
"Aku negur Pak Erick dulu ya, guys," ujar Ratna kemudian berdiri dari duduknya.
"Gak usah deh Rat, nanti dia tahu kita ada disini lagi, bisa merusak suasana tahu gak?" jawab Beby dengan bibir cemberut.
Entah kenapa setiap ada hal yang berhubungan dengan Erick Bramantyo, ia selalu merasa eneg dan kesal dibuatnya.
"Beliau kan bos aku Beb, gak sopan rasanya kalau aku gak negur, apalagi Pak Erick sudah melihat kita," ujar Ratna tanpa memperdulikan kekesalan sahabatnya itu.
Gadis itu kemudian segera melangkah ke arah sudut restoran dimana meja Erick Bramantyo sang bos duduk beserta 2 orang pria lainnya yang ia kenal.
"Kenapa sih kamu benci banget sama pria itu, padahal aku kok suka yah cowok kayak gitu, tampan dan juga dewasa, udah gitu kaya lagi pengen deh jadi istrinya." ujar Anny sembari memandang ke arah meja yang akan dikunjungi oleh Ratna sambil mengedip-ngedipkan matanya lucu.
"Uhukk," Beby langsung tersedak dan mendapat tatapan tajam dari semua anggota Rangers.
"Ish amit-amit deh, jangan pernah punya niat untuk pria seperti itu ya, gak rela aku," lanjut Beby setelah berhasil menguasai perasaannya.
"Gak rela gimana nih?" tanya Hany dengan senyum samar di wajahnya. Ia bisa menebak ada sesuatu yang telah terjadi pada sahabatnya ini. Beby hanya mendengus tak mau menjawab.
Percakapan mereka tentang Erick Bramantyo langsung terpotong oleh kedatangan waiters yang mengantarkan pesanan mereka yang disertai dengan secarik kertas untuk Hany.
Sebuah pesan singkat untuk bertemu khusus dari seorang pria bernama Ale.
Hany memandang berkeliling mencari pengirim pesan itu. Dan ternyata pria yang sempat mau bergabung bersama mereka adalah pelakunya.
"Ish, dasar pria aneh!" umpat Hany sembari meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
"Ada apa Han?" tanya Eka penasaran dengan tingkah aneh sahabatnya itu.
"Gak papa, hanya orang iseng tak jelas." jawab Hany sembari melotot pada pria yang masih betah menatapnya dari arah barat meja mereka. Pria asing itu melambaikan tangan sembari tersenyum tipis.
Iiii grrrr
🍁
"Pak Erick," sapa Ratna dengan membungkukkan badannya sopan. Erick mengangguk dan mempersilahkan gadis itu kembali ke tempatnya.
__ADS_1
"Mari pak, saya kesana dulu, teman-teman juga baru sampai,"
"Aku yang akan bayar pesanan kalian, pesan apa saja," ujar Erick dengan mata masih fokus ke arah Beby yang sedang sibuk dengan handphonenya.
"Terima kasih banyak pak. Teman-teman aku pasti senang. Mari pak Roy dan Jack?" Ratna pun beranjak dari tempat itu setelah berbasa-basi sedikit.
"Eh iya Ratna, aku ikut gabung kesana ya," jawab Royco dengan senyum dibibirnya.
"Roy?!" tegur Erick Bramantyo pada sahabatnya itu. Ia tahu betul kalau Royco mulai tertarik pada gadis itu. Dan seakan lupa akan hubungannya dengan Sasa yang belum beres dan juga sedang diujung tanduk itu.
"Iya Erick, aku mengerti. Kamu tak ingin melihat aku bahagia ya sebentar saja?" gerutu Royco sedikit kesal.
"Selesaikan masalahmu dengan Sasa terlebih dahulu."
"Iya, iya, Sasa juga sudah mulai menggugat cerai di Pengadilan. Kami sudah pisah rumah Rick. Dan kuharap ini benar-benar cepat selesai." Royco mengusap wajahnya kasar.
Pria itu sudah berjuang sendiri mempertahankan pernikahan ini tetapi tak berhasil juga.
Dan sekarang ia ingin membuka hatinya untuk hati yang lain.
Erick hanya bisa menarik nafas untuk masalah berat yang dihadapi oleh sahabatnya itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Jack yang sepertinya fokus pada hal lain.
"Eh iya Pak Erick, anda bicara apa?" tanya Jack gelagapan karena tertangkap basah sedang fokus pada tempat lain.
"Liatin apa kamu?" tanya Erick curiga. Ia berharap bukan Beby yang sedang diperhatikan oleh sekretarisnya itu.
"Yang bening-bening lah pak Erick. Suntuk lihat wajah Pak Royco terus, bawaannya pengen makan aja,"
"Eh, kok malah aku yang kena, suka yang mana kamu Jack?" Royco ikut memandang kearah pandangan mata Erick dan juga Jack.
"Yang pake T-shirt warna biru," jawab Jack dengan senyum diwajahnya.
"Hahahaha jangan macam-macam kamu sama yang itu, mau dilempar ke kutub Utara kamu?" Royco tertawa terbahak-bahak karena yang ia lihat Beby lah yang memakai pakaian yang dimaksud oleh Jack. Erick nampak kesal dan mengepalkan tangannya dibawah meja.
"Eh, kenapa? gadis itu masih single kok, aku udah pernah tanya dan kayaknya perasaannya sama dengan aku." jawab Jack dengan ekspresi tak berdosa sedangkan Erick sendiri berusaha menahan perasaannya.
__ADS_1
Ia langsung meminum minuman yang baru ditaruh oleh waiters tanpa sisa.
"Haus banget sih pak Bos." canda Royco yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari Erick.
"Eh, maaf Pak Bos. Kalau cemburu bilang ya," lanjut Royco lagi dengan sengaja membuat sahabatnya itu kesal.
"Siapa yang cemburu, Aku cemburu pada Jack? tak akan pernah. Lihat tuh siapa yang datang." ujar Erick dengan wajah sombong. Dagunya menunjuk ke arah pintu Restoran yang kebetulan berdekatan dengan meja para Rangers.
Seorang gadis cantik dan seksih yang selalu mengejar-ngejar Erick tiba-tiba muncul bersama kawan-kawannya.
"Hi Kak Erick my love!" teriak gadis itu dengan nyaring dan langsung berlari ke arah meja Erick dan rekannya.
Ia langsung cipika cipiki dengan advokat itu dengan wajah ceria. Hampir semua pasang mata melihat keseruan gadis itu termasuk Beby Alesha Ibrahim.
"Anny sayang, masih suka sama bapak yang satu itu? suka main sama gadis-gadis muda dan ya sok cool gitu." ujar Beby dengan seringaian diwajahnya.
"Sebentar akan datang gadis lain lagi pastinya," lanjutnya lagi dengan bibir mencebik kesal.
Anggota Rangers yang lain saling berpandangan dan tersenyum kemudian melanjutkan makan mereka.
"Eh, Beb, gak usah dibayar kata Pak Erick biar billnya dia yang tanggung." ujar Ratna saat Beby ingin membayar semua pesanan sahabat-sahabatnya.
"Eh kenapa? aku tetap mau bayar, " ujar Beby ngotot. Ia tak mau berhutang budi pada pria menyebalkan itu. Segera ia melangkah ke meja Erick dimana gadis muda dan cantik tadi bergelayut mesra ditangan pengacara itu.
"Maaf Pak Erick, kami tidak menerima traktiran anda. Terima kasih." ujar Beby yang ternyata diikuti oleh seorang pria asing yang sejak tadi memperhatikan kegiatan para gadis Rangers itu.
"Aku yang mentraktir gadis-gadis cantik ini." ujar pria itu dengan senyum diwajahnya.
"Eh,?" Beby memandang wajah pria asing itu kemudian tersenyum samar. Sedangkan Erick merasa kecewa ditolak dengan cara seperti itu.
"Ah ya, tidak apa-apa. Terima kasih banyak karena uangku jadi tidak berkurang." jawab Erick dengan suara datar.
"Aku juga tidak bermaksud mentraktirmu, kamu saja yang kegeeran." lanjut pria itu sarkas. Seringaian Beby langsung berubah kesal. Ia pergi dengan menghentakkan kakinya. Bencinya pada pria itu semakin menjadi-jadi.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍