Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 102 BSWW


__ADS_3

"Apa maksudmu Na?" tanya Royco lagi setelah ia membawa mobilnya ke pinggir jalan sepi.


"Aku bilang, kita batalkan saja acara pernikahan ini mas Roy," jawab Ratna berusaha tetap santai meskipun hatinya sakit.


Gadis cantik itu sudah bertekad akan mundur dan mengalah. Lebih baik sakit hati sekarang daripada nanti saat ia sudah terlanjur cinta sama pria disampingnya ini.


"Aku tidak mau Na! enak saja bilang batal. Kamu pikir gampang untuk memulai sebuah hubungan baru?" Royco menggeleng cepat.


Pria itu tidak mau hubungan ini selesai sampai di sini. Kalau ia harus memaksa pun akan ia lakukan. Hatinya sudah terpaut oleh gadis sederhana ini.


"Kita harus mas, aku tidak mau menerima orang yang masih punya masa lalu yang belum selesai."


"Na, kamu ngomong apa sih?" Royco berusaha meraih tangan gadis itu untuk menggenggamnya tetapi Ratna menepisnya. Ratna tidak mau disentuh oleh pria itu dan juga ia tak mau kalau Royco tahu kalau tangannya terluka akibat pertarungannya semalam dengan para preman di Dufan.


"Sudah ya mas atau aku turun di sini saja." jawab Ratna dengan mata tak mau memandang wajah calon suaminya itu.


"Na, ada apa sayang? tolong jangan berbuat seperti ini padaku," pinta pria itu memelas. Entah apa nanti kata ibu dan bapaknya kalau hubungan ini berakhir sebelum dimulai. Cukup kegagalannya yang lalu membuat kedua orangtuanya bersedih.


"Na, plis," Royco terus memohon. Ia sungguh tak ma kehilangan gadis cantik ini.


Tok


Tok


Tok


Mereka berdua tersentak kaget karena seorang polisi lalulintas mengetuk kaca mobilnya.


"Dilarang berhenti di sini pak! anda tidak lihat ada rambu lalulintas di sana?!" tegur Polisi itu dengan wajah sopan.


"Ah iya maaf, istri saya lagi ngambek pak, jadi kami terpaksa berhenti di sini." jawab Royco sembari tersenyum meringis.


"Ratna?" tegur Polisi itu saat melihat kalau penumpang itu ternyata teman SMAnya. Ratna langsung tersenyum pada polisi muda itu.


"Eh iya, Zul apa kabar?" sapa Ratna berbasa-basi.


"Baik Rat, andai aku tidak kenal kamu udah aku kasih surat tilang ini, maaf ya cepat dipindahkan mobilnya." ujar Zul sang polantas itu.

__ADS_1


"Terimakasih Zul," jawab Ratna dengan wajah gembira. Zul adalah sahabat dekatnya sewaktu masih duduk di bangku SMA.


"Iya, tapi jangan suka ngambek sama suami, nanti Tuhan tidak ridho lho Rat," jawab Zul yang langsung membuat wajah Ratna berubah masam sedangkan wajah Royco berbinar bahagia.


"Mari Pak, terimakasih banyak." ujar Royco kemudian segera melajukan mobilnya menembus jalanan yang cukup ramai dihadapannya.


Pria itu tidak mau lagi mendengar apa kata-kata Ratna yang sangat tidak masuk akal itu. Ia akan mengantar gadis itu pulang ke rumahnya dan bertemu langsung dengan orangtua gadis itu.


Aku harus memastikan kalau kedua calon mertuaku mendukungku. Pernikahan ini harus terjadi.


Tekadnya membatin.


🍁


"Sayang, kamu mau tahu gak siapa otak utama penyerangan di Dufan kemarin malam?" tanya Erick sembari membelai wajah istrinya yang sedang berbaring di sampingnya.


"Tidak mas, dan aku tidak mau tahu." jawab Beby sembari memeluk tubuh sang suami posesif. Entah kenapa ia begitu suka posisi seperti itu.


Perempuan cantik itu merasa tergila-gila akan aroma tubuh suaminya. Hingga sampai siang ini ia belum mau beranjak dari tempat tidur. Ia masih betah memeluk dan mengendus-endus tubuh suaminya itu.


"Mas," panggil Beby Alesha manja.


"Hem," gumam Erick sembari menutup matanya merasakan belaian jari-jari istrinya yang mulai bergerak dengan irama yang sangat indah pada tubuhnya.


"Aku minta maaf sama kamu," bisik Beby sembari mengecup lembut bibir sang suami.


"Kenapa minta maaf, kamu tidak pernah ada salah sama aku sayang," jawab Erick sembari menahan agar kecupan itu tidak singkat.


"Aku dulu mengabaikanmu mas, kamu pasti sangat kesal padaku ya saat itu."


"Dan sekarang aku malah tak mau jauh-jauh dari dirimu." lanjut perempuan cantik itu sembari terus menggoda tubuh suaminya dengan gerakan sensual.


"Aaaaakh Beb, sayangku," erang Erick tak tahan dengan godaan istrinya itu.


"Apa aku terlihat murahan mas, kalau aku menginginkanmu terus?" bisik Beby lagi dengan suara mendayu lembut.


"Tidak sayang, itu halal dan diberkahi. Kalau menginginkan yang tidak pada tempatnya saja bisa mendapatkan dosa begitupun kalau melakukan sesuatu pada tempatnya pasti balasannya sebaliknya sayang." jawab Erick sembari melumaate bibir Istrinya dengan ciuman panas menuntut.

__ADS_1


"Aaaakh, maass," dessah Beby Alesha yang semakin membuat Erick terbakar.


Sejak tadi, ia sudah sangat menginginkan istrinya yang sangat lezat ini tetapi ia berusaha menahannya.


Ia ingin melihat bagaimana istrinya jika menginginkannya juga. Makanya ia sengaja memamerkan keindahan tubuhnya pada Beby Alesha sang istri.


"Mas," panggil Beby lagi dengan suara dibuat semakin mendayu manja. Dengan gerakan cepat dan tak sabar, Erick menindih tubuh istrinya.


"Jangan salahkan aku sayang, kalau kamu tak bisa keluar dari kamar ini, hmm," bisiknya dengan pandangan mata berkilat.


"Ahahahhaha," Beby tertawa terpingkal-pingkal karena Erick tampak emosi karena ia terus menghindar dari serangan suaminya. Pria itu mengerang kesal.


"Beb, kamu tadi memancingku terus sekarang malah menghindar awas ya," ujar Erick dengan hasrat yang sudah sampai di ubun-ubunnya.


"Coba saja, aku mau lihat itu, hahahaha," Beby Alesha terus berusaha memberontak manja agar suaminya semaki tertantang.


"Tahan suaramu sayang, kamu ingat kan kita ini dimana?" ujar Erick dengan suara pelan. Suara istrinya yang kadang tertawa dan berteriak geli membuat suasana di kamar itu semakin ribut.


Beby Alesha menutup mulutnya agar suara-suara lucnut tidak keluar dan mengganggu keamanan panti.


Akhirnya siang itu mereka bergumul diatas ranjang sampai sore. Mereka menikmati akhir pekan dengan berada di dalam kamar saja.


Ratih hanya bisa menarik nafas panjang menatap pintu kamar putranya yang belum terbuka samasekali sejak pagi.


"Apa mereka tidak lapar ya?" ujarnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


Ia berjanji kalau pasangan itu keluar kamar maka mereka harus diberikan kegiatan lain selain bergumul di atas ranjang.


Perempuan paruh baya itu merasa sendiri dan jadi tidak ada waktu lagi untuk bercakap-cakap dengan menantunya itu jika putranya ada diantara mereka.


"Awas kamu Erick!" Ratih segera meninggalkan kamar itu dan segera ke dapur untuk menyiapkan keperluan para anak panti.


* Tobe continued


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, Okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2