Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Penyakit Mematikan


__ADS_3

Perlahan Mentari berjalan memasuki kamar mamanya, wajahnya nampak tegang, tubuhnya sedikit gemetar, ntah kenapa perasaannya mulai tidak enak saat melihat sang mama yang menangis histeris seperti itu.


"Kenapa mama menangis? Dan kenapa mama bilang aku akan sangat sedih? Sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh mama dariku?" Batin Mentari bertanya-tanya sambil terus berjalan melangkahkan kakinya, lalu berdiri di hadapan sang mama.


"Mama..." Panggil Mentari seketika membuat mama Natalia terdiam, dan menoleh ke arah putrinya.


Mama Natalia segera menghapus air matanya, ia berusaha untuk memperlihatkan senyuman yang selalu ia tampilkan di hadapan putrinya itu, guna menutupi kesedihannya yang mendalam.


"Sa,,, sayang. Kamu bikin kaget mama saja." Ucap mama Natalia masih terdengar sendu.


"Mama kenapa menangis?" Tanya Mentari sembari berjongkok di hadapan sang mama, tangan Mentari menggenggam lembut tangan mamanya yang terasa basah di telapak tangannya.


"Mama tidak apa-apa, sayang. Mama hanya,,, hanya merindukan papamu saja." Jawab sang mama berusaha untuk tetap menutupi kesedihannya.


Mentari nampak mengerutkan keningnya tak percaya, ia menatap kedua bola mata mamanya dengan dalam, mencari tahu sebuah kejujuran dari tatapan mata itu.

__ADS_1


"Bohong! Pasti mama sedang menyembunyikan sesuatu dari aku kan?" Ucap Mentari penuh selidik.


"Mama tidak pernah berbohong sama kamu, sayang. Mama memang merindukan papamu. Besok mama akan pergi ke Thailand untuk menemani papamu di sana. Sekalian mama liburan." Jelas mama Natalia di iringi dengan senyumannya.


Mentari terdiam, ia masih tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh mamanya barusan. Ia sangat yakin jika sang mama sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya.


Mentari mengelus lembut punggung tangan sang mama, matanya masih mencari tahu kejujuran dari tatapan mata mamanya itu.


"Mah, aku bukan anak kecil lagi, aku tahu mama sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku mendengar tadi mama berkata bahwa aku pasti akan merasa sangat sedih. Apa maksud dari ucapan mama tadi?" Desak Mentari dengan nada suaranya yang lembut.


"Mama kenapa menangis lagi? Sebenarnya apa yang mama sembunyikan dari aku, mah? Tolong! Bicara sama aku." Mentari terus mendesak sang mama agar sang mama mau memberitahu apa yang sedang di sembunyikan oleh mamanya itu.


Perlahan tangis sang mama mulai kembali pecah, Mentari seketika memeluk tubuh sang mama, mengusap punggung mamanya dengan lembut, kristal bening pun mulai terjatuh membasahi wajah cantiknya itu.


"Mah, jangan menangis. Aku ada di sini untuk mama. Aku harap mama mau memberitahu aku semuanya, mah. Aku mohon... " Lirih Mentari di iringi dengan isak tangisnya. Ia benar-benar tidak sanggup jika melihat sang mama menangis seperti itu, bahkan tangisan sang mama begitu memilukan, dan mengiris hatinya.

__ADS_1


Perlahan sang mama melepaskan pelukannya, ia menatap putrinya dengan sendu, tangannya mulai terulur menghapus air mata yang jatuh membasahi wajah putrinya itu.


"Sayang, sebenarnya papa kamu pergi ke Thailand bukan untuk mengurus perusahaannya. Dan papa kamu sama sekali tidak memiliki perusahaan di sana." Mama Natalia menarik nafasnya dalam, lalu membuangnya secara perlahan, kemudian ia berkata kembali dengan nada suara yang terdengar begitu menyedihkan.


"Papa kamu mengidap penyakit yang paling mematikan, selama ini ia berusaha untuk menutupi rasa sakitnya, dan berjuang melawan penyakit itu sendirian. Seharusnya mama tidak membiarkan papamu sibuk dengan pekerjaannya, seharusnya mama selalu memantau kesehatannya, ini semua salah mama karena tidak becus menjadi istri yang baik untuk papamu, Tari."


Mama Natalia kembali menjatuhkan air matanya, rasanya ia ingin mengulang waktu dimana penyakit sang suami masih dapat di obati dengan kemoterapi yang rutin setiap minggunya. Dulu ia selalu mengajak sang suami untuk pergi melakukan kemoterapi, namun suaminya selalu menolak dengan alasan ia akan pergi sendiri, dan sang istri cukup mengurus putrinya yang pada saat itu masih dalam keadaan linglung akibat kecekaan.


Mama Natalia berpikir jika sang suami memang selalu pergi ke rumah sakit untuk melakukan kemoterapi itu, namun nyatanya sang suami justru sibuk dengan pekerjaannya.


Deg....


Jantung Mentari seakan berhenti berdetak, tubuhnya terasa lemas, wajahnya nampak pucat. Bagaimana mungkin papa yang selama ini dia sayangi dan selalu terlihat sehat mengidap penyakit mematikan itu?


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2