Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 81 BSWW


__ADS_3

Beby Alesha menggeliat pelan dibawah pelukan posesif tangan besar suaminya. Perlahan ia membuka matanya dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Kepalanya juga terasa sangat pengar.


Setelah berhasil mengumpulkan nyawanya, perempuan cantik itu baru menyadari apa yang telah terjadi. Tangan besar Erick yang sedang memeluknya ia pindahkan dari atas tubuhnya.


Ia ingin bangun dan membawa selimut besar yang menutupi tubuh polos mereka berdua tetapi ia urungkan karena itu berarti ia akan menyaksikan kembali sosok pria disampingnya dalam keadaan tak berpenghalang selembar benangpun.


Akhirnya ia putuskan untuk bangun dan lari ke kamar mandi dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat dibagian intinya.


Perempuan cantik itu membersihkan diri dengan mengabaikan pemandangan mencengangkan di sekujur tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan sisa pergulatan mereka semalam ia segera mengambil pakaiannya yang terlipat rapih di atas meja.


Perempuan cantik itu memakainya cepat takut Erick akan bangun dan melihatnya. Ia kemudian segera keluar dari kamar suaminya itu kemudian pergi dari sana.


Sungguh ia sangat malu bertemu muka dengan pria yang sudah memberinya penawar atas rasa tak nyaman yang ia rasakan kemarin malam.


Antara ingat dan tidak, bayangan-bayangan kejadian semalam berkelebatan di kepalanya, bagaimana ia begitu tak tahu malu memohon untuk disentuh dan dipuaskan oleh pria yang belum sepenuhnya ia terima di dalam hatinya.


Tangannya mengetik dilayar handphonenya dengan cepat untuk mencari taksi online. Ia ingin pulang ke rumahnya sekarang juga untuk menyembunyikan dirinya dan berharap tak bertemu dengan Erick Bramantyo lagi.


"Beby? kamu kok pulang sendiri?" tanya Hanna saat melihat putrinya memasuki rumah dengan wajah menunduk. Ia tak mau kedua orangtuanya melihat perubahan dalam dirinya sekarang ini.


Deg


Beby Alesha tak menjawab, ia hanya diam dan tak mau menatap wajah mamanya.


"Semalam suamimu menelpon kalau kalian menginap di rumahnya. Nah sekarang mana Erick?" tanya Hanna sembari memandang wajah Beby Alesha yang masih menunduk dengan rambut ia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Masih tidur Ma, aku mau ke kamar dulu," jawab Beby Alesha kemudian berlari ke arah tangga dengan berusaha menahan sakit pada tubuhnya.


Lelah dan juga perih ia rasakan disekujur tubuhnya karena benar-benar menguras tenaganya untuk kegiatan semalam. Ia seperti seekor kucing kelaparan yang sedang disuguhi makanan yang lezat dihadapannya hingga ia lupa untuk berhenti.


Hanna hanya tersenyum kemudian memberi kode pada suaminya.

__ADS_1


"Pa, sepertinya sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek," ujarnya sembari mempertemukan dua ibu jarinya di depan wajahnya. Ibrahim balas tersenyum kemudian memeluk istrinya.


"Terkadang kita harus mensyukuri yang namanya musibah. Karena bisa jadi akan membawa keberkahan dan keberuntungan pada kita." ujar Ibrahim dengan senyum cerah diwajahnya.


Kejadian semalam sudah diceritakan oleh Erick Bramantyo padanya. Dan ia yakin saat itu pasti menantunya sudah berhasil membobol gawang putrinya karena Erick kedengaran sangat bahagia di telepon.


"Kita tunggu saja apalagi drama dari putrimu itu Pa, karena sepertinya Erick akan dibuat kewalahan lagi, hihihihi," Hanna cekikikan sendiri membayangkan apa lagi yang akan terjadi pada pasangan itu.


🍁


Erick Bramantyo terbangun dari tidurnya dengan senyum cerah diwajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya setelah menikah ia merasakan hatinya terasa dipenuhi bunga yang sedang bermekaran.


Tangannya meraba sekitarnya dan mendapati dirinya hanya tidur sendiri di sana.


"Beb, Beby, sayang," panggilnya pelan kemudian segera bangun saat tak ada suara atau bunyi lain selain suaranya sendiri di dalam kamar itu.


Dengan cepat ia bangun dan memandang keadaan sekelilingnya. Pakaian istrinya yang ia rapikan di atas meja sudah tak ada di sana.


"Beb?" sekali lagi ia memanggil dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar mandi. Siapa tahu istrinya ada di dalam ruangan itu.


"Kalian lihat nyonya?" tanya Erick Bramantyo pada para pelayan yang sibuk di dapur.


"Tidak tuan, kami belum melihatnya keluar dari kamar anda," jawab salah satu dari mereka. Erick kemudian meraih handphonenya dan menghubungi mertuanya tetapi kemudian ia batalkan saat panggilan itu belum terjawab.


Kembali ia melangkah ke dalam kamarnya melihat tempat tidurnya yang telah menjadi saksi begitu mereka sangat menikmati kegiatan menyenangkan itu semalam.


"Beb, kemana kamu sayang?" tanya Erick dengan debaran keras di dadanya. Tangannya mengelus lembut bekas tempat istrinya berbaring bersamanya menghabiskan malam yang sangat indah.


Senyum samar terbit dari bibirnya saat melihat bercak darah diatas permukaan seprei putih pada ranjang itu.


"Beby sayang, terimakasih kamu memberikannya khusus untukku," ujarnya pelan sembari membayangkan kembali bagaimana agresifnya istrinya pada perjumpaan pertama mereka semalam.


"Wonder womanku, kamu hebat sayang, aku jadi merindukanmu lagi." gumam Erick kemudian segera mengambil kunci mobilnya. Ia yakin istrinya itu pasti sudah berada di rumah mertuanya sekarang.

__ADS_1


Jack Andrian berdiri di depan pintu saat Erick Bramantyo sudah bersiap keluar dari rumah itu.


"Ada apa Jack? apa ada masalah?" tanya Erick sembari terus melangkah menuju Garasi. Ia ingin bertemu dengan istrinya sekarang juga.


"Bapak harus ke kantor Polisi sekarang. Mereka meminta kesaksian anda atas kasus Taro brengsek itu." ujar Jack Andrian dengan rahang mengetat marah. Rupanya kemarahannya pada Taro belumlah reda.


"Oh ya? baiklah aku akan kesana sekarang juga. Dan kamu ikut aku."


"Baik Pak," Jack menurut dan menaiki mobilnya sendiri.


"Bukankah lebih hemat kalau kita pergi bersama Jack?"


"Ah iya pak, aku cuma khawatir anda akan meninggalkan aku di tengah jalan kalau anda ingin bertemu lagi dengan nyonya."


"Hah?" Erick memandang tajam wajah asisten sekaligus sekretarisnya itu.


"Aku tahu bapak ingin berjumpa lagi dengan nyonya kan? apa semalam belum cukup?" goda Jack dengan senyum samar diwajahnya.


Ia sudah mengadakan inspeksi pada para pelayan tadi dan mereka menjawab kalau Nyonya muda sudah meninggalkan rumah pagi-pagi sekali.


"Kamu sok tahu Jack, aku memintamu ikut supaya kamu bisa mengambil mobil istriku di tempat kemarin, mengerti?"


"Siap, mengerti Pak," jawab Jack Andrian dengan wajah berubah datar.


Mereka berdua pun berangkat ke kantor Polisi untuk menambah kesaksian agar hukuman Taro lebih berat lagi.


Sesampainya mereka berdua di Kantor Polisi, Harun dan juga Sisca sudah siap menjemputnya dengan kemarahan yang sangat tampak diwajah mereka berdua.


"Heh, anak tak tahu terimakasih, beraninya kamu menjebloskan putraku ke penjara Hah!" teriak Sisca histeris saat melihat Erick Bramantyo turun dari mobilnya. Erick hanya tersenyum miring dan tak mau menanggapi teriakan Sisca.


Pria itu sangat mengerti aturan dan ia ingin semua diselesaikan dengan cara hukum yang berlaku di negara ini.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor, kasih othor semangat dong dengan cara klik like dan juga komentar ya, supaya aku semakin rajin update.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2