
Hany Khumaira memasuki Club yang disebut oleh Firly Ramli dengan langkah ragu.
Sungguh ia belum pernah memasuki tempat seperti ini sebelumnya. Tetapi mengingat bahwa ia ingin membantu seseorang di dalam sana, ia akhirnya melangkah dengan mantap.
"Boleh tanya mas, ada gak tamu disini yang namanya Pak Yudhistira?" tanya Hany pada seorang security berpakaian hitam-hitam yang sedang berdiri angkuh di depan pintu masuk.
Pria tinggi besar berkacamata hitam itu menatap Hany dari atas kebawah dengan senyum tipis diwajahnya.
"Partner bisnis?" tanya security itu sembari menggoyangkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya pertanda kode khusus untuk bisnis orang dewasa.
Hany nampak melongo dengan kode itu tetapi dengan cepat ia mengangguk.
"Iya Pak, aku ingin bertemu dengannya sekarang."
"Oh ya tentu saja, silahkan masuk. Pak Yudhistira adalah tamu VIP kami." Hany pun melangkah masuk ke dalam Club itu dengan merapalkan banyak do'a agar ia terhindar dari godaan syetan yang terkutuk.
Meskipun ia jago bela diri tetapi kalau memasuki daerah yang sudah cukup dikenal berbahaya dalam tanda kutip itu maka ia harus waspada juga.
Matanya memandang berkeliling kearah seluruh penjuru ruangan yang nampak remang-remang itu. Hanya lampu disko yang berputar-putar dilantai dansa yang cukup memberi penerangan dalam ruangan itu.
Sebuah senyum muncul diwajahnya saat melihat seorang pria yang ia cari. Ia pun melangkah mendekati tempat itu dimana ada Yudhistira dan beberapa teman laki-laki dan perempuan sedang sibuk bernyanyi bersama.
Ada banyak gelas minuman dan juga cemilan lainnya di atas meja dihadapan mereka.
Yudhistira tampaknya sedang dapat giliran bernyanyi.
Pria itu sedang sibuk memperhatikan layar di hadapannya dan mengikuti musik itu. Sedangkan seorang perempuan seksih sedang berusaha memeluk dan mencium pipi pria pimpinan PT. Yudhistira itu dengan sangat agresif. Hany jadi merasa jijik melihat itu semua.
Dengan emosi didadanya, tangan Hany dengan cepat menarik gadis seksih yang seakan ingin menggerayangi seluruh tubuh bosnya itu.
Satu Jambakan berhasil membuat gadis itu berteriak kesakitan berikut satu tamparan cukup panas mendarat diwajah gadis itu.
"Heh, berani ya menggoda suami orang?!" teriaknya dengan keras karena suaranya seakan tertelan dalam musik hingar-bingar dalam ruangan itu.
Yudhistira yang merasa mengenali suara teriakan itu langsung menghentikan kegiatannya.
Ia menatap gadis cantik yang sedang mengamuk itu kemudian menghampirinya dengan senyum diwajahnya.
__ADS_1
"Mas Yudhis, siapa dia?" tanya gadis yang jadi korban amukan Hany. Ia merajuk sembari mengelus kulit kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Kamu dengar sendiri kan dia bilang dia istriku." ujar Yudhistira dengan senyum lebar diwajahnya sedangkan Hany Khumaira langsung menggigit lidahnya karena tidak sadar akan apa yang dikatakannya barusan.
"Mas, aku kan pacarmu," gadis itu kembali merajuk dan ingin kembali memeluk tubuh pria tampan itu. Yudhistira mengangkat tangannya di udara agar gadis itu menjauh.
"Kita sudah putus mulai saat ini, istriku sudah mencariku jadi aku harus pulang sekarang," ujar Yudhistira sembari menarik tangan Hany Khumaira keluar dari Club itu. Hatinya begitu ringan karena bahagia.
Sesampainya diluar Hany langsung menghentakkan tangannya karena kesal.
"Oh jadi itu tadi itu pacar Bapak ya?" tanya Hany sembari berkacak pinggang di depan Yudhistira. Pria itu langsung tersenyum kecut.
"Cuma pacar boongan, Han. Kamu kan istriku."
"Cih! jijik aku. Sekarang bapak pulang ke rumah sekarang!"
"Ke rumah mana Han?" tanya Yudhistira pura-pura tak mengerti.
"Memangnya bapak punya banyak rumah? Tante Firly dan Om Ramli menunggu bapak di rumah."
"Tapi aku ingin pulang ke rumah kamu Han," ujar Yudhistira dengan senyum samar diwajahnya.
Hany Khumaira memutar bola matanya kesal. Andaikan bukan karena permintaan mamanya si Yudhistira ini, ia tak akan mau repot-repot kesini dan mengaku-ngaku sebagai istri segala.
🍁
Jack Andrian mengeratkan rahangnya kesal karena sedari tadi ia menghubungi Erick Bramantyo sang bos tapi tidak tersambung juga.
Akhirnya hanya pesan yang ia kirimkan agar menuju tempat itu karena bahaya sedang mengancam istrinya.
Pria itu yang ditugaskan oleh Erick Bramantyo untuk mengikuti Beby Alesha sepanjang hari ini karena bosnya itu yang biasa mengikutinya kini jadi sangat kesal karena pertengkarannya tadi pagi dengan istrinya itu.
Dan sekarang ingin ia melompat ke dalam Cafe itu dan menyelamatkan istri sang bos tetapi apa daya ia cuma sendiri dan teman-teman Taro sepertinya menguasai tempat itu.
Nampak di depan matanya, Taro mengendong tubuh Beby yang sangat lemas itu ke dalam mobil dan membawanya pergi dari tempat itu.
Ia mengikuti terus mobil itu tanpa lupa mengirimkan lokasi mereka kepada Erick dan berharap semoga bosnya itu membaca pesannya yang sudah sangat banyak itu.
__ADS_1
Sementara itu di dalam mobil. Beby Alesha membuka matanya dan menyentuh kepalanya yang ia rasakan sangat nyeri.
Matanya pun terasa sangat berat dengan rasa tak nyaman di sekujur tubuhnya.
"Aduh kepalaku sakit sekali," gumamnya sembari bergerak tak nyaman. Ia tiba-tiba merasakan rasa yang begitu aneh disekujur tubuhnya.
Rasa panas dan sepertinya menginginkan sesuatu tapi ia tak tahu apa itu.
"Kita mau kemana ini?" tanyanya pada Taro yang diam saja dan sibuk memperhatikan jalanan di hadapannya.
"Santai saja Beb, buat dirimu nyaman ya sepupuku," jawab Taro dengan senyum miring dibibirnya. Beby Alesha kembali diam kemudian mulai mengipasi dirinya sendiri karena merasakan panas dan gerah yang teramat sangat.
Ia ingin membuka kaca mobil tapi Taro menguncinya.
"Buka kacanya Taro, aku kepanasan nih," bentak Beby Alesha dengan kesal.
"Gak bisa, pakaianmu aja yang kamu buka, cuma aku yang ada disini, tak apa, kamu tak usah malu," ujar Taro dengan seringaian di wajahnya. Beby Alesha tidak menggubris tetapi ia terus bergerak gelisah dan tak nyaman.
Perempuan cantik itu mulai membuka kancing kemeja bagian atasnya satu sampai dua kemudian mengipas lagi dengan menggunakan tangannya.
Ciiiiiit
"Kita sampai Beb, kamu kuat gak jalan sendiri?" ujar Taro sembari membuka pintu mobilnya. Antara sadar dan tidak Beby Alesha mengangguk. Ia kemudian keluar dari mobil itu dengan berjalan sempoyongan.
Bugh
Taro yang kembali ingin menyentuh tubuh Beby Alesha karena hampir terjatuh ke sisi mobil langsung terjengkang dan jatuh terjerembab ke jalanan yang agak kasar itu.
"Pak, bawa nyonya ke mobil biar aku yang selesaikan bajingan ini " Jack Andrian meraih kerah kemeja Taro yang masih terjerembab di jalan.
Pria itu tampak kaget dengan serangan tiba-tiba yang dilayangkan oleh kaki panjang Erick Bramantyo.
Erick mengangguk dan menggendong tubuh istrinya yang lemas tak berdaya itu ke dalam mobilnya sendiri.
Rupanya Taro sedang berniat membawa Beby Alesha ke sebuah hotel untuk dijadikan mangsa setelah diberi obat perangsang. Dan untungnya Erick Bramantyo sedang meeting di tempat itu bersama rekan-rekannya.
*Tobe continued
__ADS_1
Mana nih dukungannya untuk karya receh ini. Cukup like dan komentar ya, othor sudah sangat senang banget.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍