Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 26 BSWW


__ADS_3

"Aku sungguh tak sengaja melakukannya," tangis Yusi sesenggukan. Gadis berusia 20 tahun itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ceritakan bagaimana kronologinya kenapa bisa kamu sampai menghilangkan nyawa pria tua itu," tanya Beby dengan wajah serius.


Yusi membuka lagi telapak tangannya dan memperlihatkan wajahnya yang sembab dan ketakutan.


Ia menatap jam dinding yang berdetak setiap detiknya. Ia merasa sebentar lagi pasti dirinya akan ditemukan oleh pihak berwajib.


"Tolong bantu aku. Aku sungguh tidak sengaja melakukannya, hiks..." Semua anggota Rangers saling berpandangan dengan pikiran mereka masing-masing.


Tok


Tok


Tok


"Aku yang akan buka pintunya," ujar Anny cepat, ia segera berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu.


"Serahkan perempuan pembunuh itu!" titah seseorang tak dikenal yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah garang.


"Anda siapa?!" tanya Anny sembari memandang wajah sang pria sangar itu dari atas kebawah.


"Tidak usah banyak tanya, serahkan saja atau nyawamu juga akan aku kirim ke neraka!"


"Eh enak saja, kamu tamu yang tidak sopan, masuk ke rumah orang main perintah-perintah tidak jelas, pergi kamu dari sini!" bentak Anny tak mau kalah dan langsung mendorong pintu itu agar segera kembali tertutup.


Tetapi ternyata pria sangar itu dengan cepat menahan daun pintu itu dan balas mendorongnya dengan keras hingga Anny terhempas ke dinding dan jatuh ke lantai.


"Awwww, kurang aja ya," gerutu Anny sembari mengelus bokongnya yang terasa sangat sakit.


Gadis itu lantas berdiri dan ingin menahan pria itu agar tidak bisa masuk ke dalam rumah tetapi ternyata ia kalah cepat dan berhasil lolos menemukan gadis pembunuh itu.


Kyat


Bugh


Desss


Anny yakin didalam sana pasti terjadi perkelahian antara pria sangar itu dengan salah satu dari anggota dari Rangers Dewaani.


"Ratna amankan Yusi sekarang juga!" seru Beby yang masih sibuk melumpuhkan lawan yang tidak dikenal itu.

__ADS_1


"Okey Beb," ujar Ratna dan membawa gadis itu melalui pintu belakang yang tembus dengan pagar belakang Panti Asuhan di sampingnya.


"Kamu bisa manjat Yus?" tanya Ratna sembari memandang pagar dengan tinggi 2 meter itu dihadapan mereka berdua.


Gadis itu ragu apa iyya bisa memanjat pagar setinggi itu tanpa ada pijakan atau tangga yang bisa membantu mereka.


"Pakai ini!" seru Eka yang sedang membawa tangga lipat untuk segera kabur dari Markas mereka. Rupanya di depan sana sedang berjaga beberapa orang yang tidak mereka kenal dan sangat mencurigakan.


Eka dan Ratna bertugas menyelamatkan Yusi sementara waktu sedangkan Hany, Beby dan Anny menghadapi beberapa orang pria yang sudah menyerang markas mereka didalam sana.


"Ayo cepat! kita harus segera kabur dari tempat ini!" teriak Eka karena gadis itu masih saja diam dan hanya menangis ketakutan.


"Tenang saja sebentar lagi kamu aman, ayok!" Eka mendorong gadis itu naik ke tangga dengan cepat dan ia pun menyusul bersama dengan Ratna


Bugh


Mereka bertiga mendarat di tanah pas di kebun belakang Panti Asuhan itu.


"Hey!" sapa Jack dengan wajah kaget. Pria itu sedang memotong rumput-rumput pada kebun itu dan tiba-tiba melihat tiga bidadari jatuh dari tembok setinggi 2 meter di depan matanya.


"Hai" sapa Eka dengan senyum manis diwajahnya. Gadis yang sejak dulu tertarik pada pria itu langsung memperbaiki penampilannya dan segera mendekat ke arah Jack.


"Bisa minta tolong gak?" tanya Eka dengan dada berdebar-debar.


"Bawa kami ke kantor Polisi." jawab Eka dengan bibir masih tersenyum lebih manis dari sebelumnya.


"Untuk apa?" tanya Jack lagi. Ia masih bingung dengan kejadiannya tiba-tiba di hadapannya.


"Tidak usah banyak tanya, bawa saja kami sekarang dengan menggunakan mobilmu!" sentak Eka berubah garang.


Dari sudut matanya ia melihat bayangan orang asing sudah memasuki area panti asuhan itu.


Ia pikir lebih aman membawa gadis tersangka pembunuhan ini ke kantor Polisi daripada diserahkan kepada pihak lain yang tidak bertanggung jawab dan juga tidak diketahui motifnya.


"Eh, baik. Ayo cepat!" seketika otak Jack kembali encer dan tidak hang lagi. Ia segera berlari ke dalam Panti dan mengambil kunci mobil.


Mereka bertiga mengikuti Jack dan segera naik ke mobil.


"Cepatlah! mereka mengikuti kita." teriak Ratna dengan wajah khawatir. Jack tersenyum samar dan menambah kecepatan mobilnya.


Ia sudah lama tidak berada pada saat-saat genting seperti ini. Dan ini yang ia suka dengan melakukan manuver-manuver, ia berhasil mengecoh mobil pemburu di belakangnya.

__ADS_1


"Yes!" teriaknya saat mobil yang mengejarnya dari belakang terserempet mobil lainnya dijalan yang cukup sepi itu.


"Katakan! kenapa kita harus ke kantor Polisi?!" tanya Jack dengan wajah curiga.


"Antarkan saja kami dan tak usah banyak tanya," ujar Ratna masih dengan wajah khawatir.


"Eh, kamu kan karyawan baru di EB & Partners?" ujar Jack dengan dahi berkerut.


"Iya, emangnya kamu siapa? petugas kebersihan ya disana?"


"Ah, bisa ya bisa tidak." jawab Jack santai kemudian ia menghentikan mobilnya pas di halaman kantor polisi.


"Kita sudah sampai nona-nona dan segera turun saya ada banyak pekerjaan lain."


"Enak saja mau ninggalin kami begitu saja, kamu harus menunggu kami dong." ujar Eka tak rela ditinggal oleh pria itu, pasalnya mereka tidak membawa uang untuk pulang.


"Ih, merepotkan saja." gerutu Jack dengan wajah pura-pura kesal. Padahal sebenarnya ia suka bersama dengan para gadis cerewet dan suka maksa ini.


"Tunggu ya, jangan kemana-mana."


"Iya nona cerewet."


"Eh, kenapa aku dibawa kesini? ini kan kantor polisi." ujar Yusi dengan tubuh gemetar takut, ia mengira akan dilindungi oleh kelima gadis itu tetapi kenapa sekarang ia malah dibawa ke kantor polisi.


Dan itu artinya ia sebentar lagi akan menjadi penghuni hotel prodeo ini dalam waktu yang lama.


"Kamu akan lebih aman jika menyerahkan diri secara langsung. Itu berarti kamu ikut meringankan tugas polisi Yus," hibur Ratna pada gadis itu. Tetapi Yusi malah mengambil langkah seribu dan langsung lari dari sana.


"Eka! tangkap dia!" teriak Ratna pada Eka yang ternyata malah sibuk mengobrol dengan Jack petugas kebersihan Di semua tempat itu.


"Yusi!" Eka mengejarnya dengan kecepatan tinggi dan akhirnya berhasil menangkap gadis itu sebelum naik ke atas angkot yang kebetulan lewat.


"Astaga Yusi kamu membuat kami capek tahu gak," Ujar Eka dengan nafas ngos-ngosan. Ia mencekal tangan gadis itu agar tidak berusaha kabur lagi.


"Aku takut kak," ujar Yusi sembari menghapus airmatanya yang terus mengalir di pipinya.


"Tenang, di kantor polisi kamu akan aman dan ceritakan dengan jujur apa saja yang terjadi pada saat itu, kami akan berusaha menolongmu mencari bukti lain agar hukumanmu tidak terlalu berat, okey?" jelas Eka dan membuat gadis itu akhirnya mau menyerahkan dirinya sendiri pada pihak berwajib.


*Tobe continued


Ayok dong dukung karya ini agar semakin populer dan othornya juga ikutan populer hehehehe.

__ADS_1


Like dan komentarnya dong.


__ADS_2