Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 31 BSWW


__ADS_3

Yudhistira tersenyum samar ketika mendengar alasan gadis yang bernama Hany Khumaira ini melamar pekerjaan sebagai sekretaris di Perusahaan ini padahal ia tak punya keahlian sebagai sekertaris.


"Saya melamar pekerjaan ini karena sudah capek dan bosan menganggur dan menunggu kiriman dari orangtua."


"Dan kalau saya tidak lulus disini juga, saya akan pulang kampung saja dan menerima perjodohan oleh ibu saya," lanjut Hany dengan wajah serius.


"Oh jadi kamu sudah mau menikah ya?" tanya sang direktur sembari mengetuk-ngetuk ujung mejanya dengan bolpoin yang sedari tadi dipegangnya.


"Ah tidak juga Pak, itukan cuma salah satu pilihan kalau saya tidak lulus jadi karyawan di sini."


"Memangnya kamu punya pilihan lain?"


"Ada pak banyak."


"Apa saja, sebutkan!"


"Aku akan mendaftar lagi dan lagi di Perusahaan lain sampai lulus." jawab Hany dengan wajah penuh percaya diri.


"Hem pilihan yang bagus, pantas kamu tak pernah lulus," ujar Yudhis sarkas. Hany langsung kembali duduk di kursinya dengan bibir mencebik kesal.


"Apa ini sudah selesai Pak direktur?" tanyanya dengan wajah malas. Ia jadi merasa tak punya harapan untuk lulus.


"Lho, kita kan belum mulai," jawab pria itu dengan wajah datar.


"Jadi yang tadi itu apa Pak? 60 menit saya berdiri di sini melakukan apa saja yang anda minta dan menjawab semua pertanyaan anda itu apa? cuma mau membuang waktu saya yang berharga?"


"Heh berharga? katanya nganggur, waktu apa yang berharga?" cibir Yudhis sarkas.


"Kalau begitu saya permisi,!" ujar Hany dengan mata melotot kesal. Gadis itu langsung mengambil tasnya yang ada di atas meja dan pergi dari ruangan direktur itu dengan menghentakkan heelsnya dengan keras dan Krek hingga patah.


"Awwww!" teriaknya tertahan karena kaget. Ia pun membungkuk sembari mengambil sepatu yang sudah mentos itu dengan hati yang jengkel luar biasa.


Inikan sepatu pinjaman, oh my God ? apa dosa dan kesalahanku hingga mendapat cobaan yang begitu menyedihkan hari ini.


Ia segera membuka pintu ruangan itu dan berniat segera kabur karena malu dan kesal yang luar biasa.


"Berhenti disitu!" seru Yudhistira sang direktur dengan suara tegasnya.


Hany mematung sembari menggigit bibirnya. Antara kesal dan malu bercampur menjadi satu.


"Enak saja kamu mau pergi dan belum membayar ganti rugi kerusakan mobil saya," ujar pria itu yang tanpa disadari oleh Hany sudah berdiri dibelakangnya.


Hany menutup matanya dan merasakan dadanya bergemuruh emosi, sedih, dan malu. ia menarik nafasnya berat kemudian berbalik dan langsung menatap mata pria yang berdiri pas dibelakangnya.


"Sudah saya bilang, saya akan menggantinya kalau saya punya uang!" seru Hany emosi. Ia sampai ingin mencakar wajah tampan dihadapannya.

__ADS_1


"Kapan?.saya minta sekarang juga!" tanpa terasa gadis itu mengeluarkan air matanya dan berujar,


"Baik, saya akan mencari pinjaman dan ini identitas saya, akan saya jaminkan disini, Permisi!" tegas Hany dan memberikan kartu identitasnya ditangan pria itu lalu ia pergi dengan membanting pintu dibelakangnya


Bodo amat kalau dibilang tidak sopan! lebih baik saya ke Pengadilan untuk menghibur diri.


Yudhistira menatap kartu identitas gadis itu dan menggenggamnya erat,


"Apapun yang terjadi kamu harus jadi milikku gadis keras kepala!" ujarnya dan kembali meraih handphonenya dan menghubungi seseorang.


Sementara itu di tempat lain,


Ratna De Galih hilir mudik di ruangannya dengan wajah tegang.


Ia ingin sekali meminta izin untuk pergi ke Pengadilan dan melihat jalannya sidang pertama bagi seorang teman baru yang bernama Yusi itu.


"Ada apa sih Rat?" tanya Marimas dengan wajah penasaran akan tingkah karyawan yang baru bekerja Beberapa pekan itu.


"Boleh minta izin gak kak?"


"Memangnya kamu mau kemana?"


"Aku ada hal penting kak, mau menghadiri persidangan teman saya, dia tak punya keluarga disini. Dan kurasa ia butuh teman untuk memberinya dukungan."


"Kalau memang penting, kamu bisa kok minta izin sama Bu Fanta Ricola,"


Gadis itu pun mengunjungi Ibu Fanta Ricola di ruangannya untuk meminta izin keluar.dan berjanji akan cepat pulang setelah urusannya selesai.


Dan setelah mendapatkan wejangan ini dan itu dari seorang Fanta Ricola akhirnya ia mendapatkan izin itu juga.


Beby yang sudah lama menunggu di luar langsung mengangkut sahabatnya untuk segera pergi dari sana.


Dan itu tak luput dari perhatian seorang Erick Bramantyo yang sedari tadi memperhatikannya dari atas jendela kantornya di lantai 2.


"Mau kemana mereka dijam kerja seperti ini?" tanyanya pada diri sendiri.


"Jack siapkan mobil. Kita akan ke Pengadilan sekarang!" perintahnya pada Jack lewat sambungan telepon.


Satu jam berikutnya, Beby Alesha dan seluruh personil Rangers Dewaani sudah sampai di Pengadilan Negeri Xxxx.


Tanpa sengaja Beby dan Erick bertemu di lorong menuju toilet di Gedung itu.


"Aku harap anda tidak memberatkan teman aku Pak Erick Bramantyo." ujar Beby ketika jarak mereka berdua sudah sangat dekat.


Erick mengangkat alisnya sebelah kemudian tersenyum miring,

__ADS_1


"Oh ya? ada hubungan apa kamu sama gadis pembunuh itu?"


"Teman," jawab Beby singkat.


"Apa imbalan untukku kalau aku mengikuti keinginanmu nona Ibrahim?" bisik Erick dengan suara pelan tetapi Beby sungguh bisa merasakan deru nafas dari pria itu.


Deg


Beby merasakan sekujur tubuhnya merinding. Ada rasa aneh dan asing yang mengalir ke semua sarafnya.


"Tuhan akan membalas kebaikanmu, Pak Erick Bramantyo." jawab Beby sembari menahan nafasnya. Pria itu langsung terkekeh lalu meninggalkan Beby yang menahan debaran di dadanya.


Sial! apa itu tadi?


Dengan langkah cepat ia juga segera masuk ke ruang sidang dan duduk bersama dengan sahabatnya anggota Rangers Dewaani yang lainnya.


Jaksa penuntut umum dan juga para pengacara sebagai kuasa hukum terdakwa dan korban sudah berada di tempat dengan menggunakan kostum kebesaran sidang.


Karena Perkara ini berkaitan dengan hukum pidana akan diadili dengan berdasarkan pada Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).


Semua peserta sidang diharapkan berdiri.ketikan Hakim memasuki ruang sidang.


"Lihat, Yusi tampak sangat kurus, kasihan sekali dia, pasti sangat tertekan dan bersedih." bisik Eka pas dikuping Beby. Ketika Yusi sebagai terdakwa dimintai identitasnya dan ditanyai tentang apakah ia sudah menerima salinan surat dakwaan oleh Pengadilan umum.


"Iya, kita semua kasihan padanya tetapi apa boleh buat, dia harus menjalaninya." jawab Ratna dengan wajah sedih.


Gadis itu tahu betul bagaimana perangai korban pembunuhan itu, yang sudah sering melecehkan banyak gadis dan sekarang nyawanya malah hilang karena perbuatannya itu.


Setelah sidang dinyatakan dibuka, dan terdakwa pun dinyatakan sehat dan siap untuk memberi keterangan, rentetan acara pun berlanjut.


"Saudara terdakwa, apakah anda didampingi oleh penasihat hukum?"


"Tidak tuan !" jawab Yusi tegas.


Beby Alesha Ibrahim menarik nafas dengan berat.


Andaikan ia sudah menyelesaikan pendidikan si magister hukum dan selesai menempuh pendidikan khusus advokat maka ia yang akan menjadi pengacara dari Yusi.


Ia hanya datang untuk memberikan dorongan semangat untuk gadis muda yang tak punya keluarga itu.


"Kalau begitu Majlis Hakim akan menunjuk Penasehat Hukum untuk mendampingi terdakwa."


Selanjutnya adalah pembacaan surat dakwaan.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2