
Mobil yang mereka tumpangi sampai juga di pekarangan Panti Asuhan. Mereka semua turun dengan rasa lelah yang teramat sangat.
Bermain dan mencoba hampir semua wahana di Dufan Ancol membuat tubuh mereka kecapean apalagi setelah bertarung dengan beberapa bandit suruhan seseorang itu. Rasanya ranjang empuklah yang jadi tujuan utama Para Rangers ini.
"Maaf permisi, aku bisa bawa Anny tidak malam ini?" tanya Fadhil Akifah yang ternyata ikut memasuki pekarangan Panti Asuhan itu. Rupanya sedari tadi ia menunggu dengan sabar di depan jalan raya tempat keluarnya mobil-mobil yang mereka tumpangi dari Dufan.
"Pak Fadhil?" semua anggota Ranggers Dewaani dan juga Ibrahim mengalihkan pandangannya ke arah manager di Perusahaan PT. IBRA. TBk itu.
"Eh, maaf. Aku boleh tidak membawa Anny pulang?" tanyanya tak nyaman. Ia bahkan meremas tengkuknya karena sedikit malu.
"Mas Fadhil?" ucap Anny pelan dengan gerakan bibirnya. Ia tak menyangka pria itu berada disini dan hampir membuka pernikahan rahasia mereka.
"Mas Fadhil?" ulang semua anggota Rangers dengan kompak.
Sekali lagi mereka merasa bingung dengan panggilan yang cukup akrab itu. Kali ini Anny yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum cengengesan saat semua mata memandangnya.
"Ada yang kalian sembunyikan?" tanya Beby Alesha yang berubah menjadi pimpinan di Perusahaan tempat mereka semua bekerja.
"Maaf Bu Beby, tapi Anny sekarang adalah tanggung jawabku dan aku ingin membawanya pulang."
"Hah?" Para Rangers melongo tak percaya dengan pendengaran mereka.
"Ann, udah cukup mainnya, sekarang kita pulang ya?" ajak Fadhil Akifah sembari menarik tangan Anny ke arah mobilnya.
"Anny! kamu berutang penjelasan kepada kami!" teriak Eka tak terima. Ia mewakili perasaan tak nyaman para Rangers melihat Anny Ahnisar dibawa pergi oleh Fadhil Akifah malam itu.
Anny mau tak mau harus mengikuti langkah suaminya karena ia tak mau terlalu lama di tempat itu menjadi tatapan aneh dari semua orang. Ia berjanji akan menceritakan pernikahan dadakan mereka besok saja. Sekarang semua orang sudah ngantuk dan butuh istirahat.
Keempat Rangers itu menarik nafas panjang sembari memikirkan apa yang baru saja mereka saksikan di depan mata kepala mereka sendiri.
"Ih Anny tega sama kita. Ternyata ia menyimpan rahasia besar." ujar Eka dengan wajah kesal.
"Udah, ayo kita istirahat dulu. Pengen meluk bantal ini lelah banget," timpal Hany sembari meregangkan otot-ototnya.
__ADS_1
"Iya yah, mungkin karena kita udah lama gak aksi kayak tadi jadi otot-otot pada pegel semua." jawab Ratna sembari menyentuh tangannya yang terluka karena sabetan pisau tadi.
Mereka bertiga berpamitan pada Ibrahim dan Ratih untuk kembali ke Markas Rangers Dewaani yang jaraknya cuma 5 langkah itu. Tetapi langkah mereka terhenti karena sebuah mobil yang mereka kenali memasuki pekarangan Panti Asuhan itu.
"Lho mas Erick? kok bisa ada di sini?" tanya Beby Alesha saat melihat suaminya itu turun dari mobil bersama dengan Jack Andrian.
"Kamu tidak apa-apa sayang?" tanya Erick Bramantyo dengan tatapan khawatir. Ia bahkan tidak mempedulikan tatapan lucu dari semua orang yang ada di sana.
"Iya mas, semua baik-baik saja. Dan kok tahu kalau kita habis diserang gitu?" tanya Beby Alesha dengan wajah penasaran.
"Aku melihat beberapa preman jalanan terekam dalam foto-foto yang kamu kirimkan itu. Aku curiga aja pada mereka, kok punya waktu untuk ikut bermain di Dufan."
"Oh karena itu?" ujar Beby Alesha dengan senyum gembira di wajahnya. Ia sangat senang suaminya berada di sini. Dan itu artinya ia tak akan tidur sendirian malam ini.
"Mari Pak, kami ke sebelah dulu." ujar Eka menjeda percakapan dua orang suami istri yang sedang dimabuk asmara itu.
"Ah iya, kalian semua tidak apa-apa kan?" tanya Erick pada 3 gadis Wonder Woman itu.
Hany dan Ratna saling berpandangan kemudian tersenyum.
"Eka? kamu calon istrinya Pak Jack? kamu juga menyembunyikan rahasia dari kami ya??!" Eka tersenyum cengengesan kemudian segera kabur dari tempat itu dan dikejar oleh Hany dan Ratna. Hanya tinggal 3 orang yang akan menginap di markas itu karena 2 orang lainnya sudah sah dimiliki oleh para suami mereka.
Jack Andrian hanya bisa tersenyum samar melihat tingkah gadis-gadis itu.
"Papa udah lama disini?" tegur Erick pada Ibrahim sang mertua.
"Iya, tapi papa udah mau pulang kok, kamu periksa baik-baik istrimu itu yang sudah berhasil menumbangkan para preman itu." ujar Ibrahim dengan senyum diwajahnya.
"Iya Pa, jangan khawatir, pasti akan aku lakukan." jawab Erick dengan senyum menggoda diwajahnya.
Ibrahim pun berpamitan kepada Ratih sang besan dan segera pulang ke rumahnya sendiri.
Erick dan Beby melangkah memasuki kamar mereka setelah berbasa-basi sedikit dengan ibunya.
__ADS_1
"Mas," panggil Beby Alesha dengan suaranya yang manja.
"Hemmm," Erick hanya menjawab singkat. Ia tak mau konsentrasinya terganggu memeriksa setiap inci tubuh Beby Alesha yang ia bilas dengan air hangat agar lelah sang hilang.
Mereka berdua sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Perjalanan jauh Pulang Pergi yang dilakukan oleh pria itu membuatnya gerah dan lelah begitupun istrinya yang cukup berkeringat dengan aksi-aksi yang menantang adrenalin.
Mereka ingin tidur nyenyak malam ini sembari memeluk malam tanpa melakukan aksi lagi.
Cukup menyentuh, meremas, dan juga mengulum lembut keseluruhan tubuh sang istri Erick lakukan. Meskipun ia sangat tersiksa tetapi ia tak mau memaksa istrinya melayaninya karena ia tahu Beby sedang sangat lelah saat ini.
Lain halnya dengan suasana pengantin baru yang sedang berada di kamar apartemen mewah di kawasan Jakarta Utara itu.
"Ann, aku minta maaf sayang," ujar Fadhil Akifah sembari meraih tangan istrinya ke arah dadanya. Perempuan cantik itu belum juga mau bicara sejak ia bawa dari Panti Asuhan tadi.
"Aku pergi saat itu karena ada masalah di rumah." Anny masih diam. Ia bahkan menundukkan wajahnya tak mau memandang wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.
"Adik aku terlibat perkelahian di sekolahnya waktu itu dan keluarga lawannya itu menuntut agar masuk ke ranah hukum. Makanya aku tak pernah nengok ayah karena urusan itu berbuntut panjang, untungnya pak Erick aku mintai bantuan hingga masalahnya cepat kelar." jelas Fadhil Akifah sembari meraih dagu istrinya agar mau menatapnya.
"Maaf ya sayang, aku tidak kuat lho kalau kamu diam-diam terus kayak gini." lanjut Fadhil kemudian segera meraih bibir istrinya dan memberikan ******* lembut di sana.
Ini pertama kalinya ia menyentuh bibir Anny setelah pernikahan mereka. Dan ternyata bikin nagih. Ia terus memperdalam ciumannya sampai Anny mendorongnya karena kehabisan nafas.
"Maaf mas, aku mau pipis." ujar Anny pelan dengan semburat merah diwajahnya. Gadis itu langsung kabur ke kamar mandi saat suaminya sedang berada diatas awan.
*Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Kita tunggu Anny pipis dulu ya, sembari panen bunga dari para readers, eaaak
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1