jujur, tetap saja mereka akan menilaiku tak lebih buruk dari Alex, karena aku pun selalu bertemu dengan pria lain di belakangnya. Aku harap kamu mengerti, Jhon." Jelas Mentari membuat Jhon terdiam beberapa saat.
Kenapa Jhon tidak memikirkan hal itu? Kenapa dia selalu memaksa Mentari untuk menemuinya? Jhon, kamu memang bodoh! Kamu tidak dapat menahan rasa rindumu kepadanya, kamu tidak dapat mengendalikan perasaanmu terhadapnya, cintamu yang terlalu dalam membuatmu selalu merasa takut jika Mentari akan pergi lagi dari kehidupanmu. Padahal kamu hanya butuh waktu sebentar untuk menunggu dia lepas dari statusnya itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menuruti kemauanmu, tapi izinkan aku untuk tetap menghubungimu, jangan pernah menghindariku lagi. Aku berjanji, aku tidak akan pernah lagi mengajakmu untuk bertemu sampai kamu benar-benar lepas dari bajingan itu." Jhon nampak menghela nafas beratnya, tatapan matanya kini sudah berubah seperti semula membuat Mentari seketika menyunggingkan senyumannya yang indah.
Bersambung.