
Erick Bramantyo memandang berkas penting di hadapannya dengan ekspresi tak terbaca. Seorang gadis muda dengan wajah sembab sedang meminta tolong padanya.
"Papa orang baik, kumohon pak Erick, anda harus membantu kami agar pembunuh itu mendapatkan balasan yang setimpal. Nyawa dibalas nyawa!" Isak gadis itu dengan wajah memohon. Erick Bramantyo menarik nafas dalam-dalam.
Pengacara muda itu kenal dengan korban pembunuhan itu. Beberapa saat yang lalu, ia malah sempat memberikan pelajaran pada almarhum karena berani melakukan tindakan tak terpuji pada gadis yang sedang ia incar untuk menjadi istrinya itu.
"Plis pak Erick. Hanya anda yang saya harapkan membantu kasus ini," bujuk gadis itu lagi dengan wajah memohon. Ia tahu betul bagaimana sepak terjang seorang Erick Bramantyo di setiap Panggung persidangan di Pengadilan. Pria itu selalu memenangkan kasus yang ia tangani.
"Untuk kasus ini saya akan menyerahkannya dengan pengacara lain di kantor ini, tenang saja kami akan membantu." ujar Erick setelah lama menimbang-nimbang.
"Bukan pengacara lain yang saya mau pak Erick, tapi anda. Saya mau anda yang mendampingi kasus ini sampai di pengadilan. Dan harap anda dengar, berapapun akan saya bayar agar gadis pembunuh papa itu dihukum mati." geram gadis itu dengan mata berkilat marah.
Erick Bramantyo tersenyum samar. Ia pun mengangguk setuju.
Bagaimanapun ia harus tetap profesional. Hubungan buruknya dengan Bintang tak boleh ia bawa-bawa dalam masalah ini.
Baginya yang seorang pengacara, memberikan bantuan hukum bagi yang sedang membutuhkan adalah tugasnya dan ia akan dibayar mahal untuk itu.
"Baiklah, saya yang akan mendampingi dan mengawal kasus ini sendiri sampai ke Pengadilan. Silahkan berurusan dengan sekretaris saya Jack Andrian. Dan kamu bisa urus administrasinya diluar." ujar Erick Bramantyo sembari berdiri dari duduknya.
Ia bermaksud meminta tamunya itu untuk segera keluar dari ruangannya.
Gadis yang mengaku sebagai putri dari Bintang korban pembunuhan di sebuah hotel mewah di kota ini 2 hari yang lalu itu pun keluar setelah menjabat tangan Erick Bramantyo.
"Baik, terima kasih banyak Pak Erick. Saya percaya kita pasti berhasil memberikan hukuman yang sangat buruk bagi pembunuh sialan itu."
"Ya itu betul, setiap perbuatan pasti ada balasannya kan?" balas Erick dengan suara rendah.
🍁
"Beb, sibuk banget sih sayang?" tegur sang mama saat melihat putrinya itu sibuk dengan laptop dihadapannya.
"Iya nih Ma, besok aku udah ujian skripsi dan aku terlalu sibuk diluar sana sampe lupa belajar." jawab Beby dengan mata masih memandang laptopnya. Duplikat skripsinya juga sedang menunggunya untuk disentuh dan dibaca.
__ADS_1
"Minum susu dulu sayang, supaya kuat belajarnya." ujar Hanna sembari meletakkan segelas susu favorit putrinya itu.
"Terima kasih banyak Ma," ujar Beby dengan senyum diwajahnya.
"Iya sayang, semoga ujiannya sukses dan ingat permintaan Papamu," Hanna membelai rambut sang putri lembut.
"Permintaan yang mana Ma?" tanya Beby sembari menatap sang Mama dengan wajah dahi berkerut penasaran.
"Kamu harus menikah dengan Erick Bramantyo, sayang. Kamu..." belum juga Hanna menyelesaikan kalimatnya. Beby langsung memotong ucapan mamanya.
"Mama?! aku sudah bilang, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan pria menyebalkan itu. Aku lebih baik menikah dengan pria lain daripada menikah dengannya." ujar Beby dengan suara tercekat emosi.
"Beby? tapi pria itu sudah melakukan sesuatu padamu nak, kamu bahkan sudah tidur di ranjangnya." balas Hanna dengan wajah serius. Ia bertekad harus memaksa putrinya untuk menikah dengan Erick Bramantyo secepatnya.
"Ma? apa aku harus memeriksakan diri di dokter khusus? aku masih perawan Ma dan aku jamin itu, dan meskipun pria itu sudah menyentuhku aku tetap tidak mau menikah dengannya titik!" Hanna mengelus dadanya dengan kekerasan kepala putrinya itu.
"Beby, ada apa denganmu? pria itu cukup tampan sayang, ia juga sukses dikarirnya, begitu banyak perempuan yang ingin menyerahkan dirinya padanya dengan suka rela. Lalu kenapa kamu begitu membencinya?" tanya Hanna dengan suara pelan.
"Pokoknya aku membencinya, kalau Mama sama Papa memaksa aku menikah, baiklah aku akan cari pria lain yang mau menikahiku." Hanna mengelus kembali dadanya dan banyak beristighfar.
Entah apa latar belakang hubungan putrinya itu dengan Erick sampai sangat fatal seperti ini dan seolah tak bisa lagi untuk disambung.
"Mama akan kasih tahu Papamu sayang," ujar Hanna kemudian keluar dari kamar putrinya itu.
Beby Alesha tersenyum senang dan memandang punggung sang Mama yang sudah menghilang dari bingkai pintu kamarnya.
Sepertinya ia sekarang harus mencari calon suami untuk dirinya agar Papa dan Mamanya tidak lagi mendesaknya.
Kembali ia menatap layar laptop di hadapannya. Mempelajari jenis-jenis hukum pidana membuatnya teringat akan gadis bernama Yusi yang sedang meminta bantuannya agar hukumannya bisa diringankan.
"Aaaaa, kuharap Yusi bisa membuktikan dirinya tidak bersalah." ujarnya penuh harap.
🍁
__ADS_1
"Apa? Beby berani mengatakan itu?" tanya Ibrahim setelah mendengar laporan dari Hanna istrinya.
"Iya Pa, keras kepalanya benar-benar menurun darimu." jawab Hanna sembari melempar tubuhnya ke atas ranjang. Ia cukup pusing dengan dua orang yang sangat dicintainya itu. Putri dan juga suaminya mempunyai keinginan yang sangat bertolak belakang.
"Kenapa kita tidak memberikan saja ia kebebasan memilih calon suaminya sendiri Pa?"
"Tidak, hanya Erick Bramantyo yang cocok dengannya. Anak itu belum dewasa dan aku yakin hanya Erick yang bisa membimbingnya." putus Ibrahim dengan wajah serius. Sekali lagi Hanna menarik nafas panjang.
"Pa, Beby sudah mau menikah saja itu sudah harus kita syukuri. Janganlah lagi memaksa siapa yang harus menjadi suaminya."
"Hanna, kamu tidak mengerti sayang, Mereka berdua itu cocok. Kamu tidak ingat sewaktu Beby masih sangat kecil bagaimana ia akan menangis kalau Erick tidak berkunjung ke rumah ini."
"Tapi itu dulu Pa, udah belasan tahun yang lalu. Perasaan Beby pada Erick sudah hilang seiring berjalannya waktu."
"Kita akan tumbuhkan lagi perasaan itu. Kita akan buat perasaan putrimu kembali kepada Erick dengan seringnya mereka bertemu."
"Papa...Kamu mau jadi dewa asmara untuk putrimu sendiri?"
"Yang penting mereka bisa bersatu apa salahnya?"
"Tapi kan, Erick sudah menyetujui perjodohan yang sudah diatur oleh ibunya sendiri. Ayolah Pa, hubungan ini begitu sulit. Hanya kita saja yang menginginkannya sedangkan kedua anak itu sama sekali menolak."
"Serahkan saja padaku sayang, biarkan Beby berkonsentrasi dengan ujiannya terlebih dahulu. Setelah itu baru kita paksa lagi."
"Papa, kamu membuatku khawatir."
"Tidak apa sayang, demi masa depan keturunan kita. Aku sudah tidak sabar memiliki cucu." Hanna hanya menepuk dahinya pelan. Suami dan anak yang sama-sama keras kepala.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1