
Erick Bramantyo membawa istrinya untuk menginap di Panti Asuhan malam ini. Ratih, sang ibu begitu ingin bertemu dengan menantunya itu.
perempuan paruh baya itu sangat ingin menghabiskan banyak waktu untuk bercengkrama dengan Beby Alesha Ibrahim istri dari putranya itu.
"Aku akan meninggalkan Beby di sini ibu, karena aku akan berangkat keluar kota sore ini bersama dengan Jack." ujar Erick sembari meraih tangan ibunya dan menciumnya.
"Iya, hati-hati," Ratih mengelus punggung putranya. Erick tersenyum kemudian mencium kening istrinya.
"Kamu jangan nakal ya," bisiknya lembut pada Beby Alesha.
"Dih, bukannya aku tuh yang harusnya bilang begitu kalau kamu mau pergi jauh," ujar Beby Alesha dengan senyum diwajahnya.
"Eh, aku juga boleh bilang begitu. Soalnya kamu kalau aku tinggal suka nakal," jawab Erick sembari mencubit hidung istrinya gemas. Ratih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kebucinan pasangan suami istri di hadapannya ini.
"Erick, cepat kamu berangkat. Kamu bisa-bisa terlambat ke Bandara kalau begini terus." tegur Ratih yang melihat putranya itu belum mau melepaskan pelukannya pada sang istri.
"Masih kangen Bu,"
"Ya ampun, kamu ya." Ratih memukul lengan putranya itu dengan keras hingga Beby Alesha jadi malu sendiri.
"Udah mas, aku malu sama ibu," ujar Beby Alesha pelan sembari mendorong tubuh suaminya agar lepas.
"Iya deh, aku berangkat ya Assalamualaikum." ujar Erick kemudian menaiki mobilnya yang sudah siap dikemudikan oleh Jack Andrian.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wabarokatuh," jawab dua orang perempuan kesayangan Erick itu.
Beby Alesha melambaikan tangannya sampai kendaraan roda empat itu menghilang dibalik gerbang Panti Asuhan.
"Ayo masuk, gabung sama anak-anak di beranda belakang." ajak Ratih pada Beby Alesha sang menantu.
"Iya Bu," perempuan cantik itu mengikuti langkah ibu mertuanya ke tempat yang dimaksud.
Sesampainya mereka di beranda belakang, anak-anak panti rupanya sedang menyetorkan hafalannya pada seorang hafidz muda di Panti itu.
"Aamma yatasaa-aluuna. ‘ani alnnaba-i al’azhiimi. alladzii hum fiihi mukhtalifuuna."
"Kallaa saya’lamuuna. Tsumma kallaa saya’lamuuna. alam naj’ali al-ardha mihaadaan. Waaljibaala awtaadaan."
"Wakhalaqnaakum azwaajaan. waja’alnaa nawmakum subaataan. Waja’alnaa allayla libaasaan."
"Waja’alnaa alnnahaara ma’aasyaan. wabanaynaa fawqakum sab’an syidaadaan. waja’alnaa siraajan wahhaajaan."
"Wa-anzalnaa mina almu’shiraati maa-an tsajjaajaan. linukhrija bihi habban wanabaataan. wajannaatin alfaafaan."
__ADS_1
"Inna yawma alfashli kaana miiqaataan. yawma yunfakhu fii alshshuuri fata/tuuna afwaajaan. wafutihati alssamaau fakaanat abwaabaan."
"Wasuyyirati aljibaalu fakaanat saraabaan. inna jahannama kaanat mirshaadaan. lilththaaghiina maaabaa. laabitsiina fiihaa ahqaabaan."
"Laa yadzuuquuna fiihaa bardan walaa syaraabaan. illaa hamiiman waghassaaqaan. jazaa-an wifaaqaan. innahum kaanuu laa yarjuuna hisaabaan."
"Wakadzdzabuu bi-aayaatinaa kidzdzaabaan. wakulla syay-in ahsaynaahu kitaabaan. fadzuuquu falan naziidakum illaa ‘adzadzaabaan."
"Inna lilmuttaqiina mafaazaan. hadaa-iqa wa-a’naabaan. wakawaa’iba atraabaan. waka/san dihaaqaan."
"laa yasma’uuna fiihaa laghwan walaa kidzdzaabaan.jazaa-an min rabbika ‘athaa-an hisaabaan. rabbi alssamaawaati waal-ardhi wamaa baynahumaa alrrahmaani laa yamlikuuna minhu khithaabaan."
"Yawma yaquumu alrruuhu waalmalaa-ikatu shaffan laa yatakallamuuna illaa man adzina lahu alrrahmaanu waqaala shawaabaan."
" dzaalika alyawmu alhaqqu faman syaa-a ittakhadza ilaa rabbihi maaabaan."
"innaa andzarnaakum ‘adzaaban qariiban yawma yanzhuru almaru maa qaddamat yadaahu wayaquulu alkaafiru yaa laytanii kuntu turaabaan".
Beby Alesha merasakan dirinya merinding mendengar lantunan suara Fadlan, salah satu anak panti yang baru menyetor hafalannya.
Dengan cepat ia mengelus perutnya berharap calon bayinya nanti bisa mengikuti jejak anak itu menjadi hafidz cilik.
"MasyaAllah, mereka pintar sekali, ibu." ujar Beby dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru, bangga, dan juga bahagia menyeruak dalam hatinya.
"Alhamdulillah, mereka adalah anak-anak yang baik. Dan ternyata meskipun mereka tidak hidup dengan orang tua kandungnya, anak-anak itu bahagia karena bergaul dengan Alquran."
"Siapa nih yang sudah khatam 5 juz?" tanya perempuan cantik itu kepada kumpulan anak-anak itu.
"Saya Kak!" jawab seorang anak yang menggunakan baju dan juga Koko putih.
"Siapa namanya dek?" tanya Beby Alesha dengan senyum diwajahnya.
"Sofiyarrohman kak," jawab anak itu dengan suara tegasnya.
"Wah nama yang bagus dan masyaAllah kamu menghafal sudah 5 juz Alquran ya, dek?"
"Insyaallah iya kak," jawab anak itu lagi.
"Hebat ya, terimakasih ustadz sudah mendampingi anak-anak ini hingga sampai pada prestasi yang sangat luar biasa ini."
"Sama-sama ibu." jawab sang ustadz dengan senyum teduhnya.
"Habis setoran, kakak traktir ya, kita akan main ke Dufan, mau gak?" Beby Alesha dengan semangat me memandang anak-anak yang berjumlah sekitar 15 orang itu.
__ADS_1
"Mau kak, Alhamdulillah." jawab Semuanya kompak. Ratih dan Beby saling berpandangan kemudian segera meninggalkan tempat itu agar acara setoran hafalan mereka tidak terganggu.
"Aku hubungi teman-teman ya Bu, supaya kita bisa ramai-ramai."
"Iya, terserah kamu saja nak." jawab Ratih kemudian segera menyiapkan bekal yang akan anak-anak bawa ke tempat rekreasi di ibukota itu.
Beby Alesha segera meraih handphonenya dan menghubungi para Ranggers yang sedang berada di markas mereka do sebelah Panti Asuhan itu.
Dan tak lama kemudian mereka pun langsung tiba di rumah mertua Beby Alesha karena jarak mereka hanya lima langkah jika langsung menyebrang lewat pada pagar, hehehe.
Sementara itu Erick Bramantyo dan juga Jack Andrian masih berada di dalam perjalanan mobil ke arah Bandara Internasional Soekarno Hatta.
"Pak, aku sudah melamar Eka Setiawati," ujar Jack Andrian dengan santai sembari menatap jalanan yang ada dihadapannya.
"Oh ya, bagus lah, biar kamu merasakan nikmatnya menikah hehehe."
"Iya Pak, aku ingin lebih cepat halal. Maunya hari ini saja,"
"Apa? kamu serius?"
"Iya pak. Tapi karena ada urusan pekerjaan dengan bapak ya terpaksa ketunda."
"Memangnya lamarannya kapan, Jack?"
"Kemarin malam, Pak."
"Ya Allah, gercep amat," Erick Bramantyo sampai melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Kan katanya nikmat Pak, jadi harus dipercepat," jawab pria itu dengan wajah tanpa ekspresi.
"Tapi kan, oke baiklah, kapan waktu yang kalian sepakati?"
"Bagaimana kalau saat kita pulang dari kunjungan ke luar kota ini."
"Boleh, tapi Royco juga mau waktunya seperti itu. Kamu mengalah ya, kan Royco duluan yang ngelamar." Jack terdiam cukup lama.
Ia sungguh ingin mempercepat pernikahan ini karena sebenarnya ia sudah lama mempersiapkannya. Ia cuma terlambat melamar gadis itu.
"Baiklah Pak, aku akan ikut setelah pesta Pak Roy."
"Alhamdulillah." jawab Erick dengan wajah lega.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍