
Mentari menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya menatap langit-langit kamar, hatinya merasa sedikit lega karena sidang pertamanya berjalan dengan lancar sesuai dengan keinginannya. Mentari tersenyum pahit, pernikahan yang ia bayangkan sempurna ternyata harus berakhir karena pengkhianatan suaminya.
"Aku tidak menyangka jika akhirnya aku akan menjadi seorang janda." Ucap Mentari di iringi dengan helaan nafas beratnya. "Tapi ini lebih baik daripada aku harus mempertahankan rumah tanggaku yang sudah ternodai." Lirih Mentari sembari tersenyum kecut ketika mengingat kembali pengkhianatan suami dan sahabatnya itu.
"Lupakan, Mentari! Untuk apa kau mengingatnya lagi." Mentari kembali menghela nafas beratnya, tangannya mulai merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil miliknya.
Mentari mulai memeriksa ponselnya, ia tersenyum saat melihat beberapa pesan yang di kirimkan oleh Jhon si laki-laki aneh itu.
*Selamat pagi, baby. Apakah kamu sudah bangun? *
Jhon mengirim pesan itu pada pukul 05.00 pagi.
*Tidak balas pesanku hmmm. *
Jhon kembali mengirimkan pesan itu pada pukul 05.45 pagi.
*Apa kamu masih tidur? *
"Hanya selisih lima menit, Jhon kembali mengirimkan pesan kepada Mentari.
*Mentari. *
*Apa kamu sudah bangun?*
*Apakah kamu sudah sarapan?*
__ADS_1
Jhon kembali mengirimkan pesan itu pada pukul 06.15 pagi tadi.
*Jangan lupa, makan siang, baby.*
*Bagaimana persidangannya? Apakah berjalan dengan lancar? Perlukah aku membantumu, agar kamu langsung berpisah hari ini juga dengan si bajingan itu?*
Jhon kembali mengirimkan pesan itu pada pukul 12.15 siang.
Mentari menghela nafasnya, masih ada beberapa pesan lagi dari Jhon yang masih belum ia baca. "Astaga, apakah dia tidak ada kerjaan selain mengirimku pesan?" Gumam Mentari sambil terkekeh dengan pelan. Ntah mengapa saat membaca pesan-pesan yang di berikan oleh Jhon, membuat hatinya sedikit terhibur.
*Semuanya berjalan dengan sangat lancar, dan terima kasih atas tawaranmu, tapi aku tidak membutuhkannya.*
Mentari segera mengirimkan pesan itu kepada Jhon, lalu setelah itu, ia pun menaruh ponselnya di atas tempat tidur, namun beberapa detik kemudian, ponselnya kembali menyala menandakan adanya pesan masuk untuk dirinya. Mentari kembali meraih mengambil benda pipih itu, ia pun segera membaca pesan yang baru saja di kirimkan oleh seseorang kepada dirinya.
Pesan itu ternyata dari tante Monic mama Lisa, Mentari terdiam sejenak, ia merasa penasaran mengapa tante Monic memintanya untuk bertemu? Apakah semua ini ada hubungannya dengan Lisa? Apakah Lisa sudah memberitahukan semua masalahnya kepada tante Monic? Ah tidak mungkin! Bagaimana mungkin perempuan ular itu mengadukan tentang perselingkuhannya dengan Alex kepada mamanya sendiri.
Mentari menarik nafasnya dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan, kemudian ia pun segera membalas pesan tante Monic.
*Aku baik-baik saja, tante. Baiklah, besok siang jam berapa, tan?*
Mentari langsung mengirimkan pesan itu kepada tante Monic, lalu setelah itu Mentari pun menaruh ponselnya di atas tempat tidurnya, ia berniat untuk pergi ke kamar mandi, namun niatnya terhenti ketika ponselnya menyala kembali.
Kali ini bukan pesan yang masuk, melainkan panggilan telpon dari Jhon.
"Baru aku balas pesannya, langsung menelpon." Gumam Mentari sambil meraih kembali ponselnya. Mentari segera menggeser tombol berwarna hijau, kemudian ia menempelkan ponsel itu di telinga kanannya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanyanya tanpa basa basi.
"Kangen kamu." Jawab Jhon membuat Mentari mendesah pelan.
"Lalu?"
"Ayo kita bertemu nanti malam." Ajak Jhon dengan nadanya seperti biasa halus dan lembut.
"Tidak bisa, aku sedang tidak ingin pergi kemana-mana." Jawab Mentari di iringi dengan helaan nafasnya.
"Aku akan menjemputmu nanti malam jam setengah delapan, jadi bersiap-siaplah, honey." Ucap Jhon membuat Mentari seketika melebarkan kedua bola matanya.
"Aku bilang tidak bisa. Aku tidak ingin pergi kemanapun, Jhon." Seru Mentari dengan kesal.
"Apa kamu lupa kemarin malam kamu sudah mengingkari janjimu hmm. Jadi aku mau kamu menebus janjimu itu nanti malam. Mau aku jemput atau kita bertemu di tempat yang sudah aku janjikan?"
"Baiklah kita bertemu di tempat yang sudah kamu tentukan. Apa kamu puas." Ucap Mentari dengan nada suaranya yang terdengar begitu kesal.
"Ok, honey. Aku tunggu kedatanganmu, tapi kalau kamu mengingkari janjimu lagi, jangan salahkan aku kalau aku akan datang ke rumahmu, mengerti." Seru Jhon terdengad begitu serius membuat Mentari tidak berani untuk mengingkari janjinya lagi.
Bersambung.
__ADS_1