
Erick Bramantyo segera menutup meetingnya saat handphonenya bergetar pertanda ada pesan dari istrinya tercinta. Senyum samar tak berhenti terbit dari bibirnya.
Foto-foto kebersamaan Beby Alesha dengan ibunya dan anak-anak panti asuhan membuat hatinya menghangat.
Ia menyesal harus pergi jauh hari ini. Dan kemudian berjanji saat pulang nanti, ia akan membawa istrinya itu untuk mengunjungi tempat-tempat yang indah dan juga menarik.
"Jack kita harus pulang sekarang juga," ujar Erick saat melihat ada keanehan dalam gambar yang dikirimkan oleh istrinya.
"Apa ada sesuatu terjadi di rumah Pak?" tanya Jack penasaran.
"Iya Jack ayo cepat kita ke Bandara sekarang juga. Kita akan ikut di penerbangan terakhir malam ini."
"Iya pak."
Sementara itu di Dufan Ancol, waktu sudah menunjukkan bahwa wahana itu sudah hampir tutup. Pengumuman sudah bersahut-sahutan menginformasikan agar para pengunjung bersiap untuk meninggalkan tempat itu.
"Beb, kamu merasa gak sih kalau beberapa orang dibelakang kita itu selalu ikut kemanapun kita pergi." bisik Hany dengan wajah waspada.
"Iya Han, aku juga mencurigai mereka." jawab Beby dengan balas berbisik.
"Kasih tahu Ratna sama Anny supaya membawa ibu dan anak-anak segera ke mobil dan kita bertiga berjaga di sini." lanjut Beby dengan sikap waspada.
"Kita keluar aja sama-sama Beb, takutnya tempat ini keburu tutup." saran Hany sembari menarik tangan sahabatnya itu.
Beby Alesha akhirnya ikut dan mulai mencari handphonenya untuk menghubungi papanya takut ada sesuatu yang terjadi pada mereka seperti yang ia khawatirkan.
Ia ingin menghubungi Erick sang suami tetapi takut membuat pria itu jadi sangat khawatir.
Jumlah mereka sangat banyak sedangkan mereka membawa banyak anak-anak kecil dan juga ibu mertuanya yang sudah tua.
"Ibu, pulang duluan ya, nanti kami nyusul." ujar Beby Alesha saat Ratih dan juga anak-anak Panti sudah menaiki mobil khusus Operasional Panti Asuhan.
"Kamu pulangnya jangan terlalu malam ya," ujar Ratih dengan senyum diwajahnya. Nampak kalau ibu mertuanya itu sudah sangat kelelahan karena sudah menguap berkali-kali.
"Iya ibu, setelah ini kami akan pulang kok," jawab Beby kemudian meminta sang sopir agar segera menjalankan mobil itu.
"Awwww, siapa kalian?!" teriak Anny tiba-tiba saat mobil Panti Asuhan itu baru saja melaju. Gadis itu sepertinya sedang berusaha dilecehkan oleh beberapa laki-laki yang mengikuti mereka sejak tadi.
Beby Alesha dengan cepat melompat kearah pria itu dan memberikan tendangan dan juga pukulan.
Bugh
Kyaaat
Desh
__ADS_1
Hany juga datang membantu dengan menarik perhatian dua orang pria bertubuh besar agar tidak mengeroyok Beby Alesha.
Bugh
Dessh
Kyaaat
Mereka bertarung satu lawan satu karena Eka dan Ratna juga segera bergabung.
"Siapa kalian?!" tanya Beby Alesha sembari terus bertahan dengan serangan pria itu.
"Tidak perlu kamu tahu siapa kami, yang terpenting nyawa kamu harus pergi dari tubuhmu itu sekarang juga."
Kyat
Bugh
Cling
Rupanya ada seseorang yang sedang melempar senjata tajam yang kebetulan ditangkis oleh tangan Hany hingga mata pisau itu langsung jatuh berdenting ke aspal di tempat parkir itu.
"Hey Rupanya kalian perempuan tangguh juga ya?!" cibir pria bertubuh gempal itu dengan seringai di wajahnya. Ia terus menyerang dengan menggunakan jurus-jurus mematikan tetapi selalu bisa dihindari oleh Beby Alesha.
"Beb!" teriak Hany kemudian melompat ke arah badan mobil dengan mengambil tangan sahabatnya itu sebagai pegangan sedangkan kakinya memberikan tendangan memutar kearah dada pria angkuh itu, dan...
Desh
"Bagaimana? masih mau?" tanya Hany dengan bibir mencebik menunjukkan kemenangan.
Kyaaat
Hany tiba-tiba terjatuh karena sebuah tendangan keras mendarat di punggungnya. Tubuhnya sampai terjerembab ke Aspal kasar itu.
Dengan cepat Beby membalas dengan satu pukulan pas di wajah pria bertubuh tinggi tetapi kurus itu hingga Beby merasakan kalau gigi orang itu pasti rontok.
"Awwww, perempuan laknat! berani kamu ya?!" tantangnya sembari menutup mulutnya yang berdarah.
"Ayo maju kalau kamu mau gigimu yang lain rontok juga!" jawab Beby Alesha sembari memperlihatkan jari-jarinya yang sudah ia pasangi cincin besar berpermata batu akik berjumlah tiga.
"Ampun, lepaskan saya!" teriak seorang pria yang sedang diputar tanngannya ke belakang oleh Eka.
"Siapa kalian?!" tanya Eka sembari memutar kembali tangan itu hingga menimbulkan bunyi krek, patah.
"Awwww, kami cuma mau mencopet!" teriaknya kesakitan.
__ADS_1
"Ah copet kok rombongan begini?! timpal Ratna sembari memberikan satu tendangan lagi di kaki lawannya, hingga pria berwajah brewok itu langsung jatuh tersungkur ke aspal.
"Ini namanya perampok tahu?!" ujar Anny sembari memukul kepala pria yang sempat ingin melecehkannya tadi.
"Han, kamu tidak kenapa-napa?" tanya Beby saat melihat sahabatnya itu masih terduduk di aspal sembari meringis sakit. Dagunya sampai berdarah.
"Gak Beb, aku baik-baik aja kok," jawabnya kemudian segera berdiri dan mencari pria yang berani menyerangnya dari belakang itu.
"Kamu?! apa maksudmu hah?" tanya Hany dengan tatapan marah pada pria yang sudah pucat ketakutan itu apalagi darah terus mengalir dari mulutnya.
"Ampun, kami hanya dibayar oleh seseorang yang tidak kami kenal."
"Dasar bodoh! mau saja dibayar untuk melakukan kejahatan!"
"Kami butuh uang dan ini adalah pekerjaan kami," jawab salah satu dari mereka yang masih punya tenaga untuk menjawab.
"Kalian mau memberi makan anak dan istri kalian dengan cara seperti ini?! dasar bodoh!" Eka sekali lagi memberi satu tendangan diperut pria yang masih tampak muda itu.
"Kamu bisa jadi penjual sayur seperti ayahku, dan itu halal daripada seperti ini jadi preman tetapi Cemen!" timpal Anny tak mau kalah. Sekali lagi ia memberikan pukulan di kepala pria itu dengan menggunakan tas ranselnya.
"Ampun, kami tak akan melakukannya lagi, lepaskan saja kami."
"Huh enak saja, mau lepas setelah bikin aku terluka seperti ini padahal aku sebentar lagi akan menikah," ujar Ratna yang memperlihatkan sabetan pisau ditangannya.
"Yup betul, kalian harus menginap di hotel prodeo terlebih dahulu, lihat ini daguku lecet dan aku juga akan merid, kalian harus tanggung jawab!" timpal Hany tak mau kalah.
Beby Alesha hanya bisa tersenyum meskipun ia harus waspada karena diantara mereka ada yang mulai bergerak dan sepertinya sedang mengambil senjata tajam dari dalam sakunya.
Seeet
Kakinya langsung menendang kerikil dan langsung mengenai tangan pria itu hingga pisaunya langsung terjatuh dari tangannya.
cling
"Siapa mereka Beb?" tanya Ibrahim yang baru turun dari mobilnya. Lima pria itu sudah ditumpuk oleh Ranggers Dewaani bagaikan karung beras karena sudah tak mampu memberikan perlawanan.
"Entahlah Pa, tapi sepertinya mereka harus dibawa ke kantor polisi biar mereka mengakui siapa yang menyuruhnya."
"Oh iya betul juga, untung papa sudah menghubungi polisi sebelum datang kemari, dan apakah kalian baik-baik saja?"
"Iya Pa, cuma lecet sedikit saja," jawab Beby Alesha kemudian mengajak semua orang pulang setelah polisi datang mengamankan tempat itu.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
__ADS_1
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍