
Ratna turun dari mobil itu diikuti oleh Royco dibelakangnya. Gadis itu belum juga menjawab dengan jelas apa alasannya kenapa tiba-tiba minta membatalkan rencana pernikahan ini.
"Na plis, kamu jangan bikin aku pusing." ujar Royco sembari terus mengikuti calon istrinya itu masuk ke rumahnya.
Rumah yang sudah nampak indah dan cantik karena telah dihias sedemikian rupa untuk acara pernikahan yang sebentar lagi akan dilaksanakan di tempat itu.
Ratna tidak menggubris panggilan dari calon suaminya itu. Ia terus berjalan ke arah kamar pribadinya dengan airmata yang terus keluar dari kelopak matanya.
"Nak Roy?" tegur Galih ayah dari Ratna. Pria paruh baya itu nampak heran dengan kehadiran calon suami putrinya itu yang tiba-tiba saja ada di rumahnya.
"Assalamualaikum Pak," sapa Royco sembari mencium punggung tangan calon mertuanya itu dengan takzim.
"Apa ada hal penting hingga kamu berada di rumah ini nak Roy?" tanya Dahlan dengan wajah penasaran.
Pasalnya adat yang berlaku pada umumnya di tempat ini calon pengantin sebaiknya tidak saling mengunjungi saat akan melakukan pernikahan dalam waktu dekat. Dan ini, calon menantunya malah berkeliaran di dalam rumahnya.
"Ratna pak, aku tidak tahu kenapa ia ingin membatalkan pernikahan ini, padahal waktu sisa beberapa hari lagi." lapor Roy dengan perasaan kacau.
"Apa?" seru Dahlia ibunya Ratna yang baru muncul di ruangan itu. Perempuan paruh baya itu langsung duduk di hadapan Galih dan juga Royco.
"Mana mungkin Ratna berniat seperti itu, padahal kemarin-kemarin anak itu begitu gembira dengan pernikahan ini." lanjut Dahlia dengan wajah tak percaya.
"Tapi itu beneran Bu, Pak, Ratna sendiri yang memintaku untuk bertemu dan dia hanya ingin mengatakan hal itu tanpa alasan yang jelas, aku kan bingung," Royco menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tunggu sebentar, ibu yang akan menanyakan hal itu pada anak nakal itu, berani-beraninya mau membatalkan acara ini. Mau ditaruh dimana muka kita kalau itu terjadi, hmmm," Dahlia berdiri dari duduknya sembari mengomel dan marah-marah tidak jelas.
Tok
Tok
Tok
Dahlia akhirnya mendorong pintu kamar bercat putih itu setelah mengetuk beberapa kali dan tidak ada sahutan dari dalam sana.
"Na, ada masalah apa? kok kamu mau membatalkan acara pernikahan ini nak?" tanya Dahlia dengan suara lembut. Keinginannya untuk marah-marah berubah menjadi dingin karena melihat anak gadisnya itu sedang menangis di atas ranjangnya.
"Aku tidak mau menikah sama Mas Roy Bu," jawab Ratna sembari memeluk tubuh ibunya. Gadis itu terus menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Ceritakan pada ibu, apa sebenarnya yang terjadi sayang,"
"Aku bertemu dengan mantan istrinya mas Roy buk, dan perempuan itu ingin kembali lagi membangun keluarga lagi dengannya, hiks. Katanya mas Roy sangat mencintainya dan memintaku untuk mundur." jawab Ratna sembari menyusut air matanya.
Dahlia melepaskan pelukan putrinya kemudian menatap gadis itu dengan tatapan sayang. Ia tahu betul resikonya jika menikah dengan seorang pria yang sudah pernah menikah. Hal seperti ini biasa terjadi.
"Trus apa kata nak Roy?"
"Ya mas Roy gak mau membatalkan pernikahan ini Bu,"
"Trus apa kata hatimu?"
"A aku.." Ratna langsung tertunduk. Hati kecilnya juga tidak ingin tapi logikanya terus memaksa dengan segala pertimbangan-pertimbangan yang membuatnya pusing.
"Kalau kalian berdua tidak rela pernikahan ini batal, maka kalian harus saling berpegangan dan menguatkan. Berusahalah jangan sampai gangguan itu tidak mempengaruhi hubungan kalian."
"Tapi Bu, mas Roy masih sangat mencintai mantan istrinya itu, aku hanya pelarian saja."
"Kalau begitu mari kita keluar, temui calon suamimu itu. Tanyakan dengan tegas apa betul ia masih menyimpan perasaan mendalam pada mantan istrinya itu,"
"Astagfirullah. Kenapa harus malu. Itulah yang seharusnya kamu tanyakan sebelum menerima lamarannya dari dulu, ayok temui nak Roy." Dahlia menarik tangan putrinya itu untuk segera keluar dari kamar.
Perempuan paruh baya itu ingin mereka berdua menyelesaikan masalah ini secepatnya.
Dengan langkah berat Ratna pun keluar dari kamarnya dan menemui Royco, calon suaminya itu di ruang tamu.
" Pak, kita tinggalkan mereka berdua. Biar mereka menyelesaikan masalahnya sendiri," ujar Dahlia sembari mengajak suaminya untuk memberi waktu pada calon pengantin itu memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Batal atau lanjut.
"Terimakasih Pak buk," ujar Royco saat Galih dan Dahlia meninggalkannya dengan Ratna, calon istrinya itu.
"Na, lihat aku, kenapa kamu berpikir untuk membatalkan pernikahan kita?" ujar Royco sembari memandang wajah cantik gadis yang sedang duduk dihadapannya itu.
"Karena mas Roy masih mencintai Mbak Sasa," jawab Ratna dengan wajah menunduk. Ia tak berani menatap mata pria itu. Ia takut akan termakan gombalannya lagi.
"Tahu dari mana kamu kalau aku masih mencintai Sasa, Hem?" tanya Royco sembari mendekatkan tubuhnya ke arah Ratna yang belum mau juga menatapnya.
"Mbak Sasa yang bilang begitu mas, dan kenyataannya memang seperti itu kan?" gadis itu mulai mengangkat wajahnya dan tak sengaja pandangan mereka berdua beradu.
__ADS_1
Nampak sekali kalau mata Ratna sedang berkaca-kaca dan menahan untuk tidak menumpahkan air mata itu dipipinya.
"Itu kan Sasa yang bilang Na, tapi bukan aku." jawab Royco dengan senyum samar dibibirnya. Hatinya bersorak bahagia karena gadis ini sudah mulai tampak cemburu.
"Kamu mau kan memercayai aku?" tanya Royco sembari menggenggam tangan calon istrinya itu. Entah kenapa, Ratna menganggukkan kepalanya.
"Dulu, aku memang mencintai Sasa karena ia pernah menjadi istriku, tapi itu dulu, jauh sebelum aku bertemu denganmu Na," ujar Royco dengan suara pelan.
"Kami pernah hidup bersama tapi Sasa dan aku tidak pernah bahagia. Keluarga kami tidak bahagia karena cuma aku yang berjuang mempertahankan pernikahan itu. Dan akhirnya kami berpisah."
"Tapi mbak Sasa ingin mas Roy kembali padanya dan juga katanya aku tak pantas bersama kamu mas," ujar Ratna dengan suara pelan dan kedengaran merajuk. Royco jadi gemas sendiri melihat gadis di hadapan itu dengan gaya seperti itu.
"Itukan katanya Na, tapi sungguh aku tidak akan mau kembali padanya meskipun sudah tidak ada perempuan lagi di dunia ini yang tersisa." ujar Royco dengan wajah serius.
Perlakuan Sasa padanya selama ini membuatnya menutup hatinya untuk perempuan itu lagi. Kalaupun ia baik pada Sasa, itu karena menganggap perempuan itu adalah sesama manusia yang memang harus diperlakukan baik dan sama dengan orang lain.
"Tapi untungnya Tuhan masih menyisakan satu perempuan cantik seperti kamu Na," lanjut Royco sembar tersenyum menggoda.
"Ish gombal banget, mana tahan kamu mas kalau tidak ada perempuan lagi," jawab Ratna mulai tersenyum. Royco langsung tertawa bahagia karena hati Ratna sudah mulai mencair.
"Aku mencintaimu sayang, dan akan aku buktikan setelah kamu resmi menjadi istriku," ujar duda keren itu sembari mendekatkan wajahnya pada wajah calon istrinya. Ingin sekali ia mengecup bibir gadis itu yang sudah lama menggoda imannya.
"Ekhemmmm!" Royco dan Ratna tersentak dan saling menjauhkan diri. Galih dan juga Dahlia tiba-tiba memasuki ruang tamu itu tanpa permisi.
"Bagaimana? masalah sudah selesai?" tanya Galih sang ayah dengan wajah berubah horor. Ia tak mau melihat putrinya disentuh sebelum halal.
"Eh iya Pak, semua masalah sudah selesai." jawab Royco dengan wajah tak nyaman. Ia sampai meremas tengkuknya karena takut. Ia merasa ngeri melihat wajah calon mertuanya itu.
"Kalau begitu silahkan pulang!, kami menunggumu datang saat akad nikah," ujar Galih dengan wajah masih tak bersahabat.
"Iya pak, kalau begitu aku permisi, Assalamualaikum." pamit Royco dan segera kabur dari rumah itu.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍
__ADS_1