
Erick Bramantyo memasuki ruangannya dan mulai memanggil beberapa manager divisi untuk mengadakan breefing singkat.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh dan Selamat pagi semua!"
"Waalaikumussalam warahmatullahi Selamat Pagi juga Pak,"
"Tujuan bapak dan ibu manager saya undang untuk breefing singkat pagi ini adalah, untuk mendisiplinkan para karyawan dibawah divisi kalian."
"Dan juga setiap divisi harus memberikan reward bagi mereka yang terbukti mengikuti aturan perusahaan."
"Ada pertanyaan?" Erick Bramantyo memandang berkeliling meminta respon dari pernyataannya barusan.
"Itu bagus sekali pak, Pak Presiden Direktur juga sering melakukan hal yang seperti itu. bagaimana kalau kita memberi kesempatan kepada para karyawan paling rendah untuk ikut terlibat dalam setiap kegiatan perusahaan," Fadhil Akifah sebagai manager divisi Humas memberi saran.
"Maksud anda karyawan yang paling rendah itu Office Girl dan Office Boy?" tanya Erick dengan mata memicing.
"Iya Pak, kita tidak pernah tahu, bisa jadi mereka dari golongan bawah itu sebenarnya mempunyai sesuatu yang luar biasa." jawab Fadhil Akifah dengan senyum samar diwajahnya.
Bayangan Anny Ahnisar diacara resepsi pernikahan Erick Bramantyo sang wakil Presiden direktur membuatnya sangat yakin kalau perempuan itu bukan Office Girl biasa.
Gadis itu terlalu cantik dan juga berkelas untuk seorang karyawan rendahan seperti Office Girl di Perusahaan itu.
"Baik, usul pak Fadhil Akifah saya terima. Ada yang mau menambahkan atau membuat sebuah inovasi baru? sampaikan saja karena saya adalah perpanjangan tangan dari Presiden Direktur."
Semua peserta breefing tak ada yang menjawab. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Baiklah karena sudah selesai, silahkan kembali ke tempat kerja bapak dan ibu masing-masing dan saya minta 4 orang Office Girl dan Office Boy yang baru itu suruh kemari menghadap saya!'
"Baik pak!"
Tak lama kemudian 4 orang OG dan OB itupun tiba di ruangan Wakil Presdir perusahaan itu.
"Kalian tahu kenapa dipanggil kemari!?" tanya Erick pada 4 karyawan terendah itu.
"Tidak Pak!" jawab Roma dengan kepala masih menunduk.
"Ada banyak laporan kalau kalian tidak bekerja sesuai dengan tugas yang diatur dalam Surat Keputusan pimpinan!" seru Erick yang langsung membuat Beby Alesha mendongak dan menatap mata elang suaminya itu dengan perasaan marah dan kesal.
Lama mereka saling bertatapan dengan pikiran dan perasaan yang berbeda.
Ada yang semakin kesal dan benci sedangkan yang satunya sedang membayangkan mata itu ia kecup dengan bibirnya.
__ADS_1
Dengan berdehem dan merubah suaranya menjadi berat, Beby Alesha langsung mengajukan protes.
"Pekerjaan yang mana yang tidak benar Pak? kami sudah bekerja dengan sangat baik. Ruangan bersih dan segala kebutuhan karyawan pun kami siapkan dan kerjakan."
"Lihat ruanganku! siapa yang bertugas di sini?!" tanya Erick Bramantyo tanpa melepaskan tatapannya pada wajah cantik istrinya yang sedang menyamar dengan lukiskan kumis dan cambang tipis itu.
Empat jari telunjuk menunjuk Beby atau Boy Alesha. Erick Bramantyo langsung tersenyum samar sembari mengangkat alisnya sebelah.
"Kalian bertiga keluar dan biarkan Boy yang tinggal di sini. Dan ya jangan lupa untuk mempersiapkan diri karena besok akan ada tes tulis dan juga tes fisik untuk kalian semua."
"Maaf Pak, izin tanya tes untuk apa ya?" tanya Eka ingin tahu.
"Kalian akan dipersiapkan menjadi karyawan baru setingkat karyawan lama jika lolos tes tulis. Karena ada banyak divisi yang juga butuh tambahan tenaga sedangkan menurut laporan dari beberapa divisi ternyata kalian biasa membantu mereka menyelesaikan tugas dan pekerjaan mereka." Eka dan Anny saling melirik dengan senyum diwajah mereka.
Mereka memang seringkali membantu para karyawan yang lagi deadline untuk membantu pekerjaan mereka.
"Dan untuk tes ketangguhan fisik atau bela bela diri bagi kalian yang tidak lolos tes pertama atau di tes tulis itu." jelas Erick sang pimpinan.
"Akan kami persiapkan untuk mendampingi security untuk memberikan keamanan pada perusahaan ini saat kalian bebas tugas atau pekerjaan kalian sudah beres"
"Apa itu berarti pekerjaan kita bertambah Pak?" tanya Roma dengan takut-takut
"Ya betul sekali,"
"Tentu saja, gaji kalian akan naik 3 kali lipat , makanya Persiapkan diri kalian dengan baik."
"Siap Pak!" jawab ketiganya kompak kemudian segera keluar dari ruangan itu. Tinggallah Beby Alesha sendiri dengan tubuh berdiri kaku karena Erick berjalan mengelilingi dirinya dengan langkah pelan.
"Jam berapa kamu sampai di Perusahaan ini?"
"Jam 6 pak."
"Kamu berangkat pagi sekali tapi belum membersihkan ruangan ini? hebat! kamu sengaja bikin aku kesal ya pagi-pagi?"
"Tidak pak. Saya sengaja menyisakan ruangan ini sebagai ruangan terakhir karena biasanya disini tidak terlalu kotor." jawab Beby atau Boy Alesha dengan suara rendah.
"Kalau begitu bersihkan sekarang juga! aku ingin melihat cara kerjamu."
"Baik pak!" jawab Beby Alesha kemudian segera keluar dan mencari alat-alat kebersihannya.
Erick Bramantyo berpura-pura sibuk padahal ia sedang memperhatikan gerakan tangan istrinya menyapu dan mengepel lantai ruangan itu.
__ADS_1
Dalam hati ia merasa sangat kasihan dan tak tega jari-jari lentik itu melakukan pekerjaan kasar seperti itu.
Satu Minggu kamu sudah bekerja di sini, dan jika dibiarkan terus maka tanganmu yang aku harapkan hanya melayaniku itu bisa kasar dan tak lembut lagi.
"Boy sudah! ruangannya sudah bersih. Apa kamu sudah sarapan?" tanya Erick dengan suara pelan.
"Belum Pak." jawab Beby atau Boy.
"Aku juga belum sarapan, tapi aku punya bekal yang dibuatkan oleh perempuan istimewa dalam hidupku, kita bisa makan berdua."
Deg
Hati Beby Alesha tersentak.
Perempuan istimewa yang membuat sarapan? aku kan istrinya. Lalu perempuan yang mana yang ia maksud, apa mungkin Erick mempunyai perempuan lain lagi?
"Tidak Pak, terima kasih banyak. Saya masih bisa tahan," tolak Beby Alesha dengan suara berat dan pelan.
"Jangan menolak Boy, aku tahu kamu ada hubungan dengan sekretaris saya, si Gendhis. Kita kan sesama laki-laki pasti gadis itu tak akan cemburu, kemarilah."
"Tidak perlu Pak,"
"Boy?! jangan membuat saya marah ya, atau pekerjaanmu aku tambah, mau?!" Beby Alesha akhirnya mengalah.
Office boy itu meminta izin untuk mencuci tangannya dan ikut makan bersama dengan sang pimpinan yang tak lain adalah suaminya sendiri.
"Gimana makannya? enak?" tanya Erick saat melihat Beby Alesha makan dengan lahap.
Pria itu tahu betul kalau istrinya ini belum sarapan makanya ia meminta Jack Andrian untuk membawa makanan buatan ibunya untuk ia makan bersama dengannya dengan alasan pekerjaan tadi.
"Enak Pak,"
"Aku akan sampaikan padanya kalau kamu memuji masakannya. Aku yakin pasti ia akan senang sekali."
Deg
Beby Alesha menatap mata elang suaminya lagi kemudian menunduk.
Ia tiba-tiba merasa sangat tidak nyaman dengan kata-kata Erick barusan. Tapi ia berusaha menepisnya.
*Tobe continued
__ADS_1
Hai readers tersayangnya othor mohon dukungannya untuk karya receh ini ya gaess dengan cara klik like ketik komentar dan kirim hadiahnya yang super banyak agar semangat updatenya, okey?
Nikmati alurnya dan happy reading 😍😍😍😍😍