Balas Dendam Atas Lukaku

Balas Dendam Atas Lukaku
Menangislah


__ADS_3

Jhon sudah tiba di kediaman calon mertuanya. Dengan perlahan ia memarkirkan mobilnya, kemudian ia mematikan mesin mobil itu, lalu membuka pintu mobilnya kemudian ia turun, tak lupa ia juga menutup kembali pintu mobil itu.


"Malam mas Jhon, mau ketemu non Mentari ya." Sapa si pak satpam dengan sopan.


"Iya, pak." Jawab Jhon dengan singkat.


"Saya permisi dulu." Pamit Jhon yang mendapat anggukkan kepala dari si pak satpam itu. Jhon pun segera melangkahkan kedua kakinya menuju pintu utama dengan langkah kaki yang cepat.


Hanya membutuhkan waktu sepuluh detik, Jhon pun sudah tiba di depan pintu itu, tanpa perlu ia mengetuk atau menekan bel, pintu itu sudah terbuka dengan lebar, di sana sudah berdiri seorang pelayan perempuan dan menyambutnya dengan ramah dan sopan.


"Silahkan masuk mas Jhon. Nona Mentari sedang berada di taman samping." Ucap si pelayan itu.


"Terima kasih. Apakah tante Natalia sudah tidur?" Tanya Jhon sambil melangkahkan kedua kakinya memasuki kediaman calon mertuanya itu.


"Bu Natalia baru saja masuk ke dalam kamarnya. Apa perlu saya panggilkan bu... "

__ADS_1


"Tidak perlu. Biarkan saja tante Nat istirahat." Sela Jhon sembari Melangkahkan kedua kakinya menuju taman belakang.


***


Jhon sudah tiba di taman belakang, langkah kakinya semakin cepat saat ia melihat pujaan hatinya duduk melamun dengan tatapan mata lurus ke depan dan pikirannya melayang ntah kemana.


"Sayang, angin malam tidak baik untuk kesehatanmu, sebaiknya kita masuk ya." Ucap Jhon selalu dengan nada suaranya yamg begitu lembut dan halus. Tak lupa ia juga melepas kemeja putihnya dan memakaikannya kepada calon istrinya itu.


Mentari seketika terenyak, ia langsung menoleh ke arah calon suaminya, lalu ia bangkit dan memeluk calon suaminya dengan erat. "Kamu beneran datang, aku pikir kamu tidak akan datang, Jhon." Ucapnya sambil menelusupkan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu.


"Aku tidak mungkin mengingkari janjiku, sayang. Dan aku tidak akan membiarkanmu menanggung kesedihanmu sendirian." Jhon mengecup pucuk kepala Mentari dengan penuh kasih sayang. Ucapannya mampu membuat hati Mentari menghangat, kecupannya yang penuh dengan kasih sayang membuat Mentari kembali teringat dengan masa lalunya yang indah.


"Tapi kamu tidak perlu datang kesini, Jhon. Kamu bisa menghiburku melalui telpon."


"Tapi aku ingin menghiburmu secara langsung, menghapus air matamu yang berharga, dan memelukmu seperti sekarang ini." Ucap Jhon masih dengan nada suaranya yang lembut dan halus.

__ADS_1


"Sayang, jika kamu ingin menangis, menangislah dalam dekapanku sekarang, jadikan aku sebagai tempat bersandar dan berlindungmu. Aku tidak ingin kamu menangis sendirian. Aku adalah calon suamimu, kesedihanmu adalah kesedihanku juga, bahagiamu adalah bahagiaku juga." Jhon kembali mengecup pucuk kepala calon istrinya penuh dengan kasih sayang.


Air mata Mentari tiba-tiba saja jatuh membasahi wajah cantiknya, rasa sedih bercampur haru memenuhi hatinya saat ini ketika ia mendengar ucapan yang di lontarkan oleh calon suaminya tersebut.


Jhon membiarkan calon istrinya itu menangis dalam dekapannya hingga beberapa menit. Setelah itu barulah ia melepaskan pelukannya, menatap kedua bola mata calon istrinya dengan dalam.


Tangannya terulur menghapus air mata yang masih terisisa di kedua pipi calon istrinya itu, lalu ia berkata. "Sudah cukup ya menangisnya. Nanti matamu bengkak, sayang." Ucapnya di iringi dengan senyuman manis yang selalu ia tampilkan di hadapan calon istrinya itu.


Mentari tersenyum, ia mencubit gemas pipi kanan calon suaminya itu.


"Mataku memang sudah bengkak dari tadi, Jhon. Tapi kamu malah menyuruhku menangis lagi tadi." Ucapnya sembari mengercutkan bibirnya gemas.


Jhon hanya terkekeh dengan pelan, kemudian ia kembali membawa sang pujaan hati ke dalam pelukannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2