
Erick Bramantyo menahan nafas dengan debaran dihatinya yang semakin menggila, pasalnya Beby Alesha sekarang sedang berada didadanya tanpa ia duga sebelumnya.
Perempuan itu mengendus aroma parfum yang sedang ia pakai. Hingga mata mereka berdua saling bertaut. Selama beberapa detik mereka berada pada posisi itu.
Ingin rasanya ia meraup bibir kemerahan milik istrinya itu dan melumaatnya rakus tetapi ketukan pintu ruangan itu membuat mereka berdua tersentak dan membuat Beby Alesha kembali ke tempatnya semula.
"Pak Erick, Pak Harun ada di luar, ia ingin bertemu dengan anda." ujar Gendhis sang sekretaris dengan mata melirik ke arah Boy.
"Ah ya suruh beliau masuk, dan Boy, obati luka ditanganmu itu," ujar Erick sembari menyentuh tangan Boy dan menepuknya pelan.
"Baik Pak," jawab Boy kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan itu.
Gendhis, sang sekretaris yang sudah menunggunya di depan pintu langsung menarik tangan Office Boy itu ke sudut ruangan.
"Boy, aku masih menunggu penjelasan darimu!"
"Maaf mbak, tanganku masih sakit dan aku ingin istrirahat dulu, permisi," ujar Beby Alesha dan berlalu dari hadapan Gendhis.
Ia ingin menenangkan dirinya sekarang. Entah kenapa ia merasa sangat tak nyaman dengan tatapan mata elang Erick Bramantyo tadi padanya.
Ia merasakan sesuatu tapi apa?
"Boy, apa kata pak Erick?" tanya Eka sesaat setelah Boy sampai di ruangan istirahat mereka.
"Tidak, ia belum sempat mengatakan apapun trus ada om Harun datang bertamu, jadi ya aku disuruh mengobati sendiri lukaku,"
"Hah?" Eka dan Anny melongo.
"Jadi, ia hanya mau melihat lukamu saja?" tanya Eka penasaran.
"Entahlah, tapi kurasa ia semakin aneh deh, bikin merinding, grrr."
"Eh, itu suamimu lho, tampan dan bikin merinding itu wajar Beb," Eka sepertinya berniat menggoda lagi tapi tatapan tajam mata bulat Beby langsung membuatnya terdiam kemudian tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kenapa kamu tertawa!?"
"Gak, aku cuma kasihan, pria tampan kayak gitu kok dianggurin kan sayang, hmm," jawab Eka tersenyum dan justru membuat Beby Alesha tanpa sadar membayangkan wajah tampan suaminya yang sedang menatapnya tadi.
Deg
Hatinya berdebar keras tapi berusaha ia tepis.
🍁
"Silahkan duduk Om Harun," ujar Erick Bramantyo mempersilahkan duduk adik ipar dari Papa mertuanya itu.
"Terimakasih Erick," jawab Harun dengan senyum diwajahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Om?" tanya Erick setelah mereka berbasa-basi menanyakan kabar dan juga cuaca di luar sana.
"Oh dengan senang hati kalau saya bisa bantu insyaallah akan saya lakukan," Erick tersenyum. Ia sudah lama ingin menjalin komunikasi dengan keluarga dari Ibrahim tetapi ia selalu tak punya kesempatan karena adik-adik Ibrahim seperti Sisca dan Linda tak pernah sedikitpun ramah padanya.
"Begini Erick, saya ingin menawarkan kerjasama bisnis dengan perusahaan ini, yang pastinya akan sangat menguntungkan kita berdua."
"Kita berdua?" salah satu alis Erick Bramantyo terangkat karena tidak mengerti.
"Iya, kita berdua, kamu 60% sedangkan saya cukup 40% saja, bagaimana menarik kan?"
"Menarik sekali Om, tapi saya bukan penentu kebijakan tertinggi di sini, saya hanya wakil dan Om pasti tahu hal itukan?"
"Hahahaha, jangan buat saya tertawa Erick. Kakak ipar saya sudah menyerahkan semuanya padamu, jadi bagaimana mungkin kamu tak punya wewenang di sini." Erick Bramantyo tersenyum kemudian berujar.
"Saya hanya membantu mengelola perusahaan ini Om, masalah keputusan tertinggi tetaplah hak Pak Ibrahim sebagai Presiden Direktur."
"Kamu terlalu kaku Erick, saya tahu apa maksudmu menikahi Beby Alesha putri semata wayangnya, kamu hanya ingin hartanya kan?" Erick tersentak dengan tuduhan dari pria paruh baya itu tetapi ia tetap berusaha tersenyum dengan tenang.
__ADS_1
"Kita berdua bisa mengurasnya bersama tanpa sepengetahuannya," Harun semakin diatas angin. Rupanya ia datang kemari hanya untuk memintanya melakukan penghianatan pada Papa mertuanya.
"Itu ide yang bagus om, akan saya pikirkan," ujar Erick setelah lama terdiam. Ia sepertinya ingin mengikuti saja permainan dari pria culas ini.
"Nah begitu kan bagus, saya suka dengan pria seperti kamu, berani dan bisa diandalkan, hahaha." Harun tertawa terbahak-bahak yang membuat Erick menarik nafas jengah.
"Baiklah Erick, saya akan mengatur pertemuan kita nantinya. Lebih cepat lebih baguskan kita bertindak?"
"Dan ya, lagipula saya tahu hubungan kamu dengan Beby juga bukan atas dasar cinta kan, jadi kamu tidak akan terbebani," jelas Harun semakin tidak tahu malu. Wakil Presiden Direktur itu hanya bisa tersenyum tipis.
"Andaikan kamu ingin menyerahkan Beby pada putraku kurasa itu tak masalah, sepupunya itu sangat mengharapkan istrimu dari dulu, kamu belum menyentuhnya kan?" Harun bicara semakin tak terkontrol.
"Saya bisa memberikan ratusan perempuan cantik padamu, Erick."
Semua niat busuknya ia keluarkan tanpa ia saring samasekali. Erick mengepalkan tangannya dengan rahang mengetat emosi.
Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan Beby Alesha dari hidupku brengsek! ujarnya membatin.
"Baiklah Erick, om permisi dan ya, pikirkan baik-baik tawaranku." Pria paruh baya itu keluar dari ruangan dengan gaya angkuh seperti biasa.
"Andai aku tak ingat kalau ia adalah saudara dari Papa Ibrahim, sudah kupastikan ia keluar dari ruangan ini tanpa ingat siapa dirinya." geram Erick dengan emosi.
"Pantas saja Papa memberikan ini padaku sebelum Beby mampu mengelolanya, terlalu banyak belatung yang siap mengikis habis aset dari keluarga Papa," lanjutnya dengan gumaman.
Dengan langkah cepat ia menuju ruangan Presiden Direktur yang berada tepat disebelah ruangannya sendiri. Ia ingin menceritakan rencana Harun itu pada Papa mertuanya.
Tak boleh ada rahasia yang ia sembunyikan dari orang yang telah berjasa padanya itu agar kedepannya mereka bisa menghadapi masalah ini bersama.
"Tobe continued
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍
__ADS_1