Beby Si Wonder Woman

Beby Si Wonder Woman
Bab 53 BSWW


__ADS_3

Eka Setiawati merasakan dadanya berhenti berdetak. Pria yang selama ini sangat disukainya tiba-tiba mengajaknya berfoto bersama dengan kedua mempelai.


"Ini beneran? kamu ajak aku berfoto?" tanya Eka dengan mata berbinar bahagia.


"Trus kamu mau diajakin ngapain? lihat semua orang kan memang lagi sibuk berfoto." ujar Jack Andrian dengan wajah tanpa ekspresi, datar sedatar tembok. Bibir Eka langsung mencibir kesal.


"Bisa gak sih kamu ngomong yang manis-manis gitu," ujar Eka merajuk.


"Kata ibuku aku sudah manis, kalau suka ngomong yang manis lagi takutnya diabet,"


Grrrrr


Eka merasakan tubuhnya membeku karena semakin kesal.


"Baiklah karena kamu minta, aku akan berfoto bersamamu." ujar Eka dengan nada pasrah. Jack hanya tersenyum samar.


"Aku tidak memaksa ya, aku cuma kasihan padamu karena hanya kamu yang belum punya pasangan disini, sungguh menyedihkan."


Grrrrr


Sekali lagi Eka merasa ingin meremas wajah seseorang.


Rupanya menjadikan Jack Andrian idola bukanlah hal yang tepat, begitulah pikir Eka Setiawati dengan bersungut-sungut.


Gadis itu mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dan benar saja hanya dia seorang yang masih sendiri.


Ratna bersama seseorang yang ia belum kenal, sedangkan Hany sedang mengobrol dengan sang direktur, Dan Anny, gadis itu sedang bersama beberapa karyawan di Perusahaan tempatnya bekerja.


"Gimana mau gak?" tanya Jack kemudian menarik tangan Eka agar segera mengatur posisi yang bagus di samping bos Erick Bramantyo dan juga Beby Alesha Ibrahim.


"Kamu kok minta tapi kesannya maksa sih?" rupanya Eka sudah mulai kesal. Dan ia sudah berniat memberi pelajaran yang cukup bagus untuk pria sok dibutuhkan ini.


Jack Andrian tidak menjawab ia hanya memberi kode pada fotografer untuk segera mengambil gambar mereka.


Cekrek


Cekrek


2 sampai 3 kali lampu Blitz kamera menyala, menandakan gambar mereka sudah terekam di dalam kamera sang fotografer.


"Terimakasih Bos, nyonya Bos," ujar Jack kemudian menarik tangan Eka ke sudut pelaminan agar menjauh dari beberapa sahabat dan juga keluarga yang ingin mengabadikan momen penting ini bersama dengan kedua mempelai.


"Apaan sih!" ujar Eka sedikit kesal sembari menginjak kaki Jack Andrian dengan heelsnya.


"Awww," teriak Jack tertahan. Pria itu langsung memegang kakinya yang terasa ketusuk dengan heels Eka yang kecil dan tinggi itu.


"Kok nginjak sih?"

__ADS_1


"Katanya aku menyedihkan, sana kamu jauh-jauh," jawab Eka semakin kesal. Perlahan-lahan hatinya hatinya yang pernah suka sama Jack menguap karena kesal.


"Marah?"


"Tidak,"


"Ya udah,"


"Ya udah apa?"


"Ya udah kamu akan aku jadikan pacarku," jawab Jack dengan begitu santai.


"Ish, kamu pikir aku mau?"


"Mau tak mau kamu harus mau,"


"Ih maksa."


"Daripada kamu yang maksa aku trus akunya mau, gak seru dong."


"Ish,!" Eka mencibir.


"Aku anggap kita udah jadian, okey?" putus pria itu saat melihat Eka hanya terdiam.


Deg


Eka merasakan Jack Andrian sedang mengerjainya. Selama ini pria itu tak pernah menunjukkan kalau ia menyukai dirinya. Meskipun berkali-kali ia terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada pria itu.


Satu hal yang membuatnya tidak habis pikir adalah pria itu hanya menyamar menjadi petugas kebersihan di Rumah Sakit dan juga Panti Asuhan waktu itu.


Pria ini punya banyak rahasia, aku harus waspada.


ujar Eka membatin.


Meskipun aku sangat suka dengan pria ini tetapi aku harus jual mahal. Aku tak mau kentara lagi kalau aku ingin sekali memilikinya.


"Gimana? mau gak?" tanya Jack dengan wajah datarnya.


"Gak!" jawab Eka sembari menggigit lidahnya. Karena sebenarnya hatinya sangat ingin tapi otaknya mengatakan tidak.


"Kalau aku maksa?" Jack menatap gadis itu dengan tatapan tak terbaca.


"Tetap tidak!" jawab Eka dengan langkah menjauh meninggalkan tempat itu. Jack Andrian menarik nafas panjang.


"Gadis aneh," gumamnya pelan dengan senyum samar diwajahnya, "Awas kamu ya!"


🍁

__ADS_1


Anny Ahnisar menatap dirinya di dalam cermin setelah melakukan ritual pipis ketika mendengar sesuatu yang cukup mengganggu emosinya.


Gadis itu tanpa sengaja bertemu dengan Fadhil Akifah Anshar sang manager Divisi Humas yang pernah mengerjainya habis-habisan.


Beberapa menit yang lalu.


"Anny? Office Girl itu ya?" sapa Fadhil Akifah dengan pandangan tak percaya pada gadis cantik dihadapannya ini.


Dandanan Anny yang super wow membuat dirinya tak banyak dikenali apalagi oleh para karyawan PT. IBR.Tbk.


Tetapi tidak bagi Fadhil Akifah yang sangat tahu kalau Office Girl itu memang sangatlah cantik meskipun kecantikannya selalu ia tutupi dengan sebuah topi.


"Permisi Pak," ujar Anny berusaha menghindari tatapan mata tajam sang manager. Dengan cepat Fadhil menarik tangan gadis itu dan membawanya ke tempat sepi. Di sebuah lorong menuju tangga darurat di hotel itu.


"Anny, jangan hindari aku, plis..." Anny berusaha melepaskan tangannya dengan kekuatan yang ia miliki dah berhasil. Meskipun ia tak sejago sahabatnya yang lain, tapi untuk urusan mudah seperti ini ia rasa ia juga bisa.


"Apa mau anda pak Manager?" tanya Anny dengan tatapan mata tajam.


"Aku menyukaimu Anny, aku ingin kamu menjadi pendampingku mau ya?"


"Ish, mana ada seorang manager mau sama Office Girl seperti saya, jangan ngarang cerita Cinderella abad baru ya Pak," timpal Anny cepat. Ia sungguh tak percaya dengan pendengarannya.


"Aku tidak berbohong, aku beneran suka sama kamu," ujar Fadhil Akifah sembari meraih kembali tangan gadis itu dan bahkan mengecupnya lembut.


Mata Anny langsung melotot tak percaya akan apa yang dilakukan oleh bosnya itu padanya.


"Lepaskan Pak, jangan sampai aku membuka semua rahasiaku padamu saat ini juga." ujar Anny sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan manager itu.


Sungguh ini yang pertama baginya disentuh oleh seorang lawan jenis dan ternyata rasanya begitu aneh dan juga ia ingin segera ke Toilet untuk pipis.


"Maaf Pak, permisi..." ujar Anny dengan wajah memerah menahan sesuatu. Fadhil tersenyum lembut. Hatinya sangat senang luar biasa. Ia bisa menangkap ekspresi malu-malu diwajah gadis Office Girl itu.


Pipinya merah merona, itu berarti ia juga suka padaku. ujarnya membatin.


*Dan sekarang ia mungkin sedang ingin bersembunyi di suatu tempat karena aku telah mencium tangannya.


Lalu bagaimana dengan bibirnya, bagaimana kalau aku berhasil mencium bibirnya mungkin ia akan mengajakku bersembunyi di tempat yang paling aman dan juga indah*.


Fadhil Akifah terus bermonolog dengan dirinya sendiri sembari menatap punggung Anny yang semakin jauh mencari sebuah Toilet untuk bersembunyi.


Pikiran-pikiran mesum pun berseliweran di benaknya membayangkan gadis itu benar-benar menjadi istrinya kelak.


Dan sekarang Anny merasakan pipinya menghangat karena ungkapan perasaan sang manager Divisi Humas itu.


"Apa benar pak manager suka padaku?" tanya Anny pada wajahnya sendiri yang sedang berada dalam bayangan cermin itu.


*Tobe continued

__ADS_1


Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar othor semangat updatenya.


Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2